UMB Dorong Transformasi Bank Sampah Menuju Energi Hijau melalui Biodigester di Jatinegara Kaum

MUS • Saturday, 15 Aug 2026 - 14:34 WIB

Jakarta – Universitas Mercu Buana (UMB) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melaksanakan program “Transformasi Bank Sampah Menuju Energi Hijau: Model Pengolahan Sampah Organik Menjadi Biogas Skala Komunitas di RW 02 Jatinegara Kaum.” Program ini mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat agar tidak berhenti pada kegiatan pemilahan dan pengumpulan, tetapi berkembang menuju pemanfaatan sampah organik sebagai sumber energi alternatif.

Program dilaksanakan oleh tim Universitas Mercu Buana yang diketuai Dr. Adi Nurmahdi, MBA, dengan anggota Dr. Janfry Sihite, SE, MSM dan Ir. Muhammad Isradi, ST, MT, Ph.D, serta melibatkan mahasiswa Universitas Mercu Buana. Mitra utama program adalah Bank Sampah My Darling RW 02 Jatinegara Kaum, dengan dukungan Pemerintah Kelurahan Jatinegara Kaum dan masyarakat setempat.

Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Tahun Anggaran 2026.

Dari Sampah Organik Menjadi Energi

Salah satu inovasi utama program adalah penerapan biodigester berkapasitas 1.400 liter yang didukung mesin pembubur sampah organik dan perangkat pemanfaatan biogas. Teknologi tersebut digunakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat proses pengolahan bahan organik secara anaerob sehingga berpotensi menghasilkan biogas sebagai energi alternatif dan bioslurry yang dapat dimanfaatkan kembali.

Program dirancang tidak sekadar menyerahkan teknologi kepada masyarakat. Tim UMB mengintegrasikan hard technology berupa biodigester dan peralatan pendukung dengan soft technology melalui edukasi, pelatihan, demonstrasi, praktik, SOP, pendampingan, serta monitoring.

Pelaksanaan dilakukan secara partisipatif melalui lima tahapan, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program. Pelatihan dan sosialisasi dilaksanakan pada 22 Juli 2026, dilanjutkan monitoring dan evaluasi pada 5 Agustus 2026.

Pengetahuan Masyarakat Meningkat

Evaluasi terhadap 37 peserta menunjukkan perkembangan positif setelah kegiatan pelatihan dan demonstrasi. Sebanyak 72,97% peserta merupakan perempuan, sedangkan 56,76% berusia 45 tahun atau lebih. Hampir separuh peserta atau 45,95% merupakan ibu rumah tangga.

Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor peserta meningkat dari 4,04 pada pre-test menjadi 4,60 pada post-test. Indeks capaian meningkat dari 80,86% menjadi 92,05%, atau mengalami peningkatan sebesar 11,19 poin persentase.

Respons positif dalam kategori Setuju dan Sangat Setuju juga meningkat dari 75,95% sebelum kegiatan menjadi 96,49% setelah kegiatan. Peningkatan yang menonjol terjadi pada pemahaman mengenai cara kerja biodigester, dengan indeks meningkat dari 76,76% menjadi 93,51%.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengenalan teknologi lingkungan akan lebih mudah dipahami masyarakat ketika edukasi dikombinasikan dengan demonstrasi dan praktik langsung.

Partisipasi Warga Menjadi Modal Keberlanjutan

Selain peningkatan pengetahuan, program menunjukkan modal sosial yang positif. Setelah pelatihan, 97,30% peserta menyatakan bersedia melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik di rumah. Seluruh 37 peserta juga memberikan respons Setuju atau Sangat Setuju terhadap kesediaan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan biodigester di lingkungan RW 02.

Tingkat penerimaan terhadap program juga tercermin dari indeks kepuasan sebesar 94,05%, dengan 97,03% respons berada pada kategori Puas dan Sangat Puas.

Ketua Pelaksana, Dr. Adi Nurmahdi, MBA, menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya biodigester.

“Keberhasilan bukan hanya ketika alat diserahkan kepada masyarakat. Ukuran yang lebih penting adalah ketika masyarakat mampu memilah sampah secara konsisten, operator mampu menjalankan biodigester, biogas dan bioslurry dapat dimanfaatkan, serta sistem dapat terus berjalan secara mandiri setelah program selesai,” jelasnya.

Dari Output Menuju Outcome

Keberadaan biodigester 1.400 liter merupakan output penting program. Namun, tim UMB menempatkan outcome dan keberlanjutan sebagai ukuran keberhasilan yang lebih substantif.

Monitoring lanjutan diarahkan untuk mencatat jumlah sampah organik yang benar-benar diolah, partisipasi rumah tangga, konsistensi pengoperasian biodigester, pembentukan dan pemanfaatan biogas, pemanfaatan bioslurry, serta kesiapan operator dan kelembagaan Bank Sampah My Darling.

Pendekatan tersebut penting karena teknologi berbasis masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan alat. Keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kontinuitas bahan baku, keterampilan operator, partisipasi masyarakat, pemeliharaan, SOP, monitoring, serta tata kelola komunitas.

Program ini sekaligus memperluas fungsi bank sampah dari pendekatan konvensional yang berfokus pada pengumpulan dan pemilahan menuju konsep Bank Sampah Energi Hijau, yaitu pengelolaan sampah yang mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular, energi terbarukan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan lokal.

Mendukung Pengelolaan Sampah dari Sumber

Program sejalan dengan upaya mendorong pengelolaan sampah sedekat mungkin dari sumbernya. Rumah tangga tidak hanya diposisikan sebagai penghasil sampah, tetapi menjadi aktor pertama dalam rantai pengelolaan melalui pemilahan, pengumpulan, dan pemanfaatan sampah organik.

Lurah Jatinegara Kaum Henrica Kuswandari, S.P., M.Si. menekankan pentingnya efektivitas dan keberlanjutan pemanfaatan teknologi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Dukungan juga diberikan oleh pengurus RW 02, Bank Sampah My Darling, operator biodigester, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan bahwa teknologi yang telah diterapkan dapat dikelola secara berkelanjutan.

Program ini berkontribusi terhadap agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 7 – Affordable and Clean Energy, SDG 11 – Sustainable Cities and Communities, SDG 12 – Responsible Consumption and Production, serta SDG 13 – Climate Action.

Satu unit biodigester tentu tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan sampah perkotaan Jakarta. Namun, pengalaman di RW 02 Jatinegara Kaum menunjukkan bahwa transformasi dapat dimulai dari skala yang paling dekat dengan masyarakat: rumah tangga, bank sampah, dan komunitas.

Tahapan keberhasilan yang ingin dibangun melalui program ini bergerak dari: Awareness → Knowledge → Skill → Participation → Actual Behavior → Sustainable Operation

Jika pengoperasian biodigester, pemilahan sampah, produksi dan pemanfaatan biogas serta bioslurry dapat berlangsung secara konsisten, pengalaman Bank Sampah My Darling RW 02 Jatinegara Kaum berpotensi menjadi pembelajaran bagi pengembangan model pengelolaan sampah organik berbasis energi hijau di komunitas perkotaan lainnya.