Konferensi Internasional Redea Institute Menegaskan Peran Sekolah sebagai GardaKeberlanjutan dan Masa Depan

ANP • Friday, 9 Oct 2026 - 22:50 WIB

Jakarta — Redea Institute (dahulu HighScope Indonesia Institute) menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis bukan hanya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan, tetapi juga dalam membangun dunia yang berkelanjutan, tangguh, dan sejahtera. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika lingkungan serta sosial, pendidikan dituntut untuk melahirkan generasi yang inovatif, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap sesama maupun lingkungan.

Menjawab tantangan tersebut, Redea Institute, yang menaungi jaringan EcoSocioTech (EST) School (dahulu Sekolah HighScope Indonesia), menyelenggarakan Redea International Conference ke-16 pada 8–9 Oktober 2026. Mengusung tema “Guardians of the Future: Sustainably Impactful and Future-Driven School”, konferensi ini menghadirkan pakar nasional dan internasional untuk membahas transformasi sekolah menuju ekosistem pembelajaran yang berorientasi pada keberlanjutan, inovasi, dan kesejahteraan manusia.

Pembicara internasional yang hadir antara lain Aaron Eisberg dari Friends of New Tech (FONT), Napa, California; Richard Cash; dan Ken Moore. Konferensi ini juga menghadirkan perwakilan pemerintah dan praktisi pendidikan untuk memperkaya dialog mengenai tantangan serta peluang dalam membangun pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Dalam pidato pembukaannya, Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Sebagai pendidik, kita adalah penjaga rasa ingin tahu dan sisi kemanusiaan peserta didik. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa seiring berkembangnya teknologi, sekolah tetap berlandaskan pada visi keberlanjutan yang mendalam, sebuah ekosistem di mana pengambilan keputusan berbasis bukti, pengembangan guru yang berkelanjutan, dan agensi siswa saling memperkuat keunggulan akademik serta kesejahteraan manusia,” ujar Antarina. “Sekolah yang berkelanjutan adalah ekosistem hidup yang terus belajar, beradaptasi, dan berkembang agar teknologi memiliki tujuan jelas: membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan berempati.”

Perspektif lingkungan hidup turut disampaikan oleh Dr. Edward Nixon Pakpahan, ST, M.Sc, Ph.D., Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, yang menjadi pembicara utama pada sesi pembukaan. “Memperbaiki lingkungan hidup adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda. Sebagaimana amanat UUD 1945 Pasal 28 H ayat (1), setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat..., oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Redea Institute mendorong integrasi kepedulian lingkungan ke dalam kurikulum, budaya, operasional, dan tata kelola sekolah. Keberlanjutan dipandang secara menyeluruh, mencakup kepemimpinan etis, pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab, ketahanan organisasi, serta pemberdayaan peserta didik.

Sebagai pembicara penutup, konferensi ini menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang melengkapi rangkaian diskusi mengenai masa depan pendidikan, sains, dan teknologi. Dalam pemaparannya, ia membeberkan data dari OECD (2026) yang menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan AI setiap hari atau hampir setiap hari memiliki rata-rata skor sains paling rendah dibandingkan siswa yang tidak pernah atau hampir tidak pernah menggunakan AI.Menurut Stella, jika hanya AI yang memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, manusia akan kehilangan proses belajar. Padahal, data World Economic Forum (2025) menyebutkan bahwa agilitas, pembelajaran yang konsisten, dan kreativitas merupakan keahlian utama yang paling dibutuhkan pada 2030. “Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan oleh AI. Kita harus mampu mengevaluasi hasil dari AI secara kritis,” tegasnya.

Selain sesi utama, konferensi menampilkan Learning Heroes, yaitu sesi berbagi praktik baik oleh pendidik dari jaringan EST School. Guru-guru terpilih dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA mempresentasikan strategi pembelajaran inovatif dan hasil riset aksi di kelas. Inisiatif ini mencerminkan komitmen Redea Institute dalam memperkuat kompetensi pendidik dan mendorong kolaborasi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, bermakna, dan berdampak nyata.

Melalui Redea International Conference ke-16, Redea Institute menegaskan komitmennya untuk mendorong sekolah menjadi ekosistem yang terus belajar dan beradaptasi, sekaligus membentuk generasi yang mampu berkontribusi secara nyata bagi keberlanjutan manusia dan lingkungan.