Dari Jahe Dairi Menjadi Produk Bernilai Tambah: Politeknik Negeri Media Kreatif Dampingi Kelompok Tani Dosroha

ANP • Tuesday, 11 Aug 2026 - 10:44 WIB

SIDIKALANG, DAIRI — Jahe bukan hanya tanaman rempah yang digunakan untuk bumbu masakan atau minuman penghangat tubuh. Di tangan masyarakat yang mampu mengolahnya, jahe dapat berubah menjadi produk bernilai tambah dengan peluang pasar yang lebih luas. Potensi inilah yang dikembangkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) “Peningkatan Mutu Produk dan Pemasaran Serbuk Jahe pada Kelompok Tani” yang dilaksanakan oleh Politeknik Negeri Media Kreatif bersama Kelompok Tani Dosroha, Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Kegiatan yang berlangsung pada 25 Juli 2026 tersebut diikuti oleh 17 peserta. Tim pengabdian terdiri atas Yusnia Sinambela, Juwairiah, dan Faudunasokhi Telaumbanua. Salah satu kegiatan utama adalah sosialisasi pemanfaatan mesin pengolahan jahe untuk membantu meningkatkan efisiensi produksi dan mutu serbuk jahe.

 

Dari Pengeringan hingga Menjadi Serbuk

Dalam pengolahan jahe menjadi serbuk, tahap pengeringan merupakan salah satu proses penting. Jahe yang telah dibersihkan dan dipersiapkan perlu dikeringkan secara tepat sebelum masuk ke tahap penepungan. Untuk mendukung proses tersebut, diperkenalkan mesin pengering jahe food grade dengan kapasitas 30 kilogram per batch dan daya 1.000 watt. Mesin ini dirancang dengan dimensi sekitar 100 × 60 × 50 sentimeter dan memiliki kemampuan pengeringan hingga mencapai kadar air sekitar 10 persen, sesuai spesifikasi yang digunakan dalam kegiatan. Penggunaan mesin pengering memberikan peluang bagi kelompok tani untuk melakukan proses pengeringan dengan kondisi yang lebih terkontrol dibandingkan pengeringan yang sepenuhnya mengandalkan kondisi lingkungan. Kadar air menjadi salah satu aspek penting dalam penyimpanan produk pangan. Produk yang terlalu lembap lebih rentan mengalami penurunan mutu selama penyimpanan. Karena itu, pengendalian proses pengeringan menjadi bagian penting dalam menghasilkan bahan baku serbuk jahe yang lebih siap untuk diproses. Setelah proses pengeringan, jahe memasuki tahap berikutnya, yaitu penepungan.Untuk proses ini, Kelompok Tani Dosroha diperkenalkan dengan mesin penepung jahe berbahan stainless steel. Mesin tersebut memiliki kapasitas sekitar 25–30 kilogram per proses, menggunakan motor 500 watt, dan dapat menghasilkan tingkat kehalusan pada kisaran mesh 60–120. Bagi kelompok tani, kapasitas tersebut memberikan peluang untuk mengolah jahe dalam jumlah yang cukup besar dalam satu kali proses. Penggunaan material stainless steel juga sesuai untuk peralatan yang digunakan dalam pengolahan pangan karena mudah dibersihkan dan dirawat.

Teknologi Bukan Sekadar Mesin

Pengenalan mesin kepada kelompok tani bukan sekadar memberikan peralatan, tetapi juga membangun pemahaman mengenai cara menggunakan teknologi secara tepat. Peserta diberikan sosialisasi mengenai fungsi mesin, tahapan penggunaan, serta pentingnya menjaga kebersihan dan melakukan perawatan. Mesin pengering dan mesin penepung harus digunakan sesuai prosedur agar dapat bekerja optimal dan memiliki umur penggunaan yang lebih panjang.

Bagi masyarakat, penguasaan teknologi menjadi hal penting. Mesin yang canggih tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila pengguna tidak memahami cara pengoperasian dan pemeliharaannya. Karena itu, transfer pengetahuan menjadi bagian penting dari kegiatan pengabdian. Kelompok tani diharapkan tidak hanya mampu menggunakan mesin, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola proses produksi secara mandiri.

 

Mutu Menjadi Kunci Daya Saing

Peningkatan kapasitas produksi harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu. Serbuk jahe yang dihasilkan perlu memiliki karakteristik yang konsisten, bersih, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Penggunaan mesin dapat membantu menciptakan proses yang lebih terukur, tetapi kualitas tetap membutuhkan perhatian pada seluruh rantai produksi. Pemilihan jahe sebagai bahan baku, proses pencucian, pengeringan, penepungan, hingga penyimpanan harus dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan. Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai salah satu komponen untuk membangun sistem produksi yang lebih baik.

 

Produk Bagus Perlu Dipasarkan

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah pemasaran. Produk pertanian yang sudah diolah dan memiliki mutu baik tetap membutuhkan strategi agar dikenal konsumen. Dalam pengembangan serbuk jahe, kemasan dan identitas produk menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing. Produk dengan kemasan yang bersih, informatif, dan menarik akan lebih mudah dikenali oleh konsumen. Pemanfaatan media digital juga dapat menjadi pilihan bagi Kelompok Tani Dosroha untuk memperkenalkan produk. Foto produk, informasi mengenai bahan baku, proses pengolahan, dan keunggulan produk dapat dikomunikasikan melalui media sosial.

Dengan strategi yang tepat, produk serbuk jahe tidak hanya memiliki peluang dipasarkan di sekitar Sidikalang dan Kabupaten Dairi, tetapi juga dapat diperkenalkan ke konsumen di wilayah yang lebih luas.

 

Perguruan Tinggi Hadir di Tengah Masyarakat

Kegiatan pengabdian yang dilakukan Politeknik Negeri Media Kreatif menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam mendorong pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Kolaborasi dengan Kelompok Tani Dosroha mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat. Petani memiliki pengetahuan mengenai tanaman dan kondisi lapangan, sedangkan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan berupa teknologi, pengetahuan, dan pendampingan. Kolaborasi semacam ini penting agar inovasi yang diperkenalkan benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Dari Sidikalang untuk Pasar yang Lebih Luas

Pengolahan jahe menjadi serbuk merupakan salah satu bentuk sederhana dari hilirisasi produk pertanian. Petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mulai mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Mesin pengering berkapasitas 30 kilogram per batch dan mesin penepung berkapasitas 25–30 kilogram per proses menjadi bagian dari upaya tersebut. Namun, mesin hanyalah alat. Keberhasilan pengembangan produk tetap bergantung pada kemampuan kelompok dalam menjaga mutu, mengelola produksi, mengembangkan kemasan, dan membangun pasar. Bagi Kelompok Tani Dosroha, kegiatan pada 25 Juli 2026 menjadi langkah untuk membuka cara pandang baru terhadap komoditas jahe. Jahe tidak harus berhenti sebagai hasil panen yang dijual dalam bentuk segar. Dengan teknologi dan pengetahuan yang tepat, jahe dapat diolah menjadi serbuk yang lebih praktis dan memiliki peluang ekonomi lebih besar. Dari Sidikalang, Kabupaten Dairi, cerita tentang jahe pun dapat berkembang menjadi cerita tentang inovasi, kemandirian, dan nilai tambah. Sebab, ketika petani tidak hanya menjual hasil panen tetapi juga mampu mengolah dan memasarkannya, maka nilai ekonomi dari sebuah komoditas akan tumbuh bersama masyarakat yang mengusahakannya