
Pare, Kediri – Kampung Inggris Pare selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia. Ribuan peserta dari berbagai daerah datang untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.
Namun, di tengah tingginya kebutuhan pembelajaran tersebut, tantangan baru muncul: bagaimana para tutor terus berinovasi agar proses belajar tidak monoton dan mampu mengikuti perkembangan teknologi digital.
Menjawab tantangan itu, tim dosen dan mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Peningkatan Kapasitas Tutor Bahasa Inggris melalui Pendampingan Implementasi Course Review Horay dan Mini Group Discussion Berbasis Teknologi Digital dan Hasil Penelitian.”
Program ini merupakan kegiatan PKM yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Kegiatan dilaksanakan bersama mitra Fajar English Course di Pare dengan melibatkan 15 tutor dan 2 tenaga kependidikan. Pendampingan mulai dilaksanakan mulai bulan Juli – selesai yang dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, praktik mengajar, penerapan teknologi, hingga monitoring dan evaluasi.
Berangkat dari Masalah Nyata di Ruang Kelas
Program ini tidak sekadar menghadirkan pelatihan metode mengajar. Kegiatan tersebut berangkat dari hasil observasi dan diskusi dengan mitra yang menunjukkan masih adanya tantangan dalam penerapan pembelajaran aktif dan pemanfaatan teknologi.
Sebagian proses pembelajaran masih membutuhkan penguatan dalam variasi strategi mengajar, pengelolaan diskusi kelompok, penggunaan media digital, dan evaluasi pembelajaran. Para tutor diajak untuk mengenal dan mempraktikkan secara langsung inovasi pembelajaran di kelas.
Mengubah Hasil Penelitian Menjadi Praktik Pembelajaran
Salah satu kekuatan program ini adalah penerapan hasil penelitian sebelumnya ke dalam praktik nyata di lembaga pendidikan nonformal.
Tim UNHASY mengembangkan dua pendekatan pembelajaran, yakni Course Review Horay (CRH) dan Mini Group Discussion (MGD). Dalam program ini, kedua metode tersebut tidak hanya diterapkan secara konvensional, tetapi diintegrasikan dengan inovasi teknologi.
Mini Group Discussion diterapkan untuk mendorong peserta didik lebih aktif berdiskusi, berinteraksi, menyampaikan pendapat, dan melatih kemampuan berbicara dalam kelompok kecil. Dan CRH sebagai bentuk evaluasi berupa quiz.
Program ini merupakan bentuk hilirisasi hasil penelitian tim pengusul yang sebelumnya menemukan bahwa Course Review Horay dapat mendukung pembelajaran interaktif dan keterampilan berpikir kritis, sedangkan Mini Group Discussion mampu meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik dalam memahami materi dan melakukan interaksi komunikatif.
Mr.Zeezan, Bidang Kurikulum Fajar English Course menyambut positif kegiatan pendampingan tersebut. “Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan SDM para tutor secara berkala serta menambah wawasan dalam hal pengajaran dan pembelajaran. Selain itu, para tutor juga diajarkan mengenai manajemen kelas dan bagaimana melakukan penilaian yang tepat dengan memanfaatkan teknologi,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kapasitas tutor perlu dilakukan secara berkelanjutan karena perkembangan dunia pendidikan dan karakter peserta didik terus berubah. Tutor tidak cukup hanya memiliki kemampuan Bahasa Inggris, tetapi juga perlu menguasai strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, evaluasi, dan teknologi pendidikan.
Dari Tutor untuk Kualitas Pembelajaran yang Lebih Baik
Program pendampingan ini dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi kebutuhan mitra, workshop CRH Digital dan Mini Group Discussion, pelatihan manajemen pembelajaran digital, penerapan teknologi, uji coba di kelas, asistensi mengajar, hingga monitoring dan evaluasi. Tutor tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga terlibat aktif dalam proses perubahan.
Setelah mendapatkan pelatihan, mereka akan mempraktikkan metode yang dipelajari dalam pembelajaran nyata dan mendapatkan pendampingan dari tim dosen dan mahasiswa UNHASY.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena tujuan program bukan sekadar menghasilkan kegiatan pelatihan satu kali, melainkan membangun keberlanjutan inovasi pembelajaran di lembaga mitra.
Program dirancang dengan pendampingan berkelanjutan, praktik langsung, refleksi pembelajaran, serta penguatan sistem agar inovasi yang diterapkan dapat terus digunakan setelah program selesai.
Melalui kegiatan ini, UNHASY berharap inovasi pembelajaran yang lahir dari dunia akademik tidak berhenti sebagai hasil penelitian atau publikasi ilmiah. Hasil riset harus dapat hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi UNHASY dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui penerapan hasil penelitian, inovasi teknologi, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.