
Bandung — Perkembangan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) membuka peluang yang semakin luas bagi mahasiswa untuk berkiprah di tingkat nasional maupun internasional. Peluang tersebut menjadi salah satu hal yang dibagikan Amirush Shaffa F., S.Pd., M.Pd., C.PS. dalam Kuliah Umum dan Pembekalan “Siap Mengajar BIPA” yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (3/9/2026).
Mengangkat tema “Menyelami Dunia BIPA: Perspektif, Praktik Baik, dan Komunikasi Lintas Budaya”, kegiatan yang berlangsung secara hibrid di Auditorium FPBS UPI dan melalui daring tersebut diikuti oleh 246 mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3 FPBS UPI.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu FPBS UPI, Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., sebagai ruang pengayaan pengalaman belajar mahasiswa di luar kompetensi utama program studi. Melalui pembekalan itu, mahasiswa diajak mengenal lebih dekat praktik pengajaran BIPA sekaligus peluang untuk berkiprah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FPBS UPI, Prof. Wawan Gunawan, Ph.D. Dalam arahannya, Prof. Wawan menekankan pentingnya mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kompetensi yang adaptif terhadap perkembangan dunia pendidikan dan kebutuhan masyarakat global.
Perkembangan BIPA, menurutnya, membuka peluang yang semakin luas bagi lulusan bidang bahasa, sastra, seni, dan pendidikan untuk berkontribusi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di berbagai lingkungan, termasuk di luar negeri. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kompetensi akademik yang kuat sekaligus wawasan praktis, kemampuan komunikasi lintas budaya, dan kesiapan untuk memanfaatkan peluang internasional.
Amirush Shaffa Bagikan Pengalaman Mengajar BIPA di Kancah Internasional
Salah satu bagian utama dalam pembekalan diisi oleh Amirush Shaffa F., S.Pd., M.Pd., C.PS., pengajar BIPA Badan Bahasa Kemendikdasmen RI, juga berpengalaman sebagai FLAP di Victoria, Australia. Shaffa membagikan pengalaman dan praktik baiknya dalam mengajar Bahasa Indonesia kepada pemelajar dari berbagai latar belakang bahasa dan budaya.
Shaffa memiliki pengalaman mengajar mahasiswa internasional maupun pemelajar dari berbagai negara serta terlibat dalam berbagai program pendidikan dan kolaborasi akademik internasional. Pengalamannya mencakup interaksi dengan pemelajar dari Australia, Inggris, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Thailand, China, Jepang, dan Jerman.
Pada tahun 2026, Shaffa juga mendapat penugasan sebagai Dosen BIPA di Konstanz University of Applied Sciences (HTWG Konstanz), Jerman. Pengalaman tersebut menjadi salah satu perspektif yang dibagikan kepada mahasiswa mengenai peluang sekaligus tantangan menjadi pengajar BIPA di luar negeri.
Dalam pemaparannya, Shaffa tidak hanya berbicara mengenai kesempatan mengajar di luar negeri, tetapi juga membagikan praktik pembelajaran yang dapat menjadi bekal bagi calon pengajar BIPA. Pembahasan mencakup karakteristik pemelajar asing, tantangan pembelajaran, strategi mengajar, hingga kompetensi yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi lingkungan pembelajaran yang beragam.
Menurut perspektif yang dibagikan Shaffa, mengajar BIPA tidak sekadar mengajarkan struktur bahasa atau keterampilan berbahasa. Pengajar juga perlu memahami latar belakang budaya pemelajar dan mampu membangun komunikasi yang efektif di tengah perbedaan budaya.
Hal tersebut menjadikan komunikasi lintas budaya sebagai salah satu aspek penting dalam pembelajaran BIPA. Pengajar dituntut untuk mampu beradaptasi dengan karakteristik pemelajar sekaligus menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan relevan.
Pengalaman Shaffa di bidang komunikasi publik turut memperkuat kompetensinya dalam menjalankan peran sebagai pengajar BIPA. Ia merupakan Public Speaker tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Republik Indonesia dan aktif sebagai public speaking trainer, moderator, master of ceremony (MC), serta voice-over artist dalam berbagai kegiatan akademik maupun profesional.
Shaffa merupakan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia pada jenjang Sarjana dan Magister. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana sebagai lulusan terbaik dan kemudian menyelesaikan Magister Pendidikan BIPA sebagai lulusan terbaik dengan IPK 4,00/4,00.
Selain Shaffa, kegiatan juga menghadirkan Dr. Rizdky Firmansyah Fahmi, S.S., M.Pd., Founder Nusantara Language Center dan Wakil Ketua I APPBIPA Jawa Barat. Rizdky telah aktif mengajar BIPA sejak 2010 dan memiliki pengalaman mengajarkan Bahasa Indonesia untuk kebutuhan sosial, akademik, bisnis, dan religi. Ia juga memiliki pengalaman sebagai dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi luar negeri.
Kehadiran kedua praktisi tersebut memberikan perspektif yang beragam mengenai dunia pengajaran BIPA, mulai dari praktik pembelajaran hingga pengalaman mengajar dalam konteks internasional. Kegiatan dipandu oleh dosen UPI Eka Rahmat Fauzy, S.S., M.Pd. sebagai moderator yang menghidupkan dialog antara narasumber dan peserta.
Menginspirasi Mahasiswa untuk Berkiprah secara Global
Antusiasme mahasiswa terlihat dalam sesi pemaparan dan diskusi. Pengalaman yang dibagikan Shaffa mengenai perjalanan mengajar BIPA di berbagai negara memberikan gambaran nyata bahwa Bahasa Indonesia memiliki ruang yang semakin luas untuk dipelajari dan diajarkan di tingkat internasional.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga menjadi gambaran mengenai kompetensi dan kesiapan yang perlu dibangun sejak masa perkuliahan. BIPA dapat menjadi salah satu ruang pengembangan profesi lintas disiplin yang mempertemukan bahasa, sastra, seni, pendidikan, dan budaya. Salah satunya disampaikan oleh Salma, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris jenjang S1.
“Semenjak mengikuti seminar ini saya jadi makin semangat untuk mengikuti dan menjadi pengajar di luar negeri. Doakan saya semoga bisa menjadi seperti Teh Shaffa yang keren sekali ituu!!”
Sementara itu, Deni, mahasiswa jenjang S2, menilai kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai peluang sekaligus tantangan mengajar BIPA di luar negeri.
“Seminar ini sangat membuka wawasan mengenai peluang serta tantangan mengajar BIPA di luar negeri. Penyampaian materi sangat komunikatif dan memberikan gambaran nyata tentang kualifikasi serta kesiapan mental yang dibutuhkan seorang pengajar BIPA di kancah internasional.”
Respons mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa pengalaman praktis yang dibagikan para narasumber, khususnya pengalaman Shaffa di berbagai lingkungan internasional, tidak hanya memperkenalkan dunia BIPA, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mulai mempersiapkan diri mengambil peluang mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri.
Melalui kegiatan “Siap Mengajar BIPA”, FPBS UPI menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk melihat BIPA dari perspektif yang lebih luas. Dari ruang kelas hingga kancah internasional, mahasiswa dipersiapkan untuk memiliki kompetensi, pengalaman, dan kepercayaan diri dalam membawa Bahasa Indonesia sekaligus budaya Indonesia ke ruang komunikasi global.