Hati-hati! Digital Grooming Lewat Grup Whatsapp Berbahaya

MUS • Thursday, 3 Sep 2026 - 11:53 WIB

Jakarta - Grup Whatsapp yang dicurigai bernuansa LGBTQ yang mengajak anak-anak masuk kedalamnya menjadi kekhawatiran para orang tua beberapa hari terakhir. Seorang ayah secara tidak sengaja diundang masuk grup WA LGBTQ oleh anaknya. Hal ini kemudian diungkap di media sosial dan viral, aparat sendiri kini masih melakukan penyelidikan.

Dalam keterangannya Kamis (3/9), Direktur Eksekutif Siber Sehat Indonesia Ibnu Dwi Cahyo menjelaskan bahwa modus semacam ini sangat sering dilakukan, terutama bagaimana para pelaku melakukan social engineering psikologis lewat grup WA “Add People As Much As You Can”.

“Dari nama grup saja, itu sudah seperti ajakan kepada para member untuk mengajak teman-teman dan orang yang dikenal untuk masuk grup. Yang paling berbahaya kemungkinan digital grooming yang dilakukan oleh para pembuat grup, karena yang disasar adalah anak-anak. Untuk ini aparat kepolisian perlu melakukan penyelidikan lebih dalam,” jelas pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini.

Dalam Riwayat chat yang dibaca oleh orang tua salah satu anak member grup WA tersebut, ditemukan pertanyaan tentang orientasi seksual pada member dan juga ada berbagai stiker yang mengarah pada orientasi seksual.

“Kalau merujuk pada keterangan ayah salah satu member grup, konten pertanyaan dan stiker ini memang mengarah pada tindakan digital grooming. Grup tersebut melakukan targeting anggota grup yang sebagian besar adalah siswa SD dan SMP, seperti disampaikan oleh ayah anak member grup WA tersebut,” terangnya.

Ditambahkan oleh Ibnu, secara teknis spamming mengajak acak nomor WA untuk masuk ke dalam sebuah grup sering dilakukan, baik oleh para pedagang, juga oleh para pelaku kejahatan. Namun menargetkan anak-anak SD dan SMP ini membutuhkan jaringan dan informasi khusus. 

“Targeting anak-anak SD SMP masuk ke grup WA, dibutuhkan data-data spesifik. Misalnya nomor anak-anak tersebut, lalu social engineering dilakukan mengajak para member tersebut memasukkan teman-temannya yang lain. Dalam kejadian ini, seorang anak secara tidak sengaja memasukkan ayahnya ke dalam grup dan akhirnya viral keberadaan grup tersebut,” jelasnya.

Ibnu menambahkan, bagi orang tua yang paling penting adalah harus punya akses ke ponsel anak untuk melakukan pengecekan berkala konten yang dikonsumsi dan juga dengan siapa mereka melakukan komunikasi.

“Tak kalah penting selain digital forensik sederhana, para orang tua yang melakukan setting pada WA anak-anak, agar hanya kontak yang bisa memasukkan nomor WA anak ke dalam grup. Selain itu ponsel perlu dibatasi aksesnya, jangan dibebaskan semua aplikasi bisa diinstal, ada fitur parenting control yang bisa dipakai,” terang pria asli Semarang ini.

Orang tua umunya kalah mahir dibanding anak-anak gen Alpha yang native digital sejak lahir. Orang tua dan guru di sekolah perlu didorong untuk lebih mahir dalam menguasai ponsel pintar, sehingga bisa melakukan langkah preventif, seperti mengaktifkan parental control dan membatasi akses mengundang masuk grup WA.

“Aplikasi selain WA, banyak juga yang dijadikan perantara penyebaran LGBTQ dan juga pornografi. Misalnya X (twitter) kini menjadi platform penyebaran pornografi dan aktivitas seksual berbahaya. Telegram, discord, threads dan aplikasi lain juga sangat bisa dijadikan media penyebaran kegiatan berbahaya tersebut. Karena itu pendekatan kultural, dengan mendorong kemahiran orang tua dan guru sangat penting untuk didorong oleh negara dan elemen masyarakat,” jelas Ibnu.