
BOGOR — Keluhan kesemutan, kebas, atau rasa panas pada kaki kerap dianggap sebagai kondisi biasa, terutama oleh warga lanjut usia. Namun, pada penderita diabetes melitus, gejala tersebut dapat berkaitan dengan neuropati sensoris yang berpotensi menimbulkan gangguan lebih serius apabila tidak dikenali dan ditangani sejak dini.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Bina, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan bertajuk “Upaya Pencegahan Neuropati Sensoris dengan Gangguan Diabetes Melitus” itu diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri atas pengurus dan warga lansia pesantren serta masyarakat lanjut usia di sekitar lokasi.
Program tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Pengabdian dan Inovasi Sosial (DPIS) UI melalui skema Hibah Kepedulian kepada Masyarakat (Kepmas) Tahun 2026. Pelaksanaannya diteruskan melalui Sekolah Vokasi UI dan Program Studi Fisioterapi.
Ketua tim kegiatan, Fauziyah Nur Aliifah, mengatakan program tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai komplikasi diabetes, khususnya gangguan pada sistem saraf perifer.
“Kasus diabetes melitus di masyarakat masih tinggi, tetapi banyak warga yang belum menyadari bahwa kesemutan atau kebas yang dialami dapat mengarah pada komplikasi neuropati sensoris,” ujar Fauziyah.
Menurut dia, kegiatan di lingkungan pesantren juga mempertimbangkan keterbatasan akses sebagian warga terhadap pemeriksaan kesehatan secara berkala. Karena itu, tim tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melakukan pemeriksaan sederhana dan memberikan latihan yang dapat diterapkan secara mandiri.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari program serupa yang dilakukan tim di lokasi yang sama pada 2025. Pada pelaksanaan tahun ini, cakupan peserta diperluas dengan melibatkan warga lansia dari lingkungan sekitar pesantren.
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) yang dikutip tim, Indonesia tercatat memiliki sekitar 19,5 juta penderita diabetes pada 2021. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta pada 2045.
Tingginya jumlah penderita diabetes membuat pencegahan dan deteksi komplikasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan penyakit tersebut. Neuropati sensoris dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan seseorang merasakan nyeri, suhu, atau sentuhan pada bagian tubuh tertentu, terutama kaki.
Dalam kegiatan di Bojonggede, peserta mengikuti sejumlah rangkaian aktivitas. Program diawali dengan senam yang ditujukan untuk mendukung aktivitas fisik dan pencegahan diabetes, kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan mengenai gejala serta faktor risiko neuropati sensoris.
Peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah latihan, antara lain ankle alphabet dan toe up, serta stimulasi sensorik pada kaki. Latihan tersebut diberikan sebagai bagian dari edukasi agar peserta memahami pentingnya menjaga fungsi dan sensitivitas kaki.
Setelah sesi edukasi dan latihan, tim melakukan pemeriksaan kesehatan yang meliputi tekanan darah, saturasi oksigen, gula darah sewaktu, serta pemeriksaan sensoris pada kaki menggunakan rangsangan tajam-tumpul dan halus-kasar.
Selain pemeriksaan, tim menyediakan buku saku mengenai neuropati sensoris sebagai bahan edukasi yang dapat digunakan kembali oleh masyarakat dan pengurus pesantren.
Tim juga menyiapkan kader kesehatan internal dari kalangan ustaz dan pengurus pesantren. Mereka diarahkan untuk membantu meneruskan edukasi serta latihan sederhana setelah kegiatan mahasiswa berakhir.
Salah seorang pengurus pesantren yang mengikuti kegiatan mengatakan pemeriksaan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi warga, terutama mengenai hubungan antara keluhan pada kaki dengan diabetes.
“Kami di pesantren belum pernah mendapatkan pemeriksaan seperti ini sebelumnya. Kegiatan ini membantu, terutama karena ada warga sekitar yang memiliki keluhan pada kaki tetapi belum mengetahui kaitannya dengan diabetes,” ujarnya.
Fauziyah mengatakan keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian tim agar kegiatan pengabdian masyarakat tidak berhenti pada pemeriksaan satu kali.
Melalui keterlibatan pengurus pesantren sebagai kader, edukasi mengenai gejala neuropati dan pentingnya pemeriksaan diharapkan dapat terus dilakukan di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai komplikasi diabetes. Deteksi terhadap perubahan sensasi pada kaki menjadi salah satu langkah awal yang dapat mendorong masyarakat mencari pemeriksaan lebih lanjut ketika ditemukan keluhan atau perubahan kondisi kesehatan.