Jelang Muktamar Ke-35 NU, Gus Kikin Akui Masuk Bursa Ketum PBNU

AKM • Saturday, 8 Aug 2026 - 18:49 WIB
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin

JAKARTA — Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mencuat menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengonfirmasi bahwa namanya termasuk salah satu figur yang disebut dalam bursa tersebut.

Selain Gus Kikin, sejumlah nama lain juga muncul menjelang forum tertinggi organisasi NU tersebut. Mereka antara lain Ketua Umum PBNU saat ini KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Menteri Agama Prof. KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, serta Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.

Gus Kikin mengatakan munculnya sejumlah nama tersebut belum dapat menjadi penentu siapa yang nantinya akan memimpin PBNU. Menurutnya, proses pemilihan tetap akan mengikuti tata tertib dan mekanisme yang ditetapkan dalam Muktamar.

“Ada banyak, ya saya termasuk dimunculkan. Kemudian ada Gus Yahya, Ketum yang sekarang. Ada kemudian Prof. Nasaruddin, ada Kiai Zulfa Mustofa, ada Gus Rozin, ada Gus Salam, cukup banyak,” ujar Gus Kikin dalam Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung MPR RI, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Gus Kikin, mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU akan dibahas melalui tata tertib Muktamar. Karena itu, keputusan mengenai siapa yang akan memimpin organisasi periode berikutnya sepenuhnya berada pada peserta Muktamar atau muktamirin.

“Ya nanti tergantung dari mekanisme dari apa pemilihan. Nanti begitu Muktamar kan ada tatib yang perlu dibahas, dari tatib itu nanti bagaimana mekanismenya,” katanya.

Ia menegaskan, para muktamirin nantinya yang memiliki kewenangan menentukan Ketua Umum PBNU melalui mekanisme yang disepakati dalam forum tersebut.

“Siapa yang jadi Ketum ya itu tergantung dari muktamirin, siapa yang dipilih oleh muktamirin menjadi Ketum nanti,” ujar Gus Kikin.

Ia berharap seluruh rangkaian menuju Muktamar Ke-35 NU dapat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang baik bagi keberlangsungan organisasi.

“Ya mudah-mudahan itu lancar semuanya, doanya nanti lancar dan menghasilkan satu keputusan yang baik untuk NU di masa depan lagi itu,” katanya.

Muktamar Ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Salah satu agenda utama forum tersebut adalah memilih Rais Aam yang memimpin Syuriyah serta Ketua Umum yang memimpin Tanfidziyah untuk periode kepengurusan berikutnya.

Ma’ruf Amin Tekankan Kepentingan Organisasi

Di tengah munculnya sejumlah nama dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin mengingatkan agar calon pemimpin NU mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Pesan tersebut disampaikan Ma’ruf Amin seusai menghadiri Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (8/8).

Menurut Ma’ruf, pemimpin NU ke depan harus memiliki kemampuan melakukan al-ishlah wal ishlah, termasuk mendamaikan kelompok-kelompok yang berselisih dan menjaga persatuan internal organisasi.

“Ishlah pertama itu mendamaikan semua kelompok yang bersengketa karena tanpa persatuan tidak mungkin. Dan harus mendahulukan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok. Itu baru misi NU bisa diemban,” jelas Ma’ruf.

Ia menilai kemampuan menjaga persatuan menjadi salah satu aspek penting dalam kepemimpinan NU. Kepentingan organisasi, kata dia, harus ditempatkan sebagai pertimbangan utama agar misi dan arah perjuangan NU dapat dijalankan secara optimal.

Selain persoalan persatuan, Ma’ruf menekankan pentingnya meningkatkan kualitas kehidupan berorganisasi. Menurutnya, keterlibatan warga NU seharusnya didasarkan pada pemahaman terhadap nilai, khittah, dan arah perjuangan organisasi, bukan sekadar mengikuti dorongan tertentu.

“Kedua supaya ber-NU itu lebih pada kualitas ya, artinya pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan, bukan karena dorongan. Saya nyebutnya ala bashirah bukan ala bisyarah,” ujarnya.

Ma’ruf juga mendorong adanya perbaikan dalam perjalanan organisasi dan penguatan kembali NU agar tetap berada pada jalur yang sesuai dengan Qanun Asasi.

“Kemudian juga memperbaiki langkah-langkah, memperbesar langkah-langkah, kemampuan dua hal itu, al-ishlah wal ishlah. Kalau tidak, tidak akan mampu mengembalikan NU kepada khittahnya sesuai dengan Qanun Asasi,” kata Ma’ruf.

Ketika ditanya mengenai Muktamar Ke-35 NU serta adanya usulan agar calon yang memiliki konflik tidak maju dalam pemilihan, Ma’ruf menyerahkan persoalan tersebut kepada forum Muktamar. Ia tidak menyebut nama tertentu sebagai calon yang dianggap paling layak memimpin PBNU.

Menurutnya, hal yang lebih penting adalah kapasitas calon dalam melakukan perbaikan, mendamaikan berbagai kekuatan di internal organisasi, serta mengembalikan NU pada jalur yang sesuai dengan prinsip dasar organisasi.

“Yang penting dia punya kemampuan melakukan perbaikan, mendamaikan kekuatan, melakukan perbaikan, mengembalikan pada jalurnya. Kalau tidak punya kemampuan, tidak akan membawa perbaikan,” ujarnya.

Dengan semakin banyaknya nama yang disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, proses menuju Muktamar Ke-35 NU diperkirakan akan menjadi perhatian warga Nahdliyin. Namun, keputusan akhir mengenai kepemimpinan PBNU tetap akan ditentukan melalui mekanisme Muktamar dan keputusan para muktamirin.