
JAKARTA — Film dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat memori kolektif bangsa sekaligus mendekatkan sejarah perjuangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Medium sinema dianggap mampu mengemas kisah kepahlawanan dalam bentuk yang lebih relevan, menarik, dan mudah dipahami.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, narasi kepahlawanan perlu disampaikan melalui karya sinema yang kreatif, berbasis riset, akurat secara historis, serta dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Fadli dalam taklimat media “Pengumuman Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan” di Jakarta, Jumat (4/9/2026) malam.
Menurut Fadli, penguatan literasi kepahlawanan melalui film tidak hanya berkaitan dengan penyampaian sejarah. Program tersebut juga diharapkan dapat memberikan ruang bagi sineas, sejarawan, akademisi, dan pelaku industri untuk berkolaborasi menghasilkan karya yang memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi.
“Menghidupkan literasi kepahlawanan bisa melalui karya sinema yang relevan, inspiratif, mudah dicerna, mudah diakses oleh masyarakat, kreatif, berbasis riset dan akurat secara historis,” ujar Fadli.
Ia menjelaskan, Kementerian Kebudayaan berupaya menghadirkan kembali sejarah perjuangan Indonesia melalui medium sinema kontemporer. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyelenggarakan Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan.
Menurut Fadli, program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem perfilman nasional, khususnya genre film bertema kepahlawanan yang dinilai masih membutuhkan dukungan.
“Kita tahu bahwa kalau film-film lain, drama yang lain atau film horor atau film cerita yang lain sudah menjadi bagian dari ekosistem yang telah hadir di tengah-tengah masyarakat dengan 67 persen market share di bioskop-bioskop kita,” katanya.
Angkat Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Fadli mengatakan, program tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengangkat nilai kepahlawanan, patriotisme, dan nasionalisme melalui kisah sejarah Indonesia.
Salah satu periode yang menjadi perhatian adalah masa perang mempertahankan kemerdekaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Fadli mengingatkan bahwa proklamasi kemerdekaan tidak serta-merta membuat Indonesia terbebas dari ancaman. Perjuangan masih berlangsung karena Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia.
Periode sekitar 1945 hingga 1950, kata dia, mencakup sejumlah peristiwa penting, antara lain Agresi Militer Belanda I dan II, pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), hingga kembalinya Indonesia ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950.
Menurut Fadli, periode tersebut sebenarnya telah banyak dikaji dan ditulis oleh para sejarawan. Namun, penyampaian melalui buku atau tulisan sejarah terkadang belum cukup dekat dengan masyarakat luas.
Karena itu, pengemasan sejarah dalam bentuk film diharapkan dapat membuat berbagai peristiwa perjuangan lebih mudah dipahami tanpa kehilangan konteks historisnya.
“Sehingga ketika ini diangkat menjadi film, tentu ini akan lebih menarik dan semua unsur-unsur nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, perjuangan, dan drama di sekitar perang mempertahankan kemerdekaan itu tetap semakin relevan,” ujarnya.
Fadli berharap program tersebut tidak berhenti pada produksi film, tetapi juga mampu meningkatkan pengetahuan sejarah masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan lebih banyak insan perfilman dalam mengangkat kisah perjuangan bangsa.
Menurut dia, perhatian terhadap narasi kepahlawanan juga dapat menjadi bagian dari upaya menanamkan semangat kebangsaan sekaligus mempromosikan kebudayaan dan sejarah Indonesia.
20 Karya Jadi Pemenang
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Kebudayaan mengumumkan hasil penilaian Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan.
Berdasarkan hasil penilaian dan rapat pleno dewan juri, ditetapkan tujuh pemenang kategori film panjang dan 13 pemenang kategori film pendek.
Untuk kategori film panjang, karya yang terpilih yakni “Barisan Penghibur”, “Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama”, “Rengasdengklok”, “Kapalselam Kalibayam”, “Sakura di Telawang”, “Rai”, dan “Pintu Tertutup”.
Sementara kategori film pendek meliputi “Arang Kobar Juang”, “Belantara Raya”, “Buleun Purnama, di Nanggroe”, “Darah Djoeang”, “Desing Peluru Tak Bertuan”, “Ibu Raih”, “Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)”, “Menara Terakhir”, “Operasi Malino: Lembar yang Hilang”, “Seriboe Soedirman”, “Suara Republik”, “Timur 1950”, dan “Yang Tenggelam Saat Fajar”.
Program tersebut sebelumnya melalui sejumlah tahapan, mulai dari peluncuran, sosialisasi, pendaftaran dan penerimaan proposal, seleksi administrasi dan substantif, presentasi atau pitching, hingga rapat pleno penjurian.
Dalam proses tersebut, tercatat 143 proposal yang melibatkan lebih dari 420 produser, sutradara, dan penulis naskah. Proposal tersebut terdiri atas 54 proposal film panjang dan 89 proposal film pendek.
Dengan terpilihnya 20 karya tersebut, Kementerian Kebudayaan berharap narasi sejarah dan kepahlawanan dapat memperoleh ruang lebih besar dalam industri perfilman Indonesia, sekaligus menjadi medium alternatif untuk memperkenalkan perjalanan bangsa kepada masyarakat.