
Jakarta - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional (UNAS) kembali menyelenggarakan The 6th International Conference of Social Politics (ICOSOP) 2026 secara hybrid pada Rabu (12/8). Mengangkat tema “Reconfiguring the Global South in a Fragmented World: Digital Transformation, Governance, and Inclusive Futures,” konferensi ini menjadi ruang akademik untuk membahas perubahan tatanan global, transformasi digital, tata kelola pemerintahan, serta peluang penguatan kerja sama negara-negara Global South.
Kegiatan yang berlangsung di Cyber Auditorium Universitas Nasional, Jakarta, tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta pembicara dari berbagai negara, baik secara luring maupun daring. Salah satu tokoh utama yang hadir sebagai keynote speaker adalah Duta Besar Republik Rwanda untuk Republik Indonesia, His Excellency Sheikh Abdul Karim Harelimana.
Konferensi dibuka dengan sambutan Ketua Pelaksana ICOSOP 2026, Atina Izza, S.Hub.Int., M.Sc. Dalam sambutannya, Atina menyampaikan bahwa tema yang diangkat pada ICOSOP 2026 memiliki relevansi kuat dengan kondisi dunia saat ini yang semakin terkoneksi, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi berbagai bentuk fragmentasi.
Menurutnya, dunia saat ini tengah mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh transformasi teknologi, kompetisi geopolitik, ketidakpastian ekonomi, tantangan perubahan iklim, serta perubahan pola tata kelola global. Perubahan tersebut, khususnya bagi negara-negara Global South, tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang untuk meninjau kembali pemahaman mengenai pembangunan, pemerintahan, kerja sama, dan posisi negara-negara Global South dalam tatanan global.
“Kita menyaksikan dunia yang semakin terhubung, tetapi pada saat yang sama juga semakin terfragmentasi,” ujar Atina dalam sambutannya.

(kiri-kanan) Wakil Dekan FISIP Bidang Keuangan, SDM, Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Kerjasama (AKS-PPMK) Dr. Mary Ismowati, M.Si., keynote speech-nya, Duta Besar Republik Rwanda untuk Republik Indonesia, His Excellency Sheikh Abdul Karim Harelimana, Pembicara Mr. Karim Blasi (USA), Dekan FISIP UNAS, Dr. Aos Yuli Firdaus, S.IP., M.Si. dan Ketua Pelaksana ICOSOP 2026, Atina Izza, S.Hub.Int., M.Sc. berfoto bersama usai pemberian plakat
Atina menegaskan, ICOSOP tidak semata-mata menjadi forum untuk mempresentasikan hasil penelitian. Lebih dari itu, konferensi tersebut dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, praktisi, dan mahasiswa untuk bertukar gagasan, menguji berbagai asumsi yang telah ada, sekaligus mendengarkan perspektif dari berbagai belahan dunia.
Ia berharap diskusi yang berlangsung dalam ICOSOP 2026 tidak berhenti ketika konferensi berakhir. Gagasan dan perspektif yang dipertukarkan diharapkan dapat berkembang menjadi kolaborasi penelitian, kerja sama akademik, serta berbagai bentuk percakapan lanjutan di antara para peserta.
Atina juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan FISIP UNAS, para pembicara, moderator, peserta, mitra, serta seluruh panitia yang telah mempersiapkan konferensi. Ia menekankan bahwa penyelenggaraan konferensi internasional merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan berbagai tahapan, mulai dari pertemuan, komunikasi dengan pembicara, proses registrasi, persiapan teknis, sertifikasi, hingga berbagai penyesuaian menjelang pelaksanaan acara.
“Penyelenggaraan konferensi internasional tidak pernah merupakan upaya satu orang. Ini adalah perjalanan kolektif,” ungkapnya.

Foto Bersama seluruh panitia, narasumber dan panitia dalam acara The 6th International Conference of Social Politics (ICOSOP) 2026, pada Rabu, 12/8/2026, di Gedung Auditorium UNAS
FISIP UNAS Dorong Dialog tentang Masa Depan Global South
Sementara itu, Dekan FISIP UNAS, Dr. Aos Yuli Firdaus, S.IP., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perkembangan geopolitik, teknologi, tata kelola, dan kehidupan sosial saat ini telah membawa perubahan signifikan terhadap masyarakat dunia.
Ia menilai transformasi digital dan perkembangan teknologi baru menghadirkan berbagai peluang bagi pembangunan dan kerja sama, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan penting terkait ketimpangan, tata kelola, ketergantungan teknologi, dan otonomi strategis.
Karena itu, menurut Aos, dialog akademik dan kolaborasi internasional menjadi semakin penting untuk memahami perubahan tersebut sekaligus mengeksplorasi berbagai kemungkinan menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Transformasi digital dan teknologi yang berkembang menghadirkan berbagai kemungkinan baru bagi pembangunan dan kerja sama, sekaligus menimbulkan pertanyaan penting mengenai ketimpangan, tata kelola, ketergantungan teknologi, dan otonomi strategis,” tuturnya.
Melalui ICOSOP 2026, FISIP UNAS berharap dapat menghadirkan platform akademik yang memungkinkan para akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan, berbagi perspektif, serta membangun jejaring dan kolaborasi akademik yang berkelanjutan.
Aos juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara internasional dan nasional yang telah berkenan hadir dan berbagi pengetahuan dalam konferensi tersebut. Menurutnya, keberadaan para pembicara dari berbagai negara semakin memperkaya perspektif yang dibahas dalam ICOSOP 2026 sekaligus memperkuat posisi konferensi sebagai ruang pertukaran gagasan lintas negara.
Ia berharap konferensi tersebut dapat menghasilkan gagasan-gagasan baru, mendorong pertukaran akademik yang bermakna, memperkuat jejaring internasional, serta berkontribusi terhadap upaya bersama dalam membangun masa depan Global South yang inklusif, berkelanjutan, dan resilien.

Pembicara Mr. Karim Blasi (USA) saat menyampaikan paparan materinya dalam acara The 6th International Conference of Social Politics (ICOSOP) 2026, pada Rabu, 12/8/2026, di Gedung Auditorium UNAS
Reconfiguring Global South Hadapi Dunia yang Semakin Terfragmentasi
Dalam keynote speech-nya, Duta Besar Republik Rwanda untuk Republik Indonesia, His Excellency Sheikh Abdul Karim Harelimana, menekankan pentingnya negara-negara Global South untuk melakukan reconfiguring atau penataan kembali strategi dalam menghadapi perubahan dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi.
Menurutnya, fragmentasi dunia tidak menjadi persoalan selama perbedaan antarnegara tidak berkembang menjadi ego kepentingan, perpecahan, dan persaingan yang menghambat kerja sama. Karena itu, negara-negara Global South perlu memperkuat persatuan dan memperkecil kesenjangan antarkawasan agar mampu menghadapi berbagai tantangan global secara bersama-sama.
Sheikh Abdul Karim Harelimana mengingatkan bahwa kondisi dunia saat ini telah jauh berbeda dibandingkan ketika Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Perkembangan teknologi, perubahan geopolitik, serta dinamika hubungan internasional menuntut negara-negara Global South untuk menyesuaikan diri dan menghadirkan solusi baru.
“Kita perlu melakukan penataan kembali dan bergerak mengikuti perkembangan dunia. Kita harus menghadapi tantangan baru dengan solusi baru,” tegasnya.
Ia kemudian menyoroti transformasi digital sebagai salah satu faktor penting dalam membentuk masa depan Global South. Menurutnya, negara-negara yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi akan semakin tertinggal. Karena itu, transformasi digital harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat.
Sheikh Abdul Karim Harelimana mencontohkan pengalaman Rwanda dalam menerapkan layanan pemerintahan digital. Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan pemerintah tanpa harus datang langsung ke kantor. Ia juga menyebut pemanfaatan teknologi drone untuk mendistribusikan darah dan kebutuhan medis ke wilayah yang sulit dijangkau sebagai contoh pemanfaatan teknologi untuk menjawab persoalan praktis masyarakat.
Namun, ia menegaskan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Literasi digital, akses yang merata, tata kelola yang bertanggung jawab, perlindungan data, keamanan siber, serta kepercayaan publik harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut.
Selain transformasi digital, ia mendorong penguatan South-South Cooperation. Menurutnya, negara-negara Global South memiliki potensi besar untuk saling belajar dan bekerja sama dalam bidang pendidikan, inovasi, kesehatan, pertanian, perdagangan, investasi, serta pengembangan sumber daya manusia.
“Kita perlu memperkuat kerja sama di antara negara-negara Global South. Rwanda dapat belajar dari Indonesia, Indonesia dapat belajar dari Rwanda, Afrika dapat belajar dari Asia, dan Asia dapat belajar dari Afrika,” ujarnya.
Pada akhirnya, Sheikh Abdul Karim Harelimana menegaskan bahwa masa depan Global South harus dibentuk melalui peran aktif negara-negara di dalamnya. Investasi pada manusia, penguatan institusi, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, dan pembangunan kemitraan menjadi kunci untuk menciptakan masa depan yang lebih inklusif.
“Masa depan Global South tidak seharusnya hanya dibentuk untuk kita. Kita harus memiliki peran yang bermakna dalam membentuk masa depan tersebut,” katanya.
(Kiri-kanan) Moderator Muhammad Mahrus, S.I.P., M.A., Pembicara Mr. Karim Blasi (USA) dan Dr. Yuri Alfrin Aladdin, M.Si., M.I.Kom. saat sesi diskusi yang berlangsung dalam acara The 6th International Conference of Social Politics (ICOSOP) 2026, pada Rabu, 12/8/2026, di Gedung Auditorium UNAS
Hadirkan Pembicara dari Berbagai Negara
Selain keynote speaker, ICOSOP 2026 menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang akademik dan profesional. Kehadiran para pembicara tersebut memperkuat perspektif internasional dalam pembahasan mengenai dinamika Global South.
Para speakers yang hadir dalam ICOSOP 2026 meliputi Mr. Karim Blasi, Strategic Finance & Governance Advisor pada bidang Private Market Allocations & Cross-Border Business Strategy; Dr. Qonitah Basalamah, M.Si., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional; Prof. Dr. Oleksiy Haran; Prof. Dr. Lai Yew Meng, Director Research Management Centre, Universiti Malaysia Sabah; serta Dr. Yuri Alfrin Aladdin, M.Si., M.I.Kom., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional.
Sementara itu, sesi konferensi dimoderatori oleh Muhammad Mahrus, S.I.P., M.A., Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Nasional.
Kehadiran para pembicara dari sejumlah negara tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif peserta dalam melihat persoalan Global South, terutama karena masing-masing pembicara membawa pengalaman, kepakaran, serta sudut pandang yang berbeda.
Lima Subtema Bahas Tantangan Global South
Untuk memperdalam pembahasan utama konferensi, ICOSOP 2026 mengangkat lima subtema yang merepresentasikan sejumlah persoalan strategis yang dihadapi Global South.
Subtema pertama adalah “Global South in a Fragmented World Order: Between Strategic Autonomy and Great Power Rivalry,” yang membahas posisi Global South dalam tatanan dunia yang terfragmentasi, khususnya di tengah persaingan kekuatan besar dan kebutuhan negara-negara Selatan untuk membangun otonomi strategis.
Subtema kedua, “Digital Democracy versus Technological Authoritarianism: Contesting Power in a Fragmented Global Order,” mengangkat dinamika demokrasi digital dan potensi berkembangnya otoritarianisme berbasis teknologi dalam tatanan global yang semakin terfragmentasi.
Selanjutnya, subtema “AI, Digital Culture, and Communication Inequality in the Global South: Navigating Ethics, Power, and Participation” membahas perkembangan kecerdasan buatan, budaya digital, serta ketimpangan komunikasi di negara-negara Global South, termasuk persoalan etika, kekuasaan, dan partisipasi masyarakat.
Subtema keempat, “Social Science in the New Global Order: Knowledge, Decolonization, and South-South Epistemology,” mengarahkan perhatian pada posisi ilmu sosial dalam tatanan dunia baru, termasuk persoalan pengetahuan, dekolonisasi, dan epistemologi South-South.
Sementara itu, subtema kelima adalah “Securing Inclusive Futures: Rethinking Security and Defense Policy in the Global South,” yang membahas kembali kebijakan keamanan dan pertahanan dalam rangka membangun masa depan Global South yang lebih inklusif.
Kelima subtema tersebut memperlihatkan luasnya cakupan diskusi ICOSOP 2026, mulai dari geopolitik, demokrasi digital, kecerdasan buatan, ilmu sosial, hingga keamanan dan pertahanan.
Dengan rangkaian pembukaan dan diskusi tersebut, ICOSOP 2026 menegaskan perannya bukan hanya sebagai forum akademik untuk membahas perubahan global, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan perspektif dari berbagai negara dalam mencari solusi bersama terhadap tantangan dunia yang semakin kompleks.
Melalui tema “Reconfiguring the Global South in a Fragmented World: Digital Transformation, Governance, and Inclusive Futures,” konferensi ini diharapkan dapat mendorong lahirnya gagasan, penelitian, inovasi, serta jejaring kerja sama yang berkontribusi terhadap terbentuknya Global South yang lebih inklusif, adaptif, mandiri, dan mampu memainkan peran strategis dalam tatanan global. (*Dimas Wijaksono)