Sulianto Indria Putra Dorong Profesi Clipper, Gen Z Bisa Raup Puluhan Juta dari Potongan Video

ANP • Tuesday, 15 Sep 2026 - 10:58 WIB


Jakarta — Profesi clipper mulai mencuri perhatian di tengah pesatnya pertumbuhan konten video pendek. Aktivitas mengolah potongan podcast, livestream, hingga wawancara menjadi video singkat untuk TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini tak hanya menjadi pekerjaan sampingan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penghasilan bagi generasi muda.

Fenomena ini ikut berkembang seiring meningkatnya konsumsi internet di Indonesia. Berdasarkan data APJII 2026 yang dikutip dalam materi ini, sebanyak 81,72 persen masyarakat Indonesia telah menjadi pengguna internet. Besarnya basis pengguna tersebut membuka peluang yang semakin luas bagi konten untuk diproduksi, didistribusikan, dan dimonetisasi.

Bukan Sekadar Memotong Video

Secara sederhana, clipper bertugas mengambil bagian menarik dari konten berdurasi panjang dan mengemasnya menjadi video pendek. Namun, pekerjaan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan editing.

Seorang clipper perlu menemukan momen yang tepat, membuat hook yang menarik perhatian, memahami konteks, mengatur pacing, menambahkan elemen visual, serta menyesuaikan format dengan karakter masing-masing platform.

Kebutuhan terhadap profesi ini muncul ketika jumlah konten terus meningkat, sementara perhatian audiens semakin sulit diperebutkan. Materi panjang seperti podcast berdurasi satu hingga dua jam dapat menghasilkan puluhan potongan dengan angle berbeda.

Riset Gloria Mark dari University of California yang dikutip dalam materi ini juga menunjukkan bahwa rata-rata rentang perhatian manusia pada layar digital berada di kisaran 47 detik. Kondisi tersebut membuat format video pendek semakin relevan dalam strategi distribusi konten.

Penghasilan Bergantung Performa

Berbeda dengan editor yang umumnya menerima bayaran berdasarkan proyek atau jam kerja, sejumlah model clipping menawarkan penghasilan berdasarkan performa konten.

Beberapa marketplace clipping menawarkan tarif sekitar Rp2.000 hingga Rp7.000 per 1.000 views, bergantung pada campaign dan ketentuan yang berlaku. Dengan skema tersebut, satu juta views secara matematis berpotensi menghasilkan sekitar Rp2 juta hingga Rp7 juta.

Namun, angka tersebut bukan pendapatan yang otomatis diterima setiap clipper. Penghasilan tetap dipengaruhi kualitas konten, jumlah views, ketentuan campaign, dan konsistensi produksi.

Karena entry barrier-nya relatif rendah, clipping juga mulai dilirik sebagai side hustle. Mahasiswa, editor pemula, maupun pengguna media sosial dapat memulainya dengan perangkat yang sudah dimiliki serta kemampuan editing dasar.

Sulianto Indria Putra Bangun Marketplace Clipping

Perkembangan tren tersebut turut mendorong munculnya ekosistem yang mempertemukan brand dengan para clipper.

Salah satunya adalah Konten.com, platform clipping marketplace yang didirikan oleh Sulianto Indria Putra bersama rekannya, Andrew Jonathan, pada 20 Mei 2026.

Sulianto Indria Putra, yang dikenal melalui komunitas edukasi Trade With Suli, membangun platform tersebut dengan tujuan menjembatani kebutuhan brand terhadap distribusi konten dengan para kreator, khususnya clipper.

Sebelum membangun Konten.com, Sulianto disebut telah menjalani berbagai aktivitas bisnis sejak usia muda. Ia mengawali perjalanan bisnis dengan berjualan stik es krim kepada teman sekolah saat berusia 11 tahun. Ketika pandemi, ia mulai bekerja sebagai freelance designer dan kemudian menggunakan penghasilannya untuk berinvestasi.

Perjalanannya berlanjut ke dunia saham, trading, dan aset kripto. Dalam materi yang menjadi dasar artikel ini, Sulianto disebut berhasil mencapai Rp1 miliar pertamanya pada usia 18 tahun.
Melalui Konten.com, ia bersama Andrew Jonathan kemudian mencoba membangun model marketplace yang memungkinkan brand mendistribusikan materi konten kepada jaringan kreator dan clipper.

Clipper Klaim Raih Rp24 Juta dalam Seminggu

Peluang monetisasi clipping juga terlihat dari sejumlah cerita clipper yang berhasil mendapatkan penghasilan dari performa konten.

Salah satunya adalah Dhimas Izzul. Dikutip dari CNN dalam materi ini, Dhimas awalnya membuat klip video sebagai hobi. Setelah salah satu videonya masuk FYP TikTok, ia mulai mendapatkan tawaran kerja sama dari sejumlah brand. Dari 12 video, ia mengaku memperoleh sekitar Rp4 juta.

Sementara itu, di Konten.com, seorang clipper berinisial A tercatat menghasilkan sekitar Rp24 juta dalam satu minggu, pada periode 13 hingga 20 Agustus 2026.

Angka tersebut tentu tidak dapat dijadikan patokan pendapatan seluruh clipper. Namun, kisah tersebut menunjukkan adanya peluang monetisasi yang mengikuti performa konten.

Menguntungkan Brand

Model clipping tidak hanya menawarkan peluang bagi kreator. Brand juga dapat memanfaatkan clipper untuk memperpanjang umur sebuah campaign sekaligus memperluas distribusinya.

Satu materi panjang dapat dipecah menjadi banyak video pendek dengan sudut pandang berbeda. Dengan demikian, brand dapat memaksimalkan materi yang sudah diproduksi tanpa harus selalu membuat konten baru dari awal.

Model berbasis performa juga memberikan alternatif dalam mengalokasikan anggaran distribusi. Brand dapat membayar berdasarkan indikator seperti views sesuai mekanisme campaign, dibandingkan hanya mengandalkan biaya produksi atau placement di awal.

Melalui marketplace seperti Konten.com, model tersebut berpotensi dijalankan dalam skala lebih besar dengan melibatkan jaringan kreator dan clipper.

Creator Economy Mulai Bergerak ke Balik Layar

Kemunculan profesi clipper menunjukkan bahwa creator economy tidak lagi hanya berkaitan dengan individu yang membangun personal brand dan memiliki jutaan pengikut.

Kini, seseorang dapat mengambil peran di balik layar dengan membantu mengubah konten panjang menjadi materi yang lebih mudah dikonsumsi. Bagi Gen Z, model tersebut menawarkan alternatif untuk mendapatkan penghasilan dari ekonomi konten tanpa harus menjadi influencer.

Bagi brand dan kreator, kehadiran clipper juga membuka jalur distribusi baru untuk memperluas jangkauan konten.

Dengan semakin besarnya konsumsi video pendek, profesi clipper berpotensi menjadi bagian penting dari ekosistem creator economy. Dan melalui Konten.com, Sulianto Indria Putra mencoba membangun wadah yang mempertemukan kebutuhan tersebut: brand yang membutuhkan distribusi dan para clipper yang mencari peluang monetisasi dari performa konten.