
JAKARTA - Ada sosok pria paruh baya yang keluar-masuk kompleks Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta di Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (2/9/2026) siang. Sambil membawa bungkusan makanan, pria itu sesekali menyapa staf dan petugas keamanan. Tak terlihat wajah tegang atau gelagat seperti seseorang yang sedang menjalani masa detensi. Rupanya, pria tersebut adalah Umar Syarif, warga negara Bangladesh yang sudah sekitar 26 tahun tinggal di Rudenim Jakarta.
Alih-alih ingin segera pulang ke negara asal, Umar justru mengaku sudah telanjur betah di Indonesia. Baginya, Rudenim Jakarta bukan lagi sekadar tempat detensi. Tempat itu sudah seperti rumah kedua.
"Saya sudah di sini 26 tahun," kata Umar saat ditemui wartawan di Rudenim Jakarta, Kamis (2/9/2026).
Usianya kini 58 tahun. Namun, perjalanan hidupnya di Indonesia sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu. Umar datang ke Indonesia untuk berlibur. Saat itu, tak pernah terbayangkan olehnya bahwa perjalanan wisata tersebut bakal mengubah seluruh jalan hidupnya.
Umar bercerita, sekitar tahun 2000, dirinya datang ke Indonesia sebagai wisatawan. Saat berada di Jakarta, ia kemudian berkenalan dengan perempuan yang kelak menjadi istrinya. Pertemuan itu terjadi ketika sang perempuan bekerja berjualan di sebuah toko emas. "Ketemu di sini. Dulu istri saya jualan di toko emas," tuturnya.
Hubungan keduanya semakin dekat. Setelah beberapa waktu, Umar akhirnya menikah dengan perempuan asal Jakarta tersebut. Dari pernikahan itu, Umar dan istrinya dikaruniai dua anak. Kini, anak pertamanya sudah bekerja, sedangkan anak keduanya masih bersekolah. Sang istri juga menjalani aktivitas rumah tangga sekaligus berjualan kecil-kecilan untuk membantu kebutuhan keluarga. Kehadiran keluarga inilah yang membuat Umar semakin sulit membayangkan dirinya kembali ke Bangladesh.
"Saya betah karena ada anak dan istri saya di sini. Kalau saya sendiri, mungkin saya bisa pulang. Tapi ini ada tanggung jawab," ujarnya.
"Namanya tanggung jawab anak istri. Saya tidak mau meninggalkan keluarga saya di sini, " imbuhnya.
Selama lebih dari seperempat abad berada di Rudenim, Umar menyaksikan perubahan besar tempat tersebut. Ia mengaku kondisi Rudenim saat pertama kali ditempatinya sangat berbeda dengan sekarang.
"Dulu biasa saja. Sekarang sudah maju, sudah rapi," katanya.
Menurut Umar, dahulu fasilitas di Rudenim belum tertata seperti sekarang. Bangunan dan kamar masih sederhana. Area sekitar juga belum serapi saat ini. "Sudah berubah semuanya. Dulu ada pohon-pohon, tempatnya kecil. Sekarang sudah enak, sudah rapi," ujarnya.
Bagi Umar, bukan hanya fasilitas yang membuatnya nyaman. Hubungan dengan petugas juga menjadi alasan dirinya merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri. Ia bahkan kerap membantu berbagai keperluan penghuni Rudenim lainnya. Mulai dari membelikan roti, makanan, hingga kebutuhan kecil lainnya. Umar keluar masuk kompleks untuk membantu memenuhi kebutuhan para deteni yang tidak bisa bebas beraktivitas di luar.
"Kalau ada yang perlu beli roti, beli makan, saya bantu," katanya.
Ia menyebut para petugas Rudenim juga memperlakukannya dengan baik. Hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat Umar merasa sudah menjadi bagian dari lingkungan tersebut. "Orang dalam semua baik sama saya. Saya juga baik," ucapnya.
Meski sudah tinggal puluhan tahun di Indonesia, Umar sebenarnya tidak sepenuhnya menutup kemungkinan untuk pulang ke Bangladesh. Namun, ia ingin bisa kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarganya.
"Bisa besok juga saya pulang. Tapi saya punya anak istri semua di sini," katanya.
Di tempat terpisah, Kepala Rudenim Jakarta, Slamet Wahyuni, mengatakan Umar memang merupakan salah satu deteni yang mendapat izin berada di luar area detensi. Hal itu berkaitan dengan kondisi Umar yang sudah menikah dengan WNI dan memiliki dua anak.
"Pak Umar itu salah satu deteni luar detensi. Dia di luar detensi karena yang bersangkutan sudah menikah dengan warga negara Indonesia yang tinggal di wilayah Kalideres," jelas Slamet.
Menurutnya, pihak Rudenim sebenarnya terus memberikan edukasi kepada Umar agar menyelesaikan persoalan administrasi keimigrasiannya.
Pihak Rudenim mendorong Umar untuk kembali terlebih dahulu ke negara asalnya, kemudian memperbaiki status dan administrasinya agar nantinya dapat kembali ke Indonesia melalui prosedur yang benar.
"Kalau menjadi deteni, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa berjualan untuk kehidupan anak istrinya. Jadi kami edukasi, ayo pulang dulu, perbaiki administrasinya," ujar Slamet.
Namun, persoalan deportasi tidak sesederhana memulangkan seorang WNA ke negara asal. Slamet menegaskan, Umar tidak bisa dipaksa begitu saja untuk pulang karena menyangkut aspek hak asasi manusia.
"Enggak bisa dipaksa. Kalau dipaksa nanti jatuhnya pelanggaran HAM," tegasnya.
Karena itu, Rudenim harus aktif berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik negara asal para deteni.
Menurut Slamet, keberhasilan pemulangan WNA sangat bergantung pada komunikasi dan kerja sama dengan kedutaan atau perwakilan negara masing-masing.
"Makanya kita harus rajin berkoordinasi dengan kedutaan. Setidaknya kedutaan bisa memengaruhi warga negaranya untuk pulang," katanya.
Upaya tersebut, lanjut Slamet, sudah membuahkan hasil. Sejak 2024 hingga 2025, Rudenim Jakarta telah mendeportasi sekitar 115 orang. Saat ini jumlah deteni yang berada di Rudenim Jakarta tinggal sekitar 20 orang, jauh di bawah kapasitas tempat tersebut yang mencapai sekitar 120 orang. "Sudah luar biasa tingkat kita untuk memulangkan atau mendeportasi deteni yang ada di Rudenim," ujarnya.
Slamet mengatakan, keberhasilan deportasi juga tidak hanya menyasar kasus-kasus sederhana. Ia mencontohkan seorang warga negara Nigeria yang telah menjalani masa detensi hampir 12 tahun. WNA tersebut merupakan mantan warga binaan pemasyarakatan dalam kasus narkoba dan pernah menjalani hukuman di Nusakambangan.
"Sudah hampir 12 tahun juga pulang, orang Nigeria. Dia eks-WBP kasus narkoba dari Nusakambangan," katanya.
Ada pula warga Afghanistan yang berstatus pengungsi dan merupakan eks-WBP kasus narkoba dari Lapas Kembang Kuning. Menurut Slamet, WNA tersebut juga akhirnya dapat dipulangkan.
Kedutaan Afghanistan bahkan datang untuk memberikan edukasi langsung kepada warga negaranya agar bersedia kembali.
"Afghanistan datang sendiri ke sini, meng-interview warganya. Ayo pulang, ayo pulang," ujar Slamet.
Ia juga menyebut kerja sama dengan sejumlah perwakilan negara berjalan baik. Salah satunya dalam penanganan warga Palestina yang menjalani rehabilitasi mental, yang biaya penanganannya mendapat dukungan dari pihak kedutaan.
Di sisi lain, Slamet mengakui fasilitas Rudenim Jakarta memang mengalami berbagai pembenahan. Perubahan tidak hanya dilakukan pada fasilitas bagi deteni, tetapi juga menyentuh sisi pelayanan dan kehumasan.
"Alhamdulillah sudah saya rapikan juga. Dari segi humasnya mulai naik, mulai bagus," katanya.
Sarana dokumentasi juga diperbarui. Rudenim kini memiliki peralatan kamera yang lebih baik dan mengembangkan produksi konten digital, termasuk podcast dan video.
Menurut Slamet, pembenahan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan tugas dan fungsi Rudenim kepada masyarakat. Bahkan, ia mengaku ikut mendesain sejumlah ruangan di kantor tersebut.
"Saya yang desain ini," ujarnya sambil menunjukkan ruangan yang telah dibenahi.
Slamet juga ingin masyarakat sekitar memahami bahwa Rudenim memiliki fungsi yang berbeda dengan kantor imigrasi. Karena itu, sejumlah kegiatan sengaja digelar di lingkungan Rudenim dengan melibatkan masyarakat sekitar, termasuk RT dan RW.
"Supaya warga sekitar tahu, apa sih tugas Rumah Detensi Imigrasi. Rupanya beda dengan kantor imigrasi," jelasnya.