
SAS Group, Group Rock Asal Surabaya
JAKARTA — Musik rock Indonesia era 1970-an kembali mendapat perhatian di Amerika Serikat. Label rekaman Psychic Reader yang berbasis di New York merilis ulang karya SAS Group, grup rock asal Surabaya, dalam format piringan hitam melalui album koleksi Bad Shock.
Rilis tersebut menjadi penanda penting bagi perjalanan SAS karena merupakan kali pertama karya grup yang dibentuk pada 1975 itu diterbitkan kembali dalam format vinyl oleh label di luar Indonesia.
SAS Group dibentuk oleh tiga mantan personel AKA, yakni Soenatha Tanjung pada gitar dan vokal, Arthur Kaunang pada bass, keyboard dan vokal, serta almarhum Syech Abidin pada drum dan vokal. Setelah keluar dari AKA yang sebelumnya diperkuat Ucok Harahap, ketiganya membentuk SAS dengan mengembangkan karakter hard rock yang dipadukan dengan nuansa progresif.
Musik SAS dipengaruhi sejumlah kelompok rock Barat pada masanya, antara lain The Jimi Hendrix Experience, Grand Funk Railroad, Emerson, Lake & Palmer, Deep Purple, dan Pink Floyd.
Pada 1975, SAS merilis album debut dengan lagu “Baby Rock” yang kemudian menjadi salah satu karya yang dikenal dari grup tersebut. Hingga 1991, SAS tercatat telah menghasilkan 15 album penuh dengan sejumlah lagu dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.
Jurnalis dan kritikus musik Indonesia Denny MR menilai album debut SAS menjadi salah satu bagian dari perkembangan musik rock Indonesia pada era tersebut.
“Tahun 1975, mereka merilis debut album dengan hit Baby Rock, sebagai sumbu ledak kelahirannya di panggung dan rekaman musik rock Indonesia,” ujar Denny, dalam keterangan tertulis, Jakarta, Sabtu (12/9).
Meski telah puluhan tahun berlalu sejak album terakhirnya, karya SAS masih ditemukan dalam peredaran kolektor musik. Sejumlah lagu seperti “Space Ride”, “Bad Shock”, dan “Tatto Girl” juga kembali diperbincangkan di kalangan pendengar muda.
Perhatian terhadap musik SAS di luar Indonesia antara lain terlihat ketika DJ Cotter Phinney memutar sembilan lagu dari SAS dan AKA dalam program khusus selama satu jam di KPiss FM, Brooklyn, New York. Pemutaran tersebut menjadi bagian dari momentum peluncuran koleksi vinyl SAS di New York.
Cotter Phinney, yang merupakan pemilik Psychic Reader, mengatakan musik Indonesia memiliki banyak karya yang belum memperoleh perhatian luas di pasar internasional.
“Dibandingkan musik dari negara lain, entah mengapa musik Indonesia seolah terabaikan, padahal banyak karya musik yang bagus,” ujar Cotter.
Menurut Cotter, SAS memiliki karakter musik yang dinilai layak diperkenalkan kepada pendengar yang lebih luas. Ia berharap penerbitan ulang tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi musik rock Indonesia ke audiens internasional.
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk memproduksi rekaman SAS pertama di luar Indonesia, tepatnya di New York, dan saya harap ini akan membuka pintu bagi audiens global,” katanya.
Bagi Arthur Kaunang, penerbitan kembali karya SAS menjadi pengalaman yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Terlebih, perilisan tersebut bertepatan dengan peringatan 50 tahun perjalanan SAS.
“Bagi saya, SAS reborn ini adalah suatu gebrakan kebangkitan musik Rock '70-an. Saya tidak pernah bermimpi kalau musik SAS masih bisa hadir dan disukai hingga kini,” kata Arthur.
Proses penerbitan Bad Shock dilakukan di New York, termasuk kurasi, digitalisasi-analog, dan distribusi. Menurut pengarah kreatif sekaligus co-produser album, Naratama, minat terhadap rilisan tersebut juga telah muncul dari distributor musik di Jepang melalui pemesanan awal.
“Kami sedang memproses distribusi untuk pasar di Indonesia,” ujar Naratama.
Ia berharap kembalinya karya SAS melalui pasar internasional tidak berhenti pada satu grup, tetapi dapat membuka perhatian lebih luas terhadap katalog musik Indonesia lainnya yang memiliki nilai historis dan artistik.
Rilis Bad Shock sekaligus menunjukkan bagaimana karya musik Indonesia dari era sebelumnya masih memiliki peluang untuk ditemukan kembali melalui jalur distribusi dan koleksi musik internasional.