Bukan Sekadar Parkir, Begini Secure Parking Mengelola Operasional Pondok Indah

ANP • Wednesday, 19 Aug 2026 - 15:35 WIB

Jakarta — Bagi pengunjung, parkir mungkin hanya menjadi bagian singkat dari perjalanan: masuk, mencari tempat, membayar, lalu keluar. Namun, di balik proses tersebut terdapat rangkaian operasional yang harus berjalan terus-menerus, menyesuaikan karakter area, pola aktivitas, kondisi lapangan, hingga kebutuhan pengguna.

Kompleksitas tersebut terlihat di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, tempat PT Securindo Packatama Indonesia (Secure Parking Indonesia/SPI) mengelola operasional parkir di Pondok Indah Mall (PIM) 1, PIM 2, PIM 3, PIM 5, dan Pondok Indah Office Tower (PIOT). Kelima area tersebut memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga pengelolaan parkir tidak dapat sepenuhnya menggunakan pendekatan yang sama.

Melalui media site visit yang berlangsung hari ini, SPI mengajak media melihat langsung berbagai aspek operasional yang berada di balik layanan parkir sehari-hari, mulai dari pengaturan area, pengelolaan kapasitas, Control Room, penataan fisik area, hingga penerapan teknologi.

“Setiap area memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana kami menyesuaikan operasional tanpa mengurangi standar layanan,” ujar Rustam Rachmat, Managing Director Secure Parking Indonesia.
 

Tidak Semua Area Bisa Dikelola dengan Cara yang Sama
Dengan kapasitas agregat sekitar 10.000 kendaraan di lima area tersebut dan operasional kawasan yang berlangsung 24 jam, pengelolaan parkir membutuhkan penyesuaian pada berbagai aspek.

Salah satunya terlihat pada Premium Area, yang memiliki karakter layanan dan tarif berbeda dari parkir reguler. Dalam hal tarif, kebijakan dan penetapan tarif merupakan bagian dari kebijakan pengelola gedung atau kawasan. Sementara itu, SPI bertanggung jawab memastikan ketentuan tersebut dapat diterapkan secara konsisten dalam pelaksanaan operasional di lapangan.

Pendekatan serupa berlaku pada penataan area parkir. SPI melakukan modernisasi dan pemeliharaan berbagai elemen, termasuk marka parkir serta pengecatan lantai dengan epoxy.

Di Pondok Indah, warna epoxy dibedakan pada setiap lantai untuk membantu memberikan identitas visual bagi area parkir. Pilihan warna mengikuti arahan pengelola gedung, sementara implementasi dan pemeliharaan area menjadi bagian dari pekerjaan operasional SPI.

Bagi SPI, penataan tersebut bukan semata persoalan estetika. Marka, warna area, dan signage membantu menciptakan lingkungan parkir yang lebih terstruktur dan mudah dipahami pengguna.

“Standarnya harus konsisten, tetapi cara kita menjalankannya tidak selalu bisa sama di setiap lokasi. Kami perlu memahami kondisi masing-masing area dan menyesuaikan operasional dengan kebutuhan di lapangan,” kata Rustam.
 

Dari Area Parkir hingga Control Room

Pengelolaan kawasan dengan berbagai karakter juga membutuhkan koordinasi dan monitoring yang berlangsung secara berkesinambungan.

Di Pondok Indah, SPI memiliki Control Room terpusat yang menjadi bagian dari pemantauan dan koordinasi operasional. Tim bekerja dengan pengaturan shift untuk memastikan monitoring dan respons terhadap kondisi lapangan dapat berjalan sepanjang operasional kawasan.

SPI juga menggunakan perangkat otomatis untuk membantu memantau kapasitas parkir yang tersedia. Informasi tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengaturan arus kendaraan dan kondisi operasional di area parkir.

Dengan demikian, pengelolaan parkir tidak hanya berlangsung di gerbang masuk dan keluar. Di belakangnya terdapat koordinasi antara tim lapangan, sistem monitoring, pengaturan kapasitas, dan Control Room untuk menjaga operasional tetap berjalan sesuai kebutuhan.

“Teknologi membantu kami bekerja lebih efektif, tetapi kualitas layanan tetap ditentukan oleh bagaimana sistem dan SDM bekerja bersama,” ujar Rustam.
 

Teknologi Mendukung, Bukan Menggantikan Operasional

Teknologi menjadi salah satu bagian dari pengembangan layanan SPI. Namun, bagi perusahaan, teknologi bukan tujuan akhir.

Melalui Epsilon Parking System (EPS), SPI menggunakan sistem parkir berbasis cloud dengan kontrol dan monitoring terpusat untuk mendukung pencatatan kendaraan, monitoring operasional, pelaporan, serta integrasi pembayaran digital.

Sementara itu, eNOS (Epsilon No Scan No Tap) menghadirkan pengalaman parkir digital tanpa tiket, kartu, maupun tap. Kendaraan dapat diidentifikasi menggunakan License Plate Recognition (LPR), sementara transaksi dilakukan secara digital melalui aplikasi. Teknologi tersebut sebelumnya juga telah menjadi bagian dari pengembangan sistem digital SPI secara nasional.

Di lapangan, SPI juga menggunakan Flaplock sebagai bagian dari pengaturan dan pengamanan akses kendaraan serta mendukung kebutuhan baru kawasan seperti fasilitas EV charging.

Bagi SPI, manfaat teknologi terletak pada kemampuannya mendukung proses menjadi lebih praktis, pencatatan lebih sistematis, dan monitoring lebih mudah dilakukan.

“Yang kami lihat bukan sekadar perangkat apa yang digunakan, tetapi bagaimana teknologi tersebut membantu tim menjalankan operasional dengan lebih tertib dan konsisten,” kata Rustam.
 

Operator Parkir Semakin Dituntut Memahami Kawasan

Perubahan karakter kawasan dan meningkatnya ekspektasi pengguna turut mengubah peran operator parkir.

Operator tidak lagi hanya dituntut memastikan kendaraan dapat masuk dan keluar, tetapi juga perlu memahami karakter aktivitas kawasan, pola pengguna, kebutuhan pengelola, serta bagaimana operasional dapat berjalan lebih efektif.

Dalam praktiknya, hal tersebut membutuhkan koordinasi yang jelas antara pengelola kawasan dan operator. Kebijakan serta kebutuhan kawasan menjadi acuan, sementara SPI menerjemahkannya ke dalam pelaksanaan operasional parkir dan memastikan standar layanan dijalankan di lapangan.
“Keberhasilan layanan parkir bukan hanya soal kendaraan bisa masuk dan keluar, tetapi bagaimana layanan tersebut dapat mendukung kawasan berjalan dengan baik,” ujar Rustam.
 

Pertumbuhan 2026 Berjalan Bersama Konsistensi

Di tengah kebutuhan kawasan yang semakin beragam, SPI menargetkan pertumbuhan bisnis sebesar 10% pada 2026. Target tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk terus memperluas layanan sekaligus mempertahankan kualitas operasional.

Memasuki paruh kedua tahun ini, SPI akan terus menyeimbangkan ekspansi jaringan, penguatan lokasi eksisting, pengembangan teknologi, dan peningkatan kualitas operasional.

Bagi SPI, pertumbuhan tidak semata-mata diukur dari bertambahnya lokasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan standar layanan dapat tetap diterapkan secara konsisten ketika perusahaan beroperasi di lebih banyak kawasan dengan karakter yang berbeda.

“Pertumbuhan bukan hanya tentang bertambahnya lokasi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap lokasi dapat kami layani dengan standar operasional dan kualitas layanan yang konsisten,” tutup Rustam.