
Genre: Thriller / Crime / Drama / Historical
Sutradara: Elegance Bratton
Penulis: Sascha Penn
Producer: Chester Algernal Gordon, Elegance Bratton, Alex Lebovici
Produksi: north.five.six, Thunder Road Pictures
Pemeran: Mark Wahlberg, Yahya Abdul-Mateen II, Nicole Beharie, Josh Lucas
Durasi: 1 jam 47 menit
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 2 September 2026
Thriller kriminal By Any Means karya sutradara Elegance Bratton mengangkat salah satu kolaborasi paling tidak lazim sekaligus kelam dalam sejarah penegakan hukum di Amerika Serikat.
Mempertemukan aktor Yahya Abdul-Mateen II dan Mark Wahlberg, ceritanya menyoroti latar rasialisme struktural, batas moral keadilan, serta ekstremisme supremasi kulit putih yang gaungnya masih terasa nyata hingga hari ini.
Berlatar di Mississippi pada tahun 1966, era di mana pergolakan hak-hak sipil, sedang berada di titik paling membara sekaligus berbahaya. Kisah dimulai ketika terjadi serangkaian pembunuhan brutal yang menargetkan para pemimpin hak sipil kulit hitam, termasuk aktivis Vernon Dahmer (diperankan oleh Giancarlo Esposito).
Agen muda FBI African-American bernama Wayne Strider (Yahya Abdul-Mateen II) ditugaskan untuk memimpin penyelidikan, yang memang dekat dengan keseharian. Namun, Agen Strider segera terbentur pada berbagai tantangan.
Hukum resmi seolah tak berdaya karena institusi lokal hingga aparat penegak hukum telah disusupi oleh jaringan rasisme terstruktur. Karena frustrasi dan menghadapi jalan buntu, FBI mengambil langkah ekstrem di luar jalur hukum pidana konvensional.
Pimpinan biro secara rahasia menyewa dan menerjunkan pembunuh bayaran kejam dari keluarga mafia Colombo di New York, Gregory Scarpa Sr. (Mark Wahlberg). Duet bertolak belakang ini dipaksa bekerja sama. Ketika Strider mencoba berpegang pada koridor hukum, Scarpa justru bergerak tanpa aturan moral.
Agen Strider dan Scarpa berburu anggota Ku Klux Klan (KKK) menggunakan metode kekerasan brutal demi memeras informasi dan menegakkan "keadilan" versinya sendiri. Karenanya, By Any Means seperti menjadi cermin yang menggambarkan situasi di masa lalu.
KKK disoroti bukan sekadar sekumpulan orang bertopeng kain putih yang bersembunyi di kegelapan, melainkan sebagai sebuah sistem yang terlembagakan. Ironisnya, ancaman supremasi kulit putih yang disorot film ini tidak pernah benar-benar lenyap.
Sisa-sisa ideologi KKK bertransformasi menjadi bentuk-bentuk radikalisme baru di media sosial, retorika politik sayap kanan ekstrem, hingga bias rasial sistemik dalam kepolisian global.
Dengan menampilkan betapa sulitnya Agen Strider menembus dinding perlindungan terhadap anggota KKK, By Any Means dengan berani menyatakan, hukum sering kali didesain untuk melindungi kelompok mayoritas yang berkuasa, isu yang masih memicu demonstrasi kesetaraan ras di berbagai belahan dunia saat ini.
Di sisi lain, kinerja kinerja investigator dalam menginterogasi pelaku dan saksi, kerap kali tak cukup kuat untuk membawa pelaku kriminal ke meja hijau. Prosedur standar penegak hukum yang mengandalkan bukti, hukum acara, dan hak-hak sipil individu, yang sebenarnya legal ini, diduga tidak berdaya melawan konspirasi bungkam dari para penganut supremasi kulit putih yang saling melindungi.
By Any Means sangatlah cocok untuk penonton yang bersedia berpikir kritis, memahami lebih dalam tentang kisah yang diinspirasi peristiwa nyata, dan terus mengambil hikmah dari kesalahan pada masa lalu.