Fokus pada Inovasi dan Nilai Tambah, Menteri Perindustrian Dorong Industri Alas Kaki dan Tekstil Naik Kelas

AKM • Wednesday, 5 Aug 2026 - 15:54 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/8).

JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong transformasi industri alas kaki, garmen, tekstil, dan kulit nasional agar tidak hanya mengandalkan kapasitas produksi, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar internasional. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.

Komitmen itu disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Agus, industri alas kaki dan tekstil Indonesia selama ini memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan aktivitas manufaktur. Namun, untuk menghadapi persaingan global, pelaku industri perlu memperkuat inovasi, meningkatkan kualitas produk, mengadopsi teknologi modern, serta menerapkan proses produksi yang lebih berkelanjutan.

"Keberlanjutan bukan menjadi beban, tetapi harus menjadi keunggulan daya saing. Dunia saat ini tidak hanya membeli produknya, tetapi juga melihat bagaimana barang itu diproduksi, apakah ramah lingkungan dan adil bagi pekerjanya," ujar Agus.

Ia menjelaskan transformasi industri harus mencakup pengembangan desain produk, modernisasi mesin produksi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga penerapan standar industri hijau. Langkah tersebut dinilai akan meningkatkan daya saing produk Indonesia sekaligus memenuhi tuntutan pasar global yang semakin memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.

Selain transformasi industri, Agus juga meminta pelaku usaha memanfaatkan peluang yang terbuka melalui implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kesepakatan tersebut diharapkan memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa melalui penurunan berbagai hambatan perdagangan.

"Kita harus membanjiri produk Indonesia di negara lain, bukan justru dibanjiri produk negara lain di Indonesia," tegasnya.

Di pasar domestik, Kemenperin juga berupaya memperkuat rantai pasok industri dari sektor hulu hingga hilir. Agus menilai sinergi antara produsen bahan baku, industri tekstil, produsen alas kaki, hingga industri garmen menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ia memastikan pemerintah akan terus memberikan dukungan kepada dunia usaha, namun meminta asosiasi industri lebih aktif menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi agar dapat segera dicarikan solusi bersama.

"Help us to help you. Laporkan persoalan yang dihadapi industri agar bisa segera kami tindak lanjuti," katanya.

Melalui penyelenggaraan ILF Expo dan IGT Expo 2026, Kemenperin menargetkan lahirnya berbagai kerja sama konkret, mulai dari peningkatan transaksi perdagangan, terbentuknya kemitraan bisnis dan investasi baru, hingga percepatan alih teknologi melalui kolaborasi dalam pengembangan mesin, proses produksi, desain, dan inovasi industri.

Agus optimistis berbagai kolaborasi yang terbangun selama pameran akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri manufaktur di kawasan, tidak hanya sebagai basis produksi, tetapi juga sebagai bagian penting dalam rantai pasok global untuk industri alas kaki, tekstil, dan garmen.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (APPI), serta PT Krista Media Pratama atas konsistensinya menyelenggarakan pameran industri yang telah memasuki tahun ke-18. Ia berharap ajang tersebut terus menjadi wadah kolaborasi, inovasi, dan pengembangan industri manufaktur nasional.