
PEKANBARU — Kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah mulai dikenalkan kepada guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Pekanbaru melalui pendekatan computational thinking yang tidak bergantung pada penggunaan komputer.
Program tersebut dilaksanakan tim dosen Universitas Riau melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pendampingan Penyusunan RPP Berbasis Computational Thinking dengan Integrasi Media Pembelajaran Unplugged bagi Guru PAUD”.
Sebanyak 27 guru PAUD dari 13 kecamatan di Kota Pekanbaru mengikuti rangkaian pendampingan tersebut. Kegiatan ini bermitra dengan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia-Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) Kota Pekanbaru.
Program pengabdian tersebut didanai melalui BIMA 2026 Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Riau.
Kegiatan dilaksanakan berdasarkan Kontrak Nomor 275/UN19.5.1.3/AL.04/2026 dalam Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Tim pengabdian diketuai Mastuinda, M.Pd., dengan anggota Eva Eriani, M.Pd., Radinal Dwiki Novendra, S.T., M.T., dan Nanda Pratiwi, M.Pd. Sejumlah mahasiswa juga terlibat sebagai asisten pengabdian, yakni Afifah Nuranti, Rizky Nabila Harahap, Siti Sarah Sabila, Nazwa Nayara Alfariza, dan Sabrina.
Program tersebut dilatarbelakangi masih terbatasnya pemahaman sebagian guru PAUD mengenai penerapan computational thinking dalam pembelajaran anak usia dini.
Pendekatan tersebut selama ini masih kerap dikaitkan dengan penggunaan komputer. Padahal, menurut tim pengabdian, konsep computational thinking dapat dikenalkan kepada anak melalui kegiatan sederhana seperti permainan, pengenalan pola, penyusunan urutan, hingga pemecahan masalah.
Dalam pelatihan, guru diperkenalkan dengan empat unsur utama computational thinking, yakni dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, serta penyusunan langkah atau algoritma sederhana.
Keempat unsur tersebut kemudian diterapkan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mulai dari penentuan tujuan pembelajaran, rangkaian aktivitas bermain, penggunaan media konkret, hingga asesmen perkembangan anak.
Pendampingan dilakukan dalam lima tahap. Rangkaian kegiatan dimulai dengan sosialisasi dan pengenalan computational thinking pada Mei 2026 dan dilanjutkan dengan pelatihan penyusunan RPP Pembelajaran Mendalam berbantuan Artificial Intelligence pada Juli 2026.
Selama proses pendampingan, para guru mengikuti praktik penyusunan RPP, konsultasi, presentasi, serta kegiatan “Coding Tanpa Komputer” atau coding unplugged.
“Computational Thinking tidak harus diajarkan menggunakan komputer. Konsep ini dapat diintegrasikan melalui kegiatan bermain yang konkret dan menyenangkan untuk melatih kemampuan berpikir logis serta pemecahan masalah anak,” ujar Mastuinda.
Tahapan selanjutnya diarahkan pada penerapan RPP dan media unplugged di satuan PAUD. Program juga mencakup pendampingan, penyerahan aset pembelajaran kepada mitra pada Agustus 2026, serta focus group discussion sebagai bagian dari evaluasi dan tindak lanjut.
Sejumlah media yang digunakan dalam kegiatan tersebut antara lain Coding Board, Think and Code Unplugged, kartu instruksi, kartu tantangan, serta lembar aktivitas coding untuk anak.
Perangkat pembelajaran yang diserahkan kepada mitra diharapkan dapat digunakan secara bergantian oleh guru sekaligus dikembangkan sesuai tema pembelajaran di masing-masing satuan PAUD.
Ketua IGTKI-PGRI Kota Pekanbaru, Sri Megawati, S.Pd., mengatakan pendampingan tersebut memberikan alternatif bagi guru untuk menerapkan kegiatan pembelajaran yang tidak sepenuhnya bergantung pada perangkat digital.
“Pendampingan penyusunan RPP dan media unplugged memberikan alternatif kegiatan yang dapat diterapkan guru tanpa bergantung pada perangkat digital,” ungkap Sri.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Reni Bafita, S.Sos., M.Si., menilai pendekatan tersebut relevan untuk dikembangkan lebih lanjut di satuan pendidikan.
Menurut Reni, kemampuan berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah perlu mendapatkan stimulasi sejak usia dini. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak.
“Kegiatan ini baik untuk dilanjutkan karena kemampuan berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah perlu distimulasi sejak dini. Pendampingan juga penting agar penerapannya sesuai dengan karakteristik perkembangan anak,” ujar Reni.
Dari kegiatan tersebut, tim pengabdian menghasilkan sejumlah luaran, antara lain rancangan RPP, modul pelatihan, media pembelajaran unplugged, perangkat pendukung untuk mitra, dokumentasi video, serta publikasi media massa.
Melalui keterlibatan guru dan organisasi profesi, hasil pendampingan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan di berbagai satuan PAUD di Kota Pekanbaru.