
Genre: Komedi satir
Sutradara: Alejandro G. Iñárritu
Pemeran: Tom Cruise, Sandra Hüller, Riz Ahmed
Durasi: 2 jam 9 menit
Distributor: Warner Bros. Indonesia
Mulai tayang di bioskop Indonesia termasuk IMAX: 2 Oktober 2026
Salahkah ketika politisi bisa begitu dekat dengan para pengusaha? Dan sebaliknya, kenapa pengusaha bisa menjadi kaya raya, terutama ketika memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan? Apakah hubungan itu hanya soal kepentingan bisnis, atau ada pertukaran pengaruh yang jauh lebih kompleks di baliknya?
Pertanyaan semacam ini terasa relevan saat menonton Digger. Karya sutradara Alejandro González Iñárritu ini, memang dikemas sebagai komedi satir, tetapi di balik kelucuan dan absurditasnya, terdapat kritik kental terhadap keserakahan manusia dan kehancuran lingkungan.
Digger Rockwell, diperankan oleh Tom Cruise, raja minyak berusia lanjut yang berpengaruh kuat secara politik. Ia memiliki ladang minyak di Greenland yang menghasilkan ribuan barel minyak setiap hari. Ketika terjadi kebocoran metana dan rangkaian bencana lingkungan mulai terjadi, Rockwell mencoba menawarkan solusi sesat kepada penguasa.
Kita seperti diajak melihat sosok pemimpin kolot, kuno, gemar berpidato, narsis, tak percaya krisis iklim, padahal berada di tengah krisis, tetapi tetap dikelilingi kepentingan politik, dan orang-orang yang memiliki kekuatan ekonomi. Di sisi lain, ada pengusaha kaya raya yang begitu dekat dengan pusat kekuasaan dan seolah memiliki akses untuk ikut menentukan arah kebijakan.
Di sinilah satir terasa relevan dengan realitas politik, tanpa harus menganggap karakter-karakternya sebagai representasi satu tokoh tertentu. Namun sindirannya bisa terasa lebih kuat di mana saja, tak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di berbagai belahan dunia termasuk kondisi dalam negeri kita.
Kita juga bisa mengaitkan Digger dengan hubungan antara pengusaha, penguasa, eksploitasi sumber daya alam, dan kepentingan jangka pendek. Apa yang terjadi ketika keuntungan hari ini dianggap jauh lebih penting daripada dampaknya terhadap lingkungan puluhan tahun ke depan?
Rockwell menjadi gambaran ekstrem dari persoalan tersebut. Ia membangun kekayaan dari industri minyak, sementara konsekuensi ekologis dari eksploitasi itu perlahan kembali menghantam manusia. Ironinya, ketika bencana terjadi, orang yang berada di pusat masalah justru berusaha tampil sebagai orang yang dapat menyelamatkan keadaan.
Bahkan, ada lapisan sindiran lain: seberapa jauh seorang pemimpin akan memikirkan masa depan rakyatnya, ketika kepentingan politik hari ini, jauh lebih terasa mendesak? Kemudian, seberapa jauh seorang pebisnis akan memikirkan keberlanjutan ketika keuntungan dari eksploitasi alam, masih terus mengalir?
Digger tidak sekadar berbicara tentang perusakan alam atau bencana lingkungan, melainkan juga menyentuh persoalan yang lebih besar: ketika uang dan kekuasaan berada terlalu dekat, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab ketika semuanya menjadi berantakan. Yang pasti, masyarakat awam akan menjadi korbannya.
Menurut opini mnctrijaya.com, justru lapisan tersebut membuat Digger menarik bagi penonton penyuka sindiran politik dan komedi satir. Film ini tidak hanya mengajak kita tertawa melihat tingkah para karakter yang absurd, tetapi juga membuat kita bertanya apakah absurditas tersebut benar-benar sejauh itu dari kenyataan.
Penonton juga akan terkagum dengan Tom Cruise yang tampil jauh dari biasanya. Bukan sebagai agen rahasia atau pahlawan tegap yang selalu datang untuk menyelamatkan dunia, tetapi sebagai taipan minyak eksentrik kaya raya, egois, berpengaruh, dekatan dengan kekuasaan, serta menggemari kucing.
Seiring serunya menyaksikan Tom yang tetap tampil secara total, Digger menghadirkan pertanyaan cukup menggelitik: ketika seorang pengusaha memiliki akses kepada penguasa, sementara penguasa membutuhkan kekuatan pengusaha, seberapa buruk dampaknya bagi orang biasa secara umum?