
Genre: Zombie, Horor
Sutradara: Zach Cregger (Barbarian, Weapons)
Pemeran: Austin Abrams, Zach Cherry, Kali Reis
Durasi: 1,5 jam
Distributor: Sony Pictures
Mulai tayang di bioskop Indonesia termasuk IMAX: 16 September 2026
Dalam opini mnctrijaya.com, nonton Resident Evil kali ini terasa sangatlah mencekam. Selalu sukses mengingatkan kembali serunya elemen survival dari format game-nya, Resident Evil kali ini tersaji dalam cerita orisinal, tokoh baru, dan ketegangan horor, dengan tetap mempertahankan banyak unsur klasik.
Disutradarai Zach Cregger yang pernah mengarahkan Barbarian dan Weapons, kita akan mengikuti perubahan segar khususnya lewat aktor Austin Abrams sebagai Bryan, yang begitu berhasil membawa rasa ketakutan, kecemasan, namun dengan gaya yang tetap asyik.
Ceritanya, seorang kurir, Bryan, ditugaskan mengantar cooler berisi barang penting dari rumah sakit di kota besar, menuju RS di Racoon City. Dalam perjalanan, Bryan harus melewati pegunungan bersalju dengan city car yang sederhana.
Di sisi lain, Bryan sedang berusaha memperbaiki relasi dengan pacarnya. Komunikasi dilakukan via telepon tetap terasa intens, ditambah upaya penyelesaian pekerjaan. Tetapi tantangan paling menarik terjadi ketika Bryan mulai berinteraksi dengan zombie.
Dia harus mengalahkan monster yang belum jelas asal usulnya, sambil tetap mengantarkan cooler yang disangka berisi organ tubuh, dengan suasana pedalaman sepi. Bryan terkaget-kaget menghadapi makhluk yang rupanya telah mengalami infeksi virus.
Kita akan berpetualang bersama Bryan menelusuri tempat-tempat serba gelap, menghadapi keanehan demi keanehan, dengan hanya satu tujuan yaitu bertahan hidup. Melalui sudut pandang seolah pemain video game, elemen horor diperkuat dengan visualisasi monster yang meyakinkan.
Efek realistis dan tokoh utama dari orang biasa, bukan jagoan, menjadikan Resident Evil makin relevan. Pergumulan dan dilema yang dialami pun terasa dekat dengan keseharian kita, meski dalam konteks berbeda.
Sineasnya cukup berhasil menemukan formula pas soal mempertahankan hal-hal penting dalam suasana nostalgia, melalui remake yang solid, dan kapan harus mendobrak batas lewat eksperimen.
Seperti dalam video game, Resident Evil tidak lupa membuat tokohnya merasa terpojok dan kehabisan peluru di lorong yang gelap, kebingungan dengan kemampuan lawan, serta dilema bertubi-tubi.
Keseruan itu diperkuat visi sinematik sutradara spesialis horor unik Zach Cregger, yang meyakinkan penggemar untuk menyaksikan Resident Evil teranyar bersama-sama di layar lebar termasuk IMAX.
"Menonton film horor di bioskop adalah pengalaman kolektif; Anda terhubung dengan energi yang membuat pengalaman tersebut jauh lebih hebat dibandingkan saat Anda hanya duduk di sofa dan menontonnya sendirian. Dan bisa merasakan sensasi layaknya menaiki *roller coaster* bersama ruangan yang penuh dengan orang-orang asing—hal itu justru membuat pengalaman tersebut jauh lebih menyenangkan," tuturnya.
Pelakon utama Austin Abrams pun sependapat. "Ada energi yang tak henti-hentinya mengalir dalam RESIDENT EVIL, dan karena film ini memadukan unsur horor serta komedi, Anda pasti ingin menikmatinya bersama orang lain. Anda ingin mendengar reaksi dan merasakan energi dari orang-orang di sekitar Anda—baik saat mereka berteriak, tertawa, atau melakukan keduanya," ujarnya.
Resident Evil pun terangkat ke level berbeda, bagai penghormatan ke versi sebelumnya sebagai adaptasi video game tersukses, dengan 6 film orisinalnya sukses mengumpulkan pendapatan box office global lebih dari 1,2 miliar dolar AS.
Karya penting ini telah melahirkan cerita-cerita zombie yang lebih ilmiah, estetik, dan sulit dilupakan. Namun yang lalu, sudah berlalu, saatnya Resident Evil membangun transformasi menyegarkan dimulai dari tokoh-tokohnya.