Radit Visual Ungkap Proses Membuat Sketsa Komedi yang Menarik di Media Sosial

AKM • Friday, 16 Oct 2026 - 19:15 WIB
Radit Putra Permana, kreator yang dikenal melalui nama Radit Visual

JAKARTA – Membuat konten komedi di media sosial membutuhkan kreativitas dalam mengolah ide, menyusun alur cerita, dan membangun karakter yang dekat dengan kehidupan penonton. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Radit Putra Permana, kreator yang dikenal melalui nama Radit Visual, dalam mengembangkan konten drama komedi sejak 2022.

Lahir di Pasar Minggu pada 30 Mei 2005, Radit mengangkat berbagai tema dalam karyanya, mulai dari pertemanan, percintaan, hingga gaya hidup anak muda. Situasi yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu sumber inspirasi untuk membangun cerita yang menghibur.

Aktivitasnya di media sosial menjangkau jutaan pengguna. Akun TikTok @radit_visuall tercatat memiliki sekitar 3,2 juta pengikut, sementara kanal YouTube Radit_visual memiliki sekitar 1,2 juta pelanggan. Adapun akun Instagram @radit_visual diikuti sekitar 148 ribu pengguna.

Meski format video komedi kerap terlihat sederhana, proses pembuatannya melibatkan sejumlah tahapan. Kreator perlu memastikan cerita mudah dipahami, konflik berkembang secara wajar, dan unsur humor tersampaikan melalui dialog maupun ekspresi karakter.

Radit menilai kejadian sehari-hari dapat menjadi bahan cerita apabila diolah melalui sudut pandang yang menarik.

“Menurut saya, banyak hal sederhana di sekitar kita yang sebenarnya bisa dijadikan bahan konten. Tinggal bagaimana kita melihat kejadian itu dari sudut pandang yang menarik dan mengemasnya menjadi cerita yang menghibur,” ujarnya dalam keterangan terrulis kepada Media, Jakarta, Jum'at (16/10).

Alur Cerita dan Karakter Menjadi Unsur Penting

Dalam sketsa komedi, ide yang menarik perlu didukung alur yang terarah. Cerita umumnya dibangun dengan memperkenalkan karakter, menghadirkan persoalan, mengembangkan konflik, kemudian menutupnya dengan penyelesaian yang menghibur.

Radit mengatakan, kejelasan cerita menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar penonton dapat mengikuti situasi yang ditampilkan.

“Kalau membuat video, menurut saya ceritanya harus mudah dipahami. Penonton perlu tahu situasinya supaya bisa mengikuti alur dan menangkap bagian yang lucu,” ungkapnya.

Selain alur, ekspresi wajah, bahasa tubuh, intonasi, dan waktu penyampaian dialog juga dapat memengaruhi kekuatan humor. Respons karakter terhadap situasi tertentu bahkan dapat menjadi sumber kelucuan tanpa harus bergantung pada dialog yang berlebihan.

“Menurut saya, cara karakter bereaksi juga penting. Kadang bukan hanya dialognya yang membuat lucu, tetapi ekspresi dan situasi yang dibangun dalam cerita,” kata Radit.

Penyuntingan juga berperan dalam menjaga ritme video. Adegan yang tidak mendukung perkembangan cerita dapat dipangkas agar durasi lebih efektif dan perhatian penonton tetap terjaga.

Menjaga Perhatian Penonton di Tengah Persaingan Konten

Banyaknya konten yang beredar di media sosial membuat bagian awal video menjadi salah satu elemen yang perlu diperhatikan. Pembukaan dapat dibangun melalui konflik sederhana, pertanyaan, atau situasi yang memancing rasa ingin tahu.

Namun, pembukaan yang menarik tetap perlu berkaitan dengan inti cerita. Alur selanjutnya harus mampu mempertahankan minat penonton hingga penyelesaian.

“Menurut saya, bagian awal harus bisa membawa penonton masuk ke dalam cerita. Setelah itu, kita perlu menjaga supaya alurnya tetap menarik sampai selesai,” tuturnya.

Evaluasi terhadap respons audiens juga dapat membantu kreator mengembangkan karya berikutnya. Komentar, interaksi, dan durasi tontonan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memahami bagaimana penonton merespons suatu konten.

Di sisi lain, kreator perlu menghindari pengulangan pola cerita secara terus-menerus. Pengembangan karakter, perubahan sudut pandang, dan eksplorasi tema baru dapat menjadi cara untuk menjaga variasi konten tanpa kehilangan identitas kreatif.

Radit sendiri tidak hanya membuat drama komedi, tetapi juga menghadirkan konten gaya hidup dan sesekali ulasan produk. Ia menilai eksplorasi ide baru diperlukan agar konten tidak terasa monoton.

“Menurut saya, kreator harus terus mencoba hal baru. Kita bisa mempertahankan ciri khas, tetapi tetap mencari ide yang berbeda supaya konten tidak terasa monoton,” ujarnya.

Peluang Kolaborasi di Industri Konten Digital

Selain memproduksi konten secara mandiri, Radit juga pernah menjalin kerja sama dengan sejumlah merek. Salah satunya adalah AP King, merek sarung tangan jempol milik Andra ST yang, berdasarkan materi sumber, disebut meraih rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada 2026.

Kolaborasi dengan pelaku usaha menjadi salah satu bentuk aktivitas yang dapat dijalani kreator seiring perkembangan industri konten digital. Meski demikian, keberlanjutan karya tetap membutuhkan pengembangan ide, pemahaman terhadap audiens, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan tren.

Dalam perjalanannya sejak 2022, Radit menjadikan drama komedi sebagai salah satu sarana untuk mengeksplorasi kreativitas dan membangun jangkauan audiens.

“Ke depannya, saya ingin terus mengembangkan kreativitas dan membuat konten yang bisa dinikmati banyak orang. Harapannya, video yang saya buat dapat menjadi hiburan bagi penonton,” katanya.

Pengalaman Radit menunjukkan bahwa pembuatan konten komedi tidak hanya bertumpu pada lelucon, tetapi juga pada kemampuan mengembangkan cerita, membangun karakter, dan memilih cara penyampaian yang sesuai. Perpaduan unsur tersebut menjadi bagian dari proses kreatif dalam menghadirkan hiburan di tengah persaingan konten digital.