
Bekasi – Sebuah teknologi mungkin terlihat berhasil ketika perangkatnya menyala dan sistemnya bekerja. Namun, bagi masyarakat yang menjadi penerima manfaat, ukuran keberhasilannya bisa jauh lebih sederhana, apakah teknologi tersebut benar-benar membantu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi?
Pertanyaan itu menjadi bagian dari pesan Rushali Thakkar selaku Senior Member IEEE sekaligus perwakilan EPICS in IEEE, saat memberikan keynote speech dalam rangkaian IEEE YESIST12 2026 di BSI Convention Center, Bekasi, Sabtu (3/10). Ajang internasional tersebut dituanrumahi Universitas Nusa Mandiri (UNM) dengan mengusung tema “Age of Innovation”.
Dalam paparannya, Rushali memperkenalkan Engineering Projects in Community Service atau EPICS in IEEE, sebuah program hibah di bawah IEEE Educational Activities Board (EAB) yang dirancang untuk mendukung konsep service-learning.
Program yang didirikan sejak 2009 tersebut mengadopsi model EPICS dari Purdue University. Konsepnya mempertemukan mahasiswa dan anggota IEEE untuk merancang sekaligus menerapkan solusi berbasis rekayasa teknologi bersama organisasi masyarakat lokal.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana membuat teknologi bekerja. Mereka juga diajak memahami masalah dari pihak yang akan menggunakan teknologi tersebut.
“EPICS in IEEE berfokus pada empat pilar utama, yaitu Pendidikan (Education & Outreach), Akses & Kemampuan (Access & Abilities), Lingkungan (Environment), dan Layanan Kemanusiaan (Human Services)," ujar Rushali, Sabtu (3/10).
*Ketika Ilmu Teknik Bertemu Kebutuhan Warga*
Skala EPICS in IEEE menunjukkan bahwa pendekatan tersebut telah berkembang menjadi jejaring global. Sepanjang 2009 hingga 2025, program ini telah mendanai 303 proyek dengan nilai hibah lebih dari US$1,6 juta.
Program tersebut melibatkan lebih dari 13.000 mahasiswa dan 1.600 relawan, dengan perkiraan penerima manfaat mencapai lebih dari 1,67 juta orang di seluruh dunia. Asia menjadi wilayah dengan kontribusi proyek terbesar, yakni sekitar 39 persen dari keseluruhan proyek global.
Bagi Rushali, mahasiswa memiliki posisi penting dalam ekosistem tersebut. Mereka tidak hanya membawa pengetahuan teknik yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga belajar menghadapi persoalan yang memiliki konteks sosial dan kebutuhan pengguna yang nyata.
Pengalaman tersebut sekaligus melatih kemampuan yang tidak selalu diperoleh dari perkuliahan teknis, seperti manajemen proyek, kepemimpinan, kerja sama tim, dan komunikasi.
Sejumlah proyek dari Indonesia menjadi contoh bagaimana pendekatan tersebut diterapkan. Salah satunya adalah penerapan teknologi Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT) untie budidaya buah salak di Sleman yang dikembangkan Universitas Multimedia Nusantara.
Contoh lainnya datang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui proyek konservasi air bersih dan oksigen berbasis IoT serta PV-RO di Pulau Gili Genting.
Dua contoh tersebut memperlihatkan bahwa persoalan teknologi tidak selalu berada di pusat kota atau industri besar. Kebutuhan terhadap solusi rekayasa juga hadir di lingkungan pertanian, wilayah kepulauan, dan komunitas yang memiliki tantangan spesifik.
*Mulai dari Mendengarkan, Bukan Langsung Membuat*
Rushali juga membagikan langkah yang dapat digunakan mahasiswa ketika ingin mengembangkan proyek melalui EPICS in IEEE.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi masalah dengan berkolaborasi dan mendengarkan secara langsung kebutuhan organisasi masyarakat. Setelah itu, mahasiswa perlu membangun hubungan dengan menentukan penanggung jawab dari pihak mitra yang dapat menjadi mentor selama proyek berlangsung.
Tahap berikutnya adalah menentukan ruang lingkup proyek. Mahasiswa perlu menyusun target, kebutuhan desain, serta menyesuaikannya dengan kemampuan dan keahlian tim yang tersedia.
Urutan tersebut memberikan pesan penting bagi calon inovator. Sebelum bertanya teknologi apa yang bisa dibuat, mereka perlu memahami terlebih dahulu masalah apa yang sedang dihadapi masyarakat.
Setelah persoalan dipahami, barulah kemampuan teknik, kreativitas, dan teknologi dapat diarahkan untuk mencari solusi yang relevan.
*Ada Hibah, Ada Tanggung Jawab*
Di akhir sesi, Rushali mengajak mahasiswa dan akademisi memanfaatkan kesempatan pendanaan yang tersedia melalui EPICS in IEEE. Nilai hibah yang ditawarkan berada pada kisaran US$1.000 hingga US$10.000 untuk setiap proyek.
Ia juga memperkenalkan kursus pelatihan proyek EPICS in IEEE yang baru diluncurkan. Pelatihan tersebut dapat membantu calon pengusul memahami proses pengembangan proposal sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam mengajukan proyek.
Bagi peserta YESIST12 2026, kesempatan tersebut membuka kemungkinan bahwa perjalanan sebuah gagasan tidak harus berakhir setelah kompetisi selesai. Sebuah ide yang lahir dari proyek mahasiswa masih dapat berkembang menjadi kegiatan pengabdian, penelitian terapan, atau solusi yang benar-benar digunakan komunitas.