
JAKARTA — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Prof. Yassierli menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) yang inovatif menjadi faktor kunci agar Indonesia mampu mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 sekaligus menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Menurutnya, generasi muda harus didorong memiliki pola pikir inovatif (innovation mindset) agar mampu menjawab tantangan perubahan teknologi dan dunia kerja.
Pernyataan tersebut disampaikan Yassierlisaat menjadi pembicara dalam Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau, 22 Juli 2026. Ia menyinggung proyeksi The World in 2050 Report yang diterbitkan lembaga riset PricewaterhouseCoopers (PwC), yang memperkirakan Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar keempat dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.
Meski optimistis terhadap prospek tersebut, Yassierli mengingatkan Indonesia masih menghadapi tantangan dalam bidang inovasi. Berdasarkan Global Innovation Index 2025, Indonesia berada di peringkat ke-55 dunia dan masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
"Inovasi menjadi satu kata yang menjadi tantangan kita dan tidak banyak didiskusikan. Ini harus dibicarakan terutama pada para leader yang lahir di sini yang saya yakin punya kompetensi inovasi. Adik-adik Tanoto Scholar memiliki peran menjadi leaders yang berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045," ujar Yassierli.
Menurutnya, inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru, melainkan kemampuan menghadirkan nilai tambah melalui barang, jasa, maupun model pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menilai inovasi lahir dari kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Sebagai contoh, Yassierli menyinggung perkembangan layanan transportasi berbasis aplikasi yang muncul dari kebutuhan masyarakat akan moda transportasi yang lebih mudah diakses sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pengemudi.
"Dengan empati, kita punya perhatian dan perasaan yang sama dengan orang-orang ketika menghadapi masalah. Inovasi-inovasi yang lahir dan sekarang menjadi produk dan layanan besar berangkat dari empati," katanya.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang dinilai semakin mempercepat lahirnya berbagai inovasi di berbagai sektor. Karena itu, generasi muda diminta tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan hingga memimpin lahirnya inovasi baru.
"Jangan hanya menjadi user. Setelah jadi user kemudian anda jadi developer, orchestrator, sampai jadi leader," ujarnya.
Cara Pandang Terbuka
Selain mendorong pola pikir inovatif, Yassierli mengajak generasi muda mengembangkan growth mindset, yaitu cara pandang yang terbuka terhadap pembelajaran, tantangan, dan pengembangan kemampuan secara berkelanjutan. Sebaliknya, ia mengingatkan agar anak muda menghindari fixed mindset yang membuat seseorang enggan keluar dari zona nyaman dan sulit berkembang.
Menurut Yassierli, salah satu cara membangun growth mindset adalah dengan terus belajar dan mencari mentor yang dapat menjadi teladan dalam menghadapi tantangan maupun mengembangkan kompetensi.
"Belajarlah dan carilah mentor atau coach sebagai role model. Lihat bagaimana mereka bisa survive, berkembang, siap menghadapi tantangan, dan pantang menyerah saat menghadapi hambatan," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menaker juga memaparkan upaya pemerintah meningkatkan kualitas angkatan kerja nasional, salah satunya melalui program pemagangan nasional yang menargetkan 150 ribu lulusan baru. Program tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman kerja di perusahaan selama satu tahun sebagai bekal memasuki dunia kerja.
"Sebelum masa magang selesai, sebanyak 30 persen peserta magang sudah ditawari kerja. Ini adalah bentuk bagaimana kita ingin memberikan satu impact dan kontribusi kepada bangsa," katanya.
Yassierli menilai peningkatan kualitas SDM memerlukan dukungan berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan dan sektor filantropi. Ia mengapresiasi berbagai program pengembangan kepemimpinan yang dijalankan Tanoto Foundation karena dinilai tidak hanya mendukung prestasi akademik mahasiswa, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan kemampuan berinovasi.
Menurutnya, Indonesia hanya dapat mewujudkan cita-cita menjadi negara maju pada 2045 apabila mampu melahirkan lebih banyak inovator dan pemimpin yang mampu menciptakan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
"Pada 2045, Indonesia menjadi negara besar hanya kalau kita menjadi innovation nation. Kalau inovasi itu terbangun akan memecahkan permasalahan terkait dengan keterbatasan lapangan kerja," pungkasnya.