BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara, Kredit Tumbuh 24,4 Persen hingga Semester I-2026

ANP • Wednesday, 5 Aug 2026 - 10:59 WIB

Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat kinerja fundamental yang tetap solid hingga Semester I 2026, meski industri perbankan masih menghadapi tantangan likuiditas serta dinamika ekonomi global dan geopolitik. Pertumbuhan kredit yang sehat, kualitas aset yang terjaga, serta transformasi digital menjadi pilar utama yang menopang kinerja perseroan.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai jangka panjang.

Transformasi Digital dan BRAVE Dongkrak Produktivitas
Transformasi digital menjadi salah satu motor pertumbuhan BNI. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta, meningkat 110 persen secara tahunan.

Di segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu dengan volume transaksi tumbuh 17 persen menjadi Rp6.039 triliun. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan layanan digital BNI di segmen ritel maupun korporasi.

Selain digitalisasi, BNI juga telah menerapkan program BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) di seluruh jaringan operasional. Program ini memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, sekaligus mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

Putrama menjelaskan, melalui BRAVE setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang lebih besar dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi kapabilitas jaringan dengan solusi digital diharapkan mampu mempercepat akuisisi nasabah, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan pelanggan.

BNI optimistis strategi bisnis, transformasi organisasi, dan digitalisasi yang dijalankan secara konsisten akan semakin meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.

Kredit Tumbuh Berkualitas, Didukung Pendanaan yang Kuat
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, hingga akhir Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.

Pertumbuhan tersebut didukung portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen usaha, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer. Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur agar keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset tetap terjaga.

Di sisi pendanaan, CASA BNI tumbuh 11,2 persen sehingga rasio CASA mampu dipertahankan pada level 65,4 persen. Sementara itu, cost of fund membaik menjadi 2,56 persen, dibandingkan 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur pendanaan yang kuat tersebut menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit yang berkelanjutan.

Penguatan fundamental bisnis juga tercermin pada peningkatan pendapatan inti. Hingga Semester I-2026, net interest income (NII) tumbuh 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun, sedangkan fee-based income (FBI) meningkat 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Kinerja tersebut mendorong pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

Paolo mengatakan peningkatan profitabilitas berasal dari ekspansi kredit, pertumbuhan transaksi, layanan digital, cash management, hingga berbagai aktivitas berbasis komisi. Diversifikasi sumber pendapatan tersebut dinilai penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas di tengah kondisi likuiditas yang masih ketat.

Kualitas Aset Tetap Terjaga
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, kualitas aset BNI terus menunjukkan perbaikan. Hingga akhir Juni 2026, rasio Loan at Risk (LAR) turun dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan rasio Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.

BNI juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko. Langkah tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten di seluruh proses bisnis.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani lebih cepat," ujarnya.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan terus memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.

Perseroan juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digitalisasi guna meningkatkan produktivitas, memperkuat fundamental bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.