Dukung Prabowo Tanpa Cawapres, Golkar Dinilai Jaga Peluang Gibran di Pilpres 2029

MUS • Friday, 9 Oct 2026 - 18:04 WIB

Jakarta — Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang menyebut Pemilu masih jauh dan sikap Partai Golkar yang menetapkan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada 2029 menunjukkan bahwa konfigurasi politik menuju Pilpres 2029 belum ingin dikunci terlalu dini.

Menurut Arifki, pernyataan Wakil Ketua Umum Golkar, Ahmad Doli Kurnia yang menegaskan dukungan kepada Prabowo, tetapi belum menentukan calon wakil presiden, memiliki dua pesan politik sekaligus: menegaskan loyalitas kepada Prabowo dan tetap membuka ruang bagi Gibran Rakabuming Raka.

“Golkar mengunci Prabowo, tetapi belum mengunci cawapres. Sementara Jokowi memilih mengingatkan bahwa Pemilu masih jauh. Ini menunjukkan bahwa ruang politik menuju 2029 masih terbuka,” ujar Arifki.

Ia menilai Golkar memiliki kepentingan untuk menunjukkan sikap tegak lurus kepada Prabowo. Sebagai partai dengan beragam kekuatan dan kepentingan internal, Golkar perlu menjaga konsistensi sikap agar tidak terkesan membangun alternatif kepemimpinan di luar presiden yang sedang menjabat.

“Golkar bukan partai dengan satu pemilik saham mayoritas yang bisa menentukan seluruh arah politik secara sepihak. Karena itu, terlalu berisiko jika Golkar terkesan tidak tegak lurus dengan Prabowo. Namun, dukungan kepada Prabowo sebagai capres tidak otomatis menutup peluang Gibran,” katanya.

BACA JUGA: Tindaklanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran, Anggota DPR Edo Usulkan Pembentukan Pansus

Arifki juga melihat dinamika mengenai kemungkinan merenggangnya hubungan Jokowi dan Prabowo sebagai konteks penting untuk membaca kalkulasi politik kedua pihak. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perbedaan penekanan dalam pernyataan publik belum cukup untuk menyimpulkan adanya keretakan hubungan di antara keduanya.

“Saya melihat ada kemungkinan Golkar dan Jokowi sedang bergerak tanpa bola. Mereka menjaga ruang manuver, membaca perkembangan politik, dan tidak ingin terlalu dini mengunci pilihan. Golkar menegaskan loyalitas kepada Prabowo, sementara peluang Gibran tetap terbuka,” ujarnya.

Menurut Arifki, sikap Jokowi yang tidak secara eksplisit memastikan pasangan Prabowo-Gibran untuk dua periode tidak otomatis berarti dukungannya terhadap Gibran berubah. Demikian pula, keputusan Golkar yang belum menentukan cawapres tidak berarti Gibran telah tersingkir dari kalkulasi politik.

“Pesan politiknya kita baca: Prabowo sudah mendapat penegasan dukungan dari Golkar, tetapi siapa pendampingnya masih terbuka. Loyalitas kepada Prabowo ditegaskan, sedangkan ruang politik bagi Gibran tetap dipertahankan,” kata Arifki.

Ia menambahkan, pembicaraan mengenai Pilpres 2029 pada akhirnya akan dipengaruhi oleh kinerja pemerintahan, dinamika koalisi, dan kesepakatan politik menjelang pemilihan.

“Pilpres memang masih jauh, tetapi kalkulasi politik sudah mulai berjalan. Yang menarik bukan hanya siapa mendukung siapa, melainkan bagaimana para elite menjaga posisi tanpa terlalu dini mempertaruhkan seluruh pilihan politiknya,” tutup Arifki.