Perpusnas Rawat Ingatan Kolektif Bangsa, 11 Naskah Kuno Baru Ditetapkan sebagai IKON

ANP • Monday, 21 Sep 2026 - 17:29 WIB

JAKARTA — Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkuat pelestarian warisan dokumenter bangsa melalui rangkaian kegiatan “Merawat Ingatan Kolektif Bangsa”. Program ini mencakup alih wahana naskah kuno, penguatan Ingatan Kolektif Nasional (IKON) yang terhubung dengan Memory of the World (MoW) UNESCO, hingga pemberian penghargaan bagi insan dan lembaga pelestari naskah.

Kepala Perpusnas RI E. Aminudin Aziz menegaskan, pelestarian naskah tidak berhenti pada menjaga fisiknya, tetapi juga memastikan pengetahuan, pengalaman, dan nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dapat diakses generasi kini maupun mendatang.

"Merawat ingatan kolektif bangsa bukan semata-mata menjaga naskah agar tidak hilang atau rusak. Yang tidak kalah penting adalah memastikan pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai yang diwariskan melalui naskah itu dapat dibaca, dipahami, dan dimanfaatkan oleh generasi hari ini dan generasi yang akan datang. Warisan dokumenter harus kita hadirkan kembali sebagai sumber pengetahuan yang hidup," ujarnya. 

*Dari Naskah Kuno Menjadi Komik dan Bacaan Anak*

Upaya mendekatkan naskah kuno kepada generasi muda terus diperkuat. Sejak 2024, Perpusnas telah menerbitkan 125 komik dan bacaan anak berbasis naskah kuno.

Pada 2026, Perpusnas bekerja sama dengan Program Studi DKV ITB menerbitkan 50 buku anak dan komik baru. Selain itu, sebanyak 25 komik dan buku anak seri Babad Diponegoro berbahasa Inggris diterbitkan menggunakan dana hadiah Jikji/Memory of the World Prize UNESCO.

Karya tersebut akan diluncurkan pada 23 September 2026, bersamaan dengan karya alih wahana dari naskah IKON dan MoW.

Seluruh karya dapat diakses gratis melalui aplikasi iPusnas, yang kini telah digunakan lebih dari 60 ribu pembaca. Karya-karya tersebut juga didistribusikan ke perpustakaan desa, taman baca masyarakat, dan Sekolah Rakyat.

*11 Naskah Baru Masuk IKON*

Hingga 2025, Perpusnas telah menetapkan 20 naskah sebagai IKON. Sejumlah di antaranya, seperti Hikayat Aceh, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dan syair-syair Hamzah Fansuri, telah diakui dalam MoW UNESCO.

Pada 2026, sebanyak 11 naskah kuno baru kembali ditetapkan sebagai IKON.

Perpusnas juga mengusulkan dua naskah untuk MoW Asia Pasifik 2026, yakni Kidung Bhuwana Winasa dari Bali dan Bo Sangaji Kai dari Bima. Sementara untuk MoW Internasional 2027, Perpusnas mengusulkan Kakawin Sutasoma dan karya Syekh Yusuf al-Makassari.

*Penganugerahan IKON 2026*

Puncak rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 24 September 2026 di Perpusnas RI melalui Penganugerahan IKON 2026, yang dirangkaikan dengan seminar bertema “Naskah, Ingatan, dan Kolektivitas Bangsa”.

Dalam kesempatan tersebut, Perpusnas juga menyerahkan Nugra Jasa Dharma Pustaloka Kategori Pelestarian Naskah Kuno 2026 kepada pemilik naskah perorangan maupun lembaga, pegiat naskah, serta media pemerhati naskah kuno.

Selain itu, diberikan Penghargaan Pengelolaan Naskah Kuno Terbaik kepada dinas perpustakaan tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari momentum Hari Literasi Internasional (8 September) dan Hari Kunjung Perpustakaan (14 September), sekaligus menegaskan peran perpustakaan dalam menjaga ingatan kolektif sekaligus menghadirkan warisan pengetahuan bangsa agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.