
Jakarta – Pemerintah kembali mendorong percepatan implementasi sistem pembayaran jalan tol nirsentuh tanpa henti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) berbasis Global Navigation Satellite System (GNSS). Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan uji coba tahap kedua akan dilakukan dengan cakupan yang lebih luas melalui skema setengah komersial.
Langkah tersebut menjadi bagian dari proses pemerintah untuk memastikan teknologi MLFF dapat diterapkan secara andal sebelum masuk ke tahap komersialisasi penuh. Pengujian lanjutan juga membuka ruang bagi pengembangan investasi dan teknologi yang telah ditanamkan pengembang sistem, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS).
Menteri PU, Dody Hanggodo mengatakan pemerintah akan melakukan pengujian secara hati-hati untuk memastikan teknologi yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi Indonesia.
“Secara jujur kita harus kaji, apakah MLFF ini memang bagus dan sesuai dengan kondisi kita. Tugas saya mempercepat agar prosesnya jelas dan tidak mengambang terlalu lama,” ujar Dody, dalam keterangan tertulis Senin (28/9/2026).
Pada uji coba tahap kedua, pemerintah akan meningkatkan skala pengujian dengan melibatkan volume kendaraan dan berbagai pemangku kepentingan. Sejumlah instansi yang direncanakan terlibat antara lain kepolisian, pengelola Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Kejaksaan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Pengujian akan kembali dilakukan di Jalan Tol Bali Mandara dengan skema “setengah komersial”. Skema ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai kesiapan sistem ketika diterapkan dalam skala yang lebih besar.
BACA JUGA: Jalan Tol Berlubang, Komisi V DPR Desak Rampungkan Perbaikan Sebelum Mudik
“Sekarang tantangannya melibatkan banyak orang dan instansi. Kita mau tes beneran dalam skala setengah komersial. Nanti dari situ baru kelihatan apakah teknologi ini benar-benar siap atau tidak,” kata Dody.
Investasi Besar Roatex
Di tengah proses evaluasi tersebut, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) disebut telah mengucurkan investasi hingga Rp4 triliun untuk pengembangan sistem MLFF di Indonesia.
Besarnya investasi tersebut menunjukkan skala komitmen pengembangan infrastruktur pembayaran tol berbasis teknologi digital yang tengah dibangun. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa setiap keputusan terkait kelanjutan proyek akan mengacu pada kelayakan teknologi dan ketentuan kontrak yang berlaku.
Dody mengatakan pemerintah akan melakukan audit secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan lanjutan terkait investasi dan implementasi MLFF.
Pemerintah juga menegaskan tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru. Evaluasi akan diarahkan untuk memastikan kepentingan publik, pengelola jalan tol, serta pihak penyedia teknologi tetap terlindungi.
Peluang Transformasi Sistem Tol
Uji coba tahap kedua menjadi momentum penting untuk menguji MLFF dalam kondisi yang semakin mendekati operasional sebenarnya. Dengan cakupan kendaraan dan instansi yang lebih luas, pemerintah dapat memperoleh basis evaluasi yang lebih komprehensif sebelum menentukan langkah menuju implementasi penuh.
Bagi pengembangan ekosistem transportasi digital nasional, pengujian tersebut juga menjadi bagian dari proses menuju sistem pembayaran jalan tol yang lebih modern dan terintegrasi.
Pemerintah menyatakan apabila sistem terbukti siap secara teknis dan memenuhi ketentuan kontrak, proses dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya. “Kalau sistemnya terbukti siap dan jujur secara teknis, baru kita bisa melangkah ke tahap berikutnya,” pungkas Dody.