
JAKARTA — Fragmentasi habitat menjadi salah satu ancaman serius bagi kelangsungan hidup orangutan di Indonesia. Terputusnya kawasan hutan tidak hanya mengurangi ruang hidup satwa, tetapi juga membatasi pergerakan, menghambat pertukaran genetik, meningkatkan potensi konflik dengan manusia, dan dalam jangka panjang dapat mengancam keberlangsungan metapopulasi.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam talkshow nasional bertajuk “Konektivitas Metapopulasi Orangutan: Apakah Jembatan Kanopi Buatan adalah Solusi Inovatif?” yang diselenggarakan Pusat Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar bersama Program Magister Biologi Universitas Nasional, Kamis (27/8/2026), di Auditorium Universitas Nasional, Jakarta.
Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia 2026 itu mempertemukan pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, dan publik untuk membahas strategi pemulihan konektivitas habitat serta mendorong integrasi koridor satwa liar ke dalam perencanaan tata ruang dan kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Data terbaru yang dipaparkan dalam diskusi menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Populasi orangutan Sumatra (Pongo abelii) diperkirakan tersisa sekitar 11.694 individu, turun 15,5 persen dibandingkan survei periode 2011–2013. Populasi tersebut tersebar dalam delapan metapopulasi di Aceh dan Sumatra Utara.
Kondisi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) bahkan lebih kritis. Populasinya diperkirakan hanya sekitar 716 individu, yang terbagi dalam tiga metapopulasi di kawasan Batang Toru, dengan penurunan sekitar 6,7 persen dalam kurun 12 tahun terakhir.
Sementara itu, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) masih memiliki persebaran yang relatif luas. Namun, tantangan fragmentasi tetap besar karena hanya sekitar 20 persen habitatnya berada di kawasan konservasi formal. Habitat lainnya berada dalam lanskap yang terfragmentasi oleh perkebunan kelapa sawit, pertambangan batu bara, dan kawasan hutan produksi.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu gambaran nyata kondisi tersebut. Orangutan kerap ditemukan di kawasan konsesi industri karena tekanan terhadap habitat alaminya semakin besar.
Jembatan Kanopi Mulai Menunjukkan Potensi
Di tengah persoalan tersebut, pembangunan jembatan kanopi buatan (artificial arboreal bridge) mulai dilihat sebagai salah satu alternatif untuk mengembalikan konektivitas pada lokasi-lokasi yang tidak lagi memungkinkan dihubungkan secara alami.
Studi yang diterbitkan dalam Folia Primatologica pada 2022 menunjukkan bahwa jembatan arboreal buatan dapat dimanfaatkan oleh sejumlah satwa arboreal, termasuk orangutan Tapanuli, owa, siamang, dan lutung Sumatera. Pemanfaatan serupa juga dilaporkan dari berbagai lokasi di Sumatra Utara, Aceh, Kalimantan, hingga Pulau Bintan.
Namun, para peserta talkshow menekankan bahwa jembatan kanopi bukanlah pengganti hutan alami.
Direktur Pusat Studi Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar, Didik Prasetyo, Ph.D., mengatakan upaya penyelamatan satwa harus bergerak melampaui perlindungan kawasan inti.
“Penyelamatan satwa tidak cukup hanya melalui perlindungan kawasan inti, tetapi harus mencakup pemulihan konektivitas antarhabitat melalui koridor ekologis yang didukung oleh pembangunan jembatan kanopi pada area yang tidak memungkinkan lagi untuk dihubungkan secara alami,” ujarnya.
Menurut dia, pemulihan konektivitas menjadi penting karena satwa membutuhkan ruang untuk bergerak di antara kantong-kantong habitat yang semakin terisolasi.
Koridor Ekologis Tetap Menjadi Fondasi
Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menilai persoalan fragmentasi tidak sebatas berkurangnya luas hutan. Fragmentasi juga memutus konektivitas antarpopulasi yang penting bagi pergerakan satwa dan keberlangsungan aliran genetik.
Julius Paolo Siregar dari YEL mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama konservasi orangutan Sumatra dan Tapanuli, khususnya di Sumatra Utara.
“Dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya luas habitat, tetapi juga terputusnya konektivitas untuk pergerakan populasi pada habitat yang menjadi petak-petak habitat terisolir, konflik satwa dalam penggunaan ruang dengan masyarakat, serta terputusnya aliran genetik sehingga mengancam keberlangsungan populasi orangutan dalam jangka panjang,” katanya.
Berdasarkan pengalaman YEL di Lanskap Batang Toru, perlindungan habitat yang tersisa, pencegahan fragmentasi baru, serta penguatan dan pemulihan konektivitas alami tetap harus menjadi fondasi utama konservasi.
Jembatan kanopi, kata Julius, dapat menjadi solusi inovatif pada lokasi tertentu ketika konektivitas alami sudah tidak memungkinkan, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi ekosistem hutan yang utuh.
Karena itu, pendekatan konservasi perlu dilakukan dalam skala lanskap dengan mengintegrasikan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, restorasi habitat, pemulihan konektivitas ekologis, pemantauan berbasis data, serta kebijakan tata ruang yang mempertimbangkan kebutuhan ruang satwa liar dalam jangka panjang.
Pandangan serupa disampaikan Fenky Wirada dari WWF Indonesia. Menurutnya, keberadaan koridor ekologis diperlukan untuk memastikan dispersal dan keberlangsungan populasi orangutan pada lanskap yang telah terfragmentasi.
“Untuk memastikan keberadaannya dalam jangka panjang, koridor ekologis tersebut juga mesti diakomodasi melalui ragam kebijakan pada berbagai tingkatan dan dipatuhi oleh semua pemangku kepentingan,” ujarnya.
Bukan Sekadar Membuat Jembatan
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan jembatan kanopi sangat bergantung pada banyak faktor. Pemilihan lokasi, karakter lanskap, kondisi pohon, ketersediaan sumber pakan, material, hingga pemeliharaan menjadi aspek penting yang menentukan apakah jembatan benar-benar digunakan satwa.
TAHUKAH mencatat bahwa jembatan kanopi telah dimanfaatkan secara konsisten oleh orangutan Sumatra dan satwa arboreal lainnya untuk melintasi area habitat yang terfragmentasi oleh jalan. Bahkan, salah satu kasus tersebut menjadi catatan penting karena orangutan Sumatra tercatat menggunakan jembatan kanopi yang membentang di atas jalan umum.
Berdasarkan pengalaman pendampingan pemasangan dan pemantauan, tingkat pemanfaatan jembatan sangat dipengaruhi oleh ketepatan lokasi, termasuk kontur, keberadaan sarang, pohon pakan, pohon pengikat, kualitas material, serta keberlanjutan pemeliharaan.
TAHUKAH mendorong agar hasil pemantauan lapangan tersebut menjadi bahan penyusunan standar desain dan kebijakan pendukung pembangunan jembatan kanopi di Indonesia.
Sementara itu, YOSL-OIC menilai jembatan kanopi dapat menjadi strategi untuk memulihkan konektivitas antarkantong habitat yang terpisah. Namun, keberhasilannya harus ditopang aspek keselamatan satwa dan manfaat jangka panjang.
Desain dan lokasi, menurut lembaga tersebut, perlu ditentukan secara tepat dan disertai pemantauan penggunaan, perlindungan dari gangguan maupun perburuan, serta pemeliharaan berkelanjutan.
“Jembatan kanopi memang menjanjikan sebagai inovasi, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka strategi pemulihan konektivitas lanskap secara menyeluruh, bukan dipandang sebagai solusi tunggal terhadap fragmentasi habitat,” demikian pandangan YOSL-OIC.
Perlu Standar dan Bukti Jangka Panjang
Diah Fitri Ekarini, Biodiversity Conservation Coordinator Konservasi Indonesia, mengatakan pengembangan jembatan kanopi perlu mempertimbangkan berbagai aspek secara terpadu, mulai dari kebutuhan ekologis spesies sasaran, kondisi lanskap, aspek teknis dan keselamatan, kepatuhan terhadap peraturan, hingga efektivitas jangka panjang.
Menurutnya, pendekatan yang terstruktur dapat menjadi fondasi untuk menyusun praktik terbaik dan acuan implementasi yang lebih konsisten, dengan tetap memperhatikan karakteristik setiap lokasi.
“Melalui pendekatan yang berbasis bukti, kolaboratif, dan adaptif, pilot ini diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran mengenai kapan, di mana, dan dalam kondisi seperti apa intervensi konektivitas semacam ini dapat memberikan manfaat bagi satwa,” ujarnya.
Pengetahuan dari berbagai proyek percontohan, lanjut Diah, diharapkan dapat memperkaya praktik konservasi di Indonesia sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan kerangka acuan dan praktik terbaik pembangunan artificial arboreal bridge.
JAWI juga menekankan bahwa fragmentasi habitat bukan sekadar persoalan hilangnya hutan, melainkan terputusnya konektivitas yang memungkinkan satwa bergerak, mencari makan, dan mempertahankan populasi.
Berdasarkan pengalaman pengembangan dan pemantauan jembatan kanopi untuk bintan langur, infrastruktur sederhana dapat menjadi salah satu pilihan untuk menghubungkan kembali habitat yang telah terpisah.
Namun, keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari apakah satwa menggunakan jembatan tersebut.
“Diskusi tentang canopy bridge seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan ‘apakah satwa mau menggunakannya?’, tetapi berkembang menjadi bagaimana kita merancang, menempatkan, mengelola, dan menjadikan konektivitas satwa sebagai bagian dari perencanaan pembangunan,” ujar Direktur JAWI.
Belajar dari Perilaku Alami Orangutan
Pembelajaran mengenai konektivitas juga datang dari pusat rehabilitasi orangutan.
Dr. Nadine Adrianna Sugianto, Head of Research and Animal Welfare Division BOSF, mengatakan BOS Foundation memiliki fasilitas berupa arboreal pathways di area enclosure dan “Forest School” yang digunakan orangutan untuk berpindah dari satu area ke area lainnya.
Menurutnya, desain fasilitas tersebut disesuaikan dengan behavioural ecology orangutan dan struktur kanopi hutan untuk memfasilitasi perilaku pergerakan arboreal yang alami.
“Dari pembelajaran kami, inter-connectivity, penggunaan multiple supports, dan pemilihan material merupakan aspek penting dalam desain,” katanya.
Pembelajaran tersebut memperlihatkan bahwa desain jembatan kanopi tidak dapat dibuat dengan pendekatan seragam. Struktur harus mempertimbangkan perilaku satwa sasaran dan karakteristik habitat tempat jembatan dibangun.
Dari Infrastruktur Satwa Menuju Kebijakan Tata Ruang
Talkshow tersebut pada akhirnya tidak hanya membahas apakah jembatan kanopi efektif atau tidak. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana konektivitas satwa liar dapat menjadi bagian permanen dari kebijakan pembangunan.
Para peserta mendorong agar koridor ekologis tidak diposisikan sebagai intervensi tambahan setelah pembangunan berlangsung, melainkan dipertimbangkan sejak tahap perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, pengelolaan kawasan industri, hingga restorasi lanskap.
Dengan demikian, jembatan kanopi dapat ditempatkan sebagai salah satu instrumen dalam strategi yang lebih luas: melindungi habitat yang tersisa, mencegah fragmentasi baru, memulihkan koridor alami, dan menyediakan konektivitas buatan hanya ketika diperlukan.
Kegiatan ini diharapkan menghasilkan peningkatan pemahaman publik mengenai hubungan antara fragmentasi habitat dan risiko penurunan metapopulasi orangutan. Selain itu, forum tersebut ditargetkan menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk mengintegrasikan koridor orangutan ke dalam perencanaan pembangunan nasional serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan lembaga konservasi.
Pesan utama yang mengemuka jelas: jembatan kanopi bukan solusi tunggal untuk menyelamatkan orangutan. Namun, ketika habitat telah terlanjur terfragmentasi dan konektivitas alami tidak lagi memungkinkan, inovasi tersebut dapat menjadi salah satu jembatan menuju solusi—secara harfiah maupun ekologis.