FILM The Social Reckoning, Ketika Jurnalis dan Ordal Coba Bongkar Kejahatan Platform

MUS • Friday, 9 Oct 2026 - 09:07 WIB

Genre: Drama, Political Biography
Sutradara dan Penulis: Aaron Sorkin 
Pemeran: Mikey Madison, Jeremy Allen White, Jeremy Strong
Durasi: Hampir 2 jam
Distributor: Sony Pictures Indonesia
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 9 Oktober 2026

Dalam opini mnctrijaya.com, The Social Reckoning berhasil menggaungkan salah satu pesan moral paling krusial, sekaligus tamparan keras bagi kita semua, yaitu media sosial termasuk Facebook, sesungguhnya tak menjalankan misi mulia. Facebook telah membajak narasi demokrasi untuk membenarkan pembiaran kejahatan digital.

Secara filosofis dan historis, konsep demokrasi, kebebasan berbicara (freedom of speech), dan sensor minimum, sebenarnya dirancang eksklusif untuk sistem pemerintahan. Mekanisme ini diciptakan agar penguasa negara tidak bertindak tirani terhadap rakyatnya. Namun, platform seperti Facebook dengan cerdik memelintir konsep ini sebagai perisai hukum. 

Ketika mereka membiarkan ujaran kebencian, perundungan siber yang merusak mental anak-anak, hingga penyebaran hoaks yang memicu konflik fisik; mereka bersembunyi di balik kalimat yang terdengar begitu mulia: "Menjaga iklim demokrasi yang bebas." 

Padahal, Facebook bukanlah sebuah negara; mereka adalah perusahaan swasta yang secara naluriah ingin terus mengeruk laba. Menggunakan alasan "demokrasi" untuk membiarkan tindakan kriminal dan konten beracun di platform, demi menjaga metrik keterlibatan pengguna (engagement), berujung pada pundi-pundi iklan. 

Hal itu terasa sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab moral. Kebebasan berbicara tidak pernah berarti kebebasan dari konsekuensi, dan demokrasi tidak boleh dijadikan kedok untuk memonetisasi kekacauan sosial.

Di sisi lain, The Social Reckoning memberi panggung "perang" antara media konvensional dan raksasa teknologi, sehingga publik juga harus tetap kritis dan tidak naif. Kita perlu melontarkan pertanyaan yang tidak nyaman: Apakah investigasi bombastis seperti "The Facebook Files" murni lahir dari kesadaran moral jurnalisme, atau ada motif persaingan bisnis yang terselubung?

Bukan rahasia lagi, kehadiran raksasa teknologi seperti Meta telah meremukkan model bisnis media konvensional (termasuk institusi besar seperti The Wall Street Journal). Miliaran dolar kue iklan yang dulunya menghidupi ruang redaksi, kini berpindah total ke algoritma Silicon Valley. 

Media konvensional menjadi terpinggirkan, kehilangan pembaca, dan terpaksa tunduk pada aturan distribusi yang ditentukan oleh platform teknologi tersebut. Ada keraguan yang valid terhadap kerja jurnalistik di sini. Apakah semangat berapi-api media konvensional dalam menelanjangi keburukan Facebook juga dipicu oleh kecemburuan industri yang terancam punah? 

Ketika media tradisional membingkai raksasa teknologi sebagai "monster penghancur peradaban", sulit untuk tidak melihat adanya upaya defensif untuk merebut kembali kendali atas narasi publik. Kemudian yang terpenting, merebut kembali dominasi pasar iklan yang hilang. 

Jurnalisme investigasi ini memang penting, tetapi penonton juga diajak waspada agar pers tidak sekadar menjadi senjata dalam perang dagang. Itulah elemen menarik dalam The Social Reckoning.

Cerita berpusat pada Jeff Horwitz (Jeremy Allen White), seorang jurnalis teknologi yang ironisnya gaptek, untuk The Wall Street Journal. Namun, ia begitu penasaran dengan kerja Facebook yang dinilai keterlaluan menguasai penggunanya. 

Horwitz terlempar ke dalam skandal terbesar abad ini saat menerima pesan misterius dari Frances Haugen (Mikey Madison), seorang engineer tingkat menengah di Facebook.

Sebagai orang yang awalnya memercayai idealisme Facebook, Frances memilih mendobrak budaya bungkam korporatnya. Ia menyadari fakta mengerikan: demi mengejar keuntungan, Facebook sengaja mengarahkan algoritma mereka ke jalan berbahaya.

Facebook dianggap merusak mental anak-anak, mengorbankan kesehatan jiwa, hingga mengoyak fondasi demokrasi itu sendiri. Saling mendorong hingga batas kemampuan, Jeff dan Frances mempertaruhkan segalanya untuk menyusun jutaan dokumen rahasia menjadi investigasi monumental: “The Facebook Files.”

The Social Reckoning membongkar ilusi terbesar abad modern. Di masa awal, media sosial memosisikan diri sebagai wadah netral seperti alun-alun kota. Namun, semua berubah ketika algoritma menjadi raja.

Jauh dari kata netral, algoritma ini tumbuh menjadi mesin yang memanipulasi emosi manusia. Dengan memprioritaskan konten yang memicu kemarahan (outrage) dan kebencian, sistem ini sengaja memuntahkan misinformasi massal agar pengguna terus membagikan (resharing) konten demi mendongkrak pundi-pundi iklan korporasi.

Dikemas dengan dialog cepat, film ini bergerak intens dari ruang redaksi hingga ruang sidang Kongres. Menariknya, sutradara sekaligus penulis Aaron Sorkin tidak fokus pada politik partisan kubu merah atau biru, melainkan pada masalah kemanusiaan yang kita hadapi bersama.

Didukung performa luar biasa Jeremy Strong yang memerankan Mark Zuckerberg—bukan lagi sebagai pemuda jenius yang kikuk, melainkan sebagai pria yang dikonfrontasi oleh kedahsyatan kekuatan absolut di tangannya—The Social Reckoning menjadi cermin retak dari zaman kita sekarang.

Thriller investigasi tersebut wajib ditonton tentang sepasang manusia biasa yang nekat melawan raksasa teknologi demi menyelamatkan peradaban.