
Sumenep – Pulau Mamburit, Kabupaten Sumenep, dikenal sebagai permata wisata bahari dengan hamparan pasir putih dan keindahan terumbu karang. Namun, dibalik potensinya, pulau yang membutuhkan perjalanan sekitar 13 jam dari Surabaya ini masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah akibat ketiadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), terbatasnya fasilitas pengelolaan sampah, serta kebiasaan membuang sampah di kawasan pesisir.
Kondisi itu tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan laut, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan keberlanjutan sektor pariwisata.
Menjawab tantangan tersebut, tim Universitas Airlangga melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan Eko-Sanitasi Pesisir, yaitu paket teknologi yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, konservasi lingkungan, dan ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 pada skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, bidang fokus kesehatan.
Program ini melibatkan 30 warga, termasuk 20 ibu PKK, melalui kegiatan edukasi, demonstrasi, dan pendampingan praktik. Paket Eko-Sanitasi Pesisir yang diterapkan terdiri atas 50 Lubang Resapan Biopori (LRB), 10 unit tempat sampah terpilah, serta 30 set instalasi hidroponik sederhana.
Biopori dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik rumah tangga dan limbah hasil perikanan menjadi kompos, tempat sampah terpilah mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya, sedangkan hidroponik mendukung penghijauan sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga di lahan yang terbatas.
Evaluasi melalui pre-post-test menunjukkan peningkatan kapasitas masyarakat yang signifikan. Rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 41,33% menjadi 73,83%, sedangkan keterampilan dalam memilah sampah dan membuat biopori meningkat dari 30,50% menjadi 85,00%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung efektif meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola lingkungan secara mandiri.
BACA JUGA: BSKDN Dorong Mahasiswa KKN Uncen Perkuat Ekonomi Kreatif Masyarakat Kepulauan Yapen
Program ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDG 3), Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (SDG 11), serta Ekosistem Lautan (SDG 14). Pengelolaan limbah organik melalui biopori membantu mengurangi pencemaran, sementara pemilahan sampah dan penghijauan melalui hidroponik berkontribusi menciptakan lingkungan pesisir yang lebih bersih, sehat, dan produktif.
Untuk menjaga keberlanjutan program, Tim membentuk Kader Mamburit Bersih yang melibatkan ibu-ibu PKK sebagai penggerak pengelolaan lingkungan. Para kader bertugas melakukan edukasi, monitoring, dan evaluasi terhadap penerapan pemilahan sampah, biopori, dan hidroponik di masyarakat. Tim juga menghibahkan alat bor biopori kepada Pemerintah Desa serta menginisiasi kompetisi kebersihan sebagai upaya menjaga partisipasi masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Triska Susila Nindya, mengatakan bahwa program ini tidak hanya menyasar persoalan sampah, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan pesisir yang lebih produktif dan berkelanjutan. Menurutnya, pengelolaan lingkungan di wilayah kepulauan harus disesuaikan dengan kondisi lokal dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
“Wilayah kepulauan membutuhkan solusi yang sesuai dengan kondisi setempat. Keberhasilan pengelolaan lingkungan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat melalui edukasi, pendampingan, dan teknologi sederhana,” ujarnya.
Siti Khadijah salah satu peserta program, mengaku program ini memberi manfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari. “Selain lingkungan menjadi lebih bersih, kami juga senang karena hidroponik bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran bagi kebutuhan keluarga,” katanya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat di wilayah kepulauan, sekaligus mendukung pelestarian ekosistem laut dan daya tarik wisata bahari Pulau Mamburit.