
JAKARTA – Pasar kemasan Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5–6 persen pada 2026, seiring meningkatnya kebutuhan dari sektor perdagangan elektronik atau e-commerce serta program pangan nasional. Pertumbuhan tersebut turut meningkatkan tuntutan terhadap industri untuk memperkuat efisiensi produksi, inovasi material, dan pengelolaan limbah.
Proyeksi Indonesian Packaging Federation (IPF) itu menunjukkan bahwa kebutuhan kemasan masih berpotensi meningkat, terutama untuk produk makanan dan minuman. Selain menjaga kualitas dan keamanan produk, kemasan juga berperan dalam mendukung proses penyimpanan, distribusi, serta pengiriman barang kepada konsumen.
Namun, peningkatan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan industri menghadapi tantangan teknologi dan lingkungan. Pelaku usaha dituntut mengembangkan proses produksi yang efisien sekaligus menyesuaikan penggunaan material dengan kebutuhan pasar dan ketentuan yang berlaku.
Business Development Director IPF, Ariana Susanti, mengatakan kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk meningkatkan daya saing industri pengemasan nasional.
“Kolaborasi antar pemangku kepentingan, inovasi material, efisiensi sumber daya, digitalisasi, dan teknologi baru menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan,” ujar Ariana dalam konferensi pers ALLPack Indonesia 2026.
Menurut IPF, perkembangan perdagangan elektronik meningkatkan kebutuhan kemasan untuk pengiriman barang, sementara industri makanan dan minuman membutuhkan kemasan yang dapat menjaga mutu produk selama penyimpanan maupun distribusi.
Di sisi lain, persoalan penggunaan sumber daya dan limbah kemasan masih menjadi perhatian. Pengembangan material dan teknologi perlu mempertimbangkan fungsi kemasan, keamanan produk, efisiensi biaya, serta dampaknya terhadap lingkungan.
IPF menyatakan upaya penguatan industri dilakukan melalui edukasi, pengembangan teknologi, perluasan jejaring bisnis, serta peningkatan pemahaman terhadap standar dan regulasi.
Pameran Jadi Forum Pertemuan Pelaku Industri
Sejumlah isu tersebut dijadwalkan menjadi bagian dari pembahasan dalam ALLPack Indonesia 2026 yang akan berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.
Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-25 itu direncanakan diikuti lebih dari 1.600 peserta dari 42 negara, termasuk 10 pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Penyelenggara juga menargetkan kehadiran lebih dari 90.000 pengunjung bisnis dari lebih dari 30 negara.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan jumlah peserta tahun ini meningkat 15 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Ia menilai perkembangan tersebut mencerminkan minat pelaku usaha terhadap pasar pengolahan dan pengemasan di Indonesia.
“Memasuki penyelenggaraan ke-25, ALLPack Indonesia terus berkembang menjadi platform yang mempertemukan pelaku industri, produsen teknologi, distributor, buyer, serta berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri,” kata Daud.
Pameran tersebut dijadwalkan mencakup sejumlah sektor terkait, mulai dari pengolahan makanan dan minuman, farmasi, plastik, daur ulang, pertanian, hingga logistik dan rantai pendingin. Beberapa pameran yang diselenggarakan bersamaan antara lain ALLPlas, ALLProcess, ALL Beverage Technology, IPEX, FoodTech Indonesia, ALL Cold Chain, Indonesia Maritime & Logistics Expo, dan ALL Agri Expo.
Selain mempertemukan perusahaan dan calon mitra bisnis, agenda kegiatan mencakup program business matching untuk sektor farmasi, makanan dan minuman, plastik dan daur ulang, serta suplemen kesehatan. Penyelenggara juga menjadwalkan penjajakan pasar ekspor ke China dan kerja sama bisnis dengan perusahaan Italia.
Bahas Investasi, Regulasi, dan Pengelolaan Limbah
Agenda lain yang direncanakan ialah seminar bertema Investment Opportunities and Incentives in Indonesia in the Packaging Industry. Kegiatan tersebut melibatkan IPF dan Asian Packaging Federation (APF), bersama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Penyelenggara juga merencanakan lebih dari 55 seminar dan diskusi yang membahas perkembangan teknologi, regulasi, keberlanjutan, serta tantangan industri. Topik yang diangkat antara lain tren teknologi pengemasan, daur ulang plastik, perkembangan industri plastik dan biofarmasi, serta penyelarasan kewajiban lingkungan dengan daya saing industri makanan dan minuman.
ALLPack Indonesia 2026 dijadwalkan mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Dengan proyeksi pertumbuhan pasar 5–6 persen pada 2026, industri kemasan menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan peningkatan produksi dengan efisiensi, inovasi, dan pengelolaan dampak lingkungan. Kemampuan memenuhi kebutuhan pasar sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan regulasi akan menjadi salah satu faktor yang menentukan daya saing industri nasional.