
JAKARTA — Profesi pustakawan dituntut tak sekadar piawai mengelola koleksi dan layanan perpustakaan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi, membangun kolaborasi, mendukung riset, serta memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Hal itu menjadi salah satu sorotan menjelang Rapat Kerja Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia (Rakernas IPI) 2026 yang akan digelar pada 6–8 Oktober 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Rakernas mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak.”
Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional RI sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat IPI, Joko Santoso, menegaskan perubahan kebutuhan masyarakat menuntut pustakawan terus meningkatkan kompetensinya.
“Pustakawan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga relevan,” ujar Joko dalam jumpa persnya di Perpusnas, Rabu (30/9/2026)
Menurutnya, ukuran keberhasilan pustakawan bukan semata jumlah kegiatan atau koleksi yang dikelola. Lebih jauh, pustakawan harus mampu membantu masyarakat memperoleh informasi yang tepat, meningkatkan kecakapan literasi, mendukung pendidikan dan riset, serta membuka peluang peningkatan kualitas hidup.
*Dorong Kolaborasi Lintas Sektor*
Joko menilai persoalan literasi tidak bisa diselesaikan perpustakaan dan pustakawan sendirian. Karena itu, IPI didorong menjadi simpul kolaborasi antara Perpusnas, pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, komunitas, dunia usaha, media, hingga berbagai unsur masyarakat.
Rakernas IPI 2026 juga akan diisi sejumlah lokakarya, antara lain pengembangan kapabilitas pustakawan, pembinaan pustakawan dan SKKNI bidang perpustakaan-kepustakawanan, sertifikasi profesi pustakawan, serta sertifikasi ISO.
Selain itu, agenda Rakernas mencakup gelar wicara mengenai peran pustakawan di perguruan tinggi, perpustakaan umum, dan perpustakaan khusus. Forum juga membuka Call for Paper/Call for Best Practice untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan pengalaman pustakawan.
Pada 7 Oktober 2026, agenda utama Rakernas akan membahas pandangan Pengurus Daerah IPI se-Indonesia, sidang komisi terkait AD/ART dan program kerja, hingga pleno dan pengesahan hasil Rakernas.
Joko berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai agenda rutin organisasi, tetapi menghasilkan gagasan dan kolaborasi yang memperkuat profesi pustakawan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pustakawan harus hadir. Pustakawan harus bersinergi. Kehadiran pustakawan harus memberikan dampak. Jadi terminologi terlibat, bersinergi, berdampak menjadi satu upaya kita untuk terus mengaktualisasikan kerja-kerja kepustakawanan yang memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat," tutupnya.