
CILEGON — Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan di kawasan pesisir dan pelabuhan mulai didorong menjadi sumber nilai ekonomi. Pemuda dan kelompok nelayan Link Medaksa Seberang, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Banten, mendapat pelatihan teknologi injection molding atau cetak-injeksi plastik skala kecil dari civitas akademika Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
Program tersebut merupakan bagian dari Hibah Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) 2026 yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah limbah plastik menjadi produk siap jual sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan pesisir.
Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Prof. Hendra, mengatakan pelatihan diawali dengan pengenalan berbagai jenis plastik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku. Peserta diperkenalkan dengan plastik jenis Polypropylene (PP), Polyethylene (PE/HDPE), dan Polyethylene Terephthalate (PET) yang banyak ditemukan pada botol maupun kemasan bekas.
Dr. Hamdan Akbar Notonegoro menjelaskan, pemilahan menjadi tahap penting karena setiap jenis plastik memiliki karakteristik mekanik, kimia, dan fisik yang berbeda. Setelah dipilah, limbah plastik dicuci dan dicacah menjadi serpihan sebelum diproses menggunakan mesin injection molding.
“Mesin yang kami perkenalkan berskala kecil sehingga bisa dioperasikan warga tanpa latar belakang teknik. Plastik cacahan dipanaskan hingga meleleh, lalu disuntikkan ke dalam cetakan untuk membentuk produk jadi,” ujar Prof. Hendra dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Teknologi tersebut memungkinkan masyarakat mengubah bahan plastik bekas menjadi berbagai produk dengan bentuk sesuai cetakan. Pembuatan cetakan sendiri dapat menggunakan mesin perkakas konvensional maupun teknologi Computer Numerical Control (CNC), tergantung desain dan bentuk produk yang akan dibuat.
Dari sisi ekonomi, anggota tim bidang ekonomi, Dr. Hermiyetti, mengatakan nilai produk dapat dihitung secara lebih terukur dengan mempertimbangkan jenis limbah plastik, desain cetakan, biaya tenaga operator, serta penggunaan mesin.
“Dengan demikian, limbah plastik memiliki nilai ekonomi yang terukur,” ujarnya.
Salah satu hasil pelatihan berupa gantungan kunci bertema bahari yang dinilai memiliki peluang menjadi suvenir khas kawasan Pelabuhan Merak. Pengembangan produk juga diarahkan melalui pembentukan kelompok usaha bersama, dengan pemuda berperan sebagai operator mesin dan nelayan sebagai pemasok bahan baku plastik.
Selain keterampilan teknis, peserta mendapat pendampingan mengenai strategi pemasaran agar produk hasil daur ulang tidak hanya berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.
Salah satu peserta, Hidayat, mengaku mendapatkan pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
“Sampah plastik yang biasanya kami kumpulkan dan jual ke pengepul limbah plastik sekarang bisa diolah jadi barang jadi yang laku dijual,” katanya.
Tim PKM Untirta berharap teknologi injection molding skala kecil tersebut dapat terus dikembangkan masyarakat Link Medaksa Seberang. Selain membantu mengurangi timbunan sampah plastik di kawasan pesisir, teknologi ini diharapkan mampu membuka peluang usaha dan sumber pendapatan baru bagi pemuda serta keluarga nelayan di wilayah Cilegon.