SIAGA Edukasi Kesehatan Reproduksi Dalam Meningkatkan Perlindungan Anak Dari Kekerasan Seksual Di SD Katolik Marietha Tataran II

ANP • Wednesday, 23 Sep 2026 - 20:48 WIB

MINAHASA - Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Manado (UNIMA) kembali menunjukkan kepeduliannya dalam perlindungan anak dari kekerasan seksual sekaligus pemberdayaan masyarakat. Kali ini, kegiatan PKM difokuskan di SD Katolik Marietha Tataaran II Jl. Linu Kel. Tataaran Dua, Kec. Tondano Selatan, Kab, Minahasa, dengan mengangkat tema SIAGA (Siap Jaga Diri Dan Kenali Bahaya) Edukasi Kesehatan Reproduksi Dalam Meningkatkan Perlindungan Anak Dari Kekerasan Seksual.

Kegiatan PKM ini dapat terlaksana berkat hibah Bima Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2026 dari PNBP Universitas Negeri Manado Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Melalui dukungan ini, tim berhasil melaksanakan kegiatan penyuluhan Kesehatan Masyarakat khususnya di bidang Kesehatan reproduksi dengan kolaborasi Dosen dan Mahasiswa Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Unima.

Program ini dipimpin oleh Deviana Pratiwi Munthe, SST., M.Kes. dari Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat sebagai ketua tim. Ia dibantu oleh dosen program studi, Ilmu Kesehatan Masyarakat yaitu Bintang Sri Rezeki Panjaitan, SKM., M.PH. Tidak hanya melibatkan dosen, kegiatan ini juga mengikutsertakan mahasiswa, diantaranya Pascalin S.S. Maniani, Salomina Lenorce Duwiri, Frensy Caludia Legi dari Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Grace Lingga dari Program Studi Ilmu Hukum.

Menurut Deviana Pratiwi Munthe, sebagai ketua Tim, ide kegiatan ini lahir karena adanya fenomena kekerasan seksual yang marak terjadi tanpa memandang usia dan gender. Dimana salah satu dari kelompok rentan yang kerap kali menjadi korban dari kekerasan seksual adalah anak-anak. “anak perlu mendapatkan informasi yang benar dengan bahasa yang sederhana dan tidak menakutkan. Tujuannya bukan membuat anak merasa takut terhadap lingkungan, tetapi membangun keberanian, kewaspadaan, dan kemampuan untuk melindungi dirinya,”jelasnya.

Hasil analisis Tim PkM melalui uji Post-test menunjukkan bahwa edukasi Kesehatan Reproduksi SIAGA yang dilakukan memberikan peningkatan pengetahuan dan informasi kepada anak-anak tentang mengenali bagian tubuh boleh dilihat atau disentuh dan bagian tuhuh yang tidak boleh, pengertian kekesaran seksual, macam-macam kekerasan seksual, cara melindungi diri dan menghindarkan diri dari bentuk-bentuk risiko dan kejadian kekerasan seksual. Kegiatan ini juga memberikan penguatan kepada anak-anak bahwa mereka mampu menolak dan melawan dari kekerasan seksual yang dapat terjadi disekitarnya.

Kegiatan yang terdiri dari Penyuluhan Kesehatan Reproduksi sangat disambut antusis oleh sekolah. Ibu Douna Aguw, sebagai Kepala SD Katolik St. Marietha Tataaran 2, sangat mengapresiasi program ini. Ia menuturkan bahwa anak-anak mendapatkan pengetahuan baru dalam hal melindungi diri dari risiko kekerasan seksual. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan edukasi kesehatan reproduksi SIAGA ini. Materinya sangat penting dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak saat ini. Anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk menjaga dan melindungi dirinya,”ujarnya.

Menurut pihak sekolah, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini membuat peserta didik lebih antusias mengikuti materi. Anak-anak diberikan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan memahami materi melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Pihak sekolah juga menyampaikan ketertarikannya agar kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan cakupan peserta dan materi yang dapat dikembangkan. “Kami melihat anak-anak sangat tertarik mengikuti kegiatan. Mereka aktif menjawab pertanyaan dan berani menyampaikan pendapat. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu kali penyuluhan. Kalau memungkinkan, program ini dapat dilanjutkan secara berkala. Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam kegiatan-kegiatan edukasi yang mendukung perlindungan dan kesehatan anak,”ujarnya.

Deviana menambahkan, melalui kegiatan edukasi Kesehatan reproduksi SIAGA diharapkan menjadi salah satu langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang semakin sadar terhadap perlindungan anak. Sekolah yang aman bukan hanya sekolah yang memiliki fasilitas yang baik, tetapi juga sekolah yang mampu menciptakan lingkungan sosial yang menghargai tubuh, martabat, keamanan, dan hak setiap anak. “Melalui edukasi yang dilakukan sejak usia sekolah dasar, anak diharapkan tumbuh dengan pemahaman bahwa dirinya berharga, memiliki hak atas rasa aman, serta memiliki keberanian untuk berbicara ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai atau mengancam keselamatannya,”ujarnya.

Bagi Tim Pemberdayaan kepada Masyarakat, kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pencegahan kekerasan seksual merupakan bagian penting dari upaya promotif dan preventif dalam kesehatan masyarakat. Intervensi sejak dini melalui pendidikan kesehatan reproduksi dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat literasi kesehatan dan perlindungan diri anak.

SIAGA bukan sekadar slogan. SIAGA adalah ajakan untuk membangun keberanian anak mengenali dirinya, memahami batasan, mengenali potensi bahaya, dan mengetahui bahwa selalu ada orang dewasa yang siap mendengarkan serta melindunginya.

Unima melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat terus berkomitmen menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari solusi nyata dalam meningkatkan kesehatan dan perlindungan masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.