SMK di Jombang Ubah Limbah Pangan Jadi Maggot dan Pupuk lewat Teknologi Digital

AKM • Saturday, 15 Aug 2026 - 08:13 WIB
SMK Plus Khoiriyah Hasyim Jombang mengolah limbah pangan menjadi sumber daya melalui inovasi MAGHASY

JOMBANG — Sisa makanan di lingkungan sekolah tak lagi sekadar menjadi sampah. SMK Plus Khoiriyah Hasyim Jombang mengolah limbah pangan menjadi sumber daya melalui inovasi MAGHASY (Smart Maggot Bioconversion)yang memadukan budidaya larva Black Soldier Fly (BSF), ekonomi sirkular, pembelajaran STEM, dan monitoring digital.

Program tersebut dikembangkan Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang bersama SMK Plus Khoiriyah Hasyim melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.

Inovasi ini diterapkan untuk mengelola limbah pangan dari sekitar 4.000 siswa yang memiliki aktivitas konsumsi tiga kali sehari. Limbah organik dipilah dan dimanfaatkan sebagai pakan larva BSF melalui unit biokonversi modular. Proses tersebut menghasilkan biomassa maggot serta kasgot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

MAGHASY juga dilengkapi sistem monitoring digital untuk mencatat volume limbah, hasil biokonversi, biomassa maggot, dan kasgot. Data tersebut digunakan untuk pemantauan dan evaluasi sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran siswa.

Kepala SMK Plus Khoiriyah Hasyim Jombang, David Sugiarto, mengatakan program tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam mengelola limbah.

“Program ini memberikan solusi nyata dalam pengelolaan limbah pangan di sekolah. Siswa tidak hanya belajar mengenai lingkungan secara teori, tetapi dapat melihat dan mempraktikkan langsung bagaimana limbah pangan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Menggabungkan Teknologi

Ketua pelaksana Kusnul Ciptanila Yuni K. mengatakan MAGHASY dirancang untuk menggabungkan teknologi, lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan.

“Kami ingin menghadirkan solusi pengelolaan limbah pangan yang sederhana, mudah diterapkan, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung ekonomi sirkular sekaligus membangun budaya peduli lingkungan melalui teknologi digital,” jelasnya.

Program tersebut menghasilkan unit biokonversi BSF modular, sistem monitoring digital, peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra, serta pemanfaatan maggot dan kasgot. Model MAGHASY juga dinilai berpotensi diterapkan di institusi pendidikan lainnya.

Inovasi ini turut mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah pangan serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui pengelolaan limbah organik.