
Jakarta – Dalam sambutan utama, Sri Sultan Hamengku Bawono X mengungkapkan bahwa keteladanan Sri Sultan Hamengku Bawono IX tidak berhenti pada kedudukan dan jabatan, tetapi tercermin dalam cara menjalankan tanggung jawab dan pengabdian. Ia mengingat bagaimana Sri Sultan HB IX memperlakukan abdi dalem dan masyarakat kecil dengan penghormatan yang sama seperti kepada tamu negara.
“Dari beliaulah saya memahami bahwa tahta sejatinya bukan privilege melainkan tanggung jawab, bahwa dharma bukan slogan melainkan laku harian dan karsa bukan ambisi pribadi melainkan kehendak untuk mengabdi dengan tulus,” ujar Sri Sultan Hamengku Bawono X.
Peluncuran buku secara resmi dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono X dan ditandai dengan pemukulan gong. Prosesi turut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz, Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Mego Pinandito, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta GKR Hayu, serta Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas Acep Somantri.
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menyampaikan bahwa peluncuran buku tersebut tidak sebatas menandai hadirnya sebuah karya di tengah masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan dan keteladanan Sri Sultan Hamengku Bawono IX. Menurutnya, keteladanan menjadi semakin penting ketika masyarakat, khususnya generasi muda, berhadapan dengan beragam figur dan informasi melalui media digital.
“Ketika buku ini berbicara tentang keteladanan, maka sesungguhnya kita saat ini sedang merindukan keteladanan-keteladanan yang ada di lingkungan kita. Ketika keteladanan itu hampir atau nyaris hilang, maka sesungguhnya keteladanan yang hakiki yang sedang kita cari,” ujar Aminudin.
Ia menegaskan, perpustakaan memiliki posisi strategis sebagai ruang pembelajaran karena menyimpan khazanah ilmu pengetahuan dan budaya dari masa lalu hingga masa kini. Karena itu, menurut Aminudin, perpustakaan harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan peradaban. “Perpustakaan bagaimanapun harus menjadi jantung dari peradaban manusia,” tegasnya.
Aminudin juga mengenang pengalamannya mengikuti Pramuka sejak kecil. Menurutnya, kepramukaan turut membentuk kedisiplinan, kerja keras, dan kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai tersebut dinilainya tetap relevan untuk memperkuat tekad bersama dalam membangun bangsa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menilai penerbitan buku tersebut penting di tengah tantangan semakin renggangnya keterhubungan generasi muda dengan sejarah dan tokoh bangsa. Ia menyebut adanya kecenderungan generasi muda lebih mengenal tokoh dari negara lain dibandingkan tokoh bangsanya sendiri.
Menurut Abdul Mu'ti, buku mengenai Sri Sultan Hamengku Bawono IX dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dan nilai-nilai kepramukaan. Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menetapkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib pada semua jenjang pendidikan.
“Kehadiran buku seperti ini menjadi sangat penting untuk menghidupkan kembali semangat kita di dalam membangun generasi bangsa yang cinta tanah air, yang tertanam dalam dirinya Dasa Darma Pramuka dan tertanam dalam dirinya semangat untuk bangga sebagai bangsa dan generasi Indonesia,” kata Abdul Mu'ti.
Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas Acep Somantri menjelaskan bahwa penerbitan buku tersebut diprakarsai untuk menggali lebih jauh warisan konseptual Sri Sultan Hamengku Bawono IX dalam pengembangan Gerakan Pramuka. Ketokohan Sri Sultan HB IX tidak hanya ditempatkan sebagai figur historis dan organisatoris, tetapi juga dipahami melalui gagasan pendidikan karakter dan tata kelola kepramukaan yang diwariskannya.
Dalam paparannya, Acep antara lain menyinggung pidato Sri Sultan Hamengku Bawono IX pada Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo pada 1971. Buku tersebut juga membahas bagaimana pemikiran Sri Sultan HB IX mengembangkan kepanduan menjadi Gerakan Pramuka yang berakar pada nilai-nilai Indonesia dan Pancasila.
Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Hayu menilai buku tersebut berhasil merekonstruksi kepemimpinan dan fondasi filosofis Sri Sultan Hamengku Bawono IX dalam menyatukan berbagai kelompok kepanduan di Indonesia serta mentransformasikan model kepanduan menjadi sistem pendidikan karakter nasional berbasis Pancasila.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi Keraton Yogyakarta, Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, Gerakan Pramuka, Arsip Nasional Republik Indonesia, dan Perpusnas dalam menjaga warisan sejarah sekaligus menyebarluaskan nilai-nilai keteladanan kepada masyarakat. Dalam konteks tersebut, Perpusnas dipandang sebagai simpul literasi dan pusat penyebaran informasi yang mendokumentasikan jejak sejarah serta pemikiran peradaban Indonesia.
Sri Sultan Hamengku Bawono X berharap buku tersebut menjadi sarana bagi generasi yang tidak pernah bertemu langsung dengan Sri Sultan Hamengku Bawono IX untuk tetap memahami cara berpikir dan laku hidupnya. Ia menyebut buku itu sebagai upaya menerjemahkan sebuah kehidupan menjadi “kurikulum moral” bagi generasi berikutnya.
“Sebab keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan. Sedangkan keteladanan yang dihayati akan menjadi peradaban,” ujarnya.
Peluncuran buku Takhta, Darma, dan Karsa menjadi bagian dari upaya memperluas pembelajaran mengenai sejarah, kepemimpinan, pendidikan karakter, dan nilai pengabdian Sri Sultan Hamengku Bawono IX kepada generasi Indonesia.