Pelantikan Rektor Universitas YARSI 2026–2031, Ratna Sitompul Siap Perkuat Inovasi, Internasionalisasi, dan Kolaborasi Multidisiplin

ANP • Wednesday, 29 Jul 2026 - 14:32 WIB

Jakarta – Universitas YARSI resmi melantik dan membaiat Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M sebagai Rektor Universitas YARSI periode 1 Agustus 2026–31 Juli 2031. Prosesi pelantikan dan bai'ah yang berlangsung di Auditorium Al-Quddus Lantai 12 Universitas YARSI menandai estafet kepemimpinan dari Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D kepada rektor baru.

Dalam sambutannya, Prof. Fasli Jalal menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Menurutnya, yang terpenting adalah kesinambungan dalam mencapai tujuan besar universitas.

"Pergantian kepemimpinan hanyalah bagian dari proses. Yang paling penting adalah tujuan organisasi tetap menjadi penggerak utama. Apa yang telah dicapai harus terus dikembangkan, sementara inovasi dan kreativitas harus semakin diperkuat," ujarnya.

Ia optimistis Universitas YARSI memiliki fondasi sistem yang kuat sehingga proses transisi kepemimpinan dapat berjalan baik. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap berbagai keunggulan yang dimiliki YARSI di tengah kompetisi perguruan tinggi yang semakin ketat.

Selain memperluas program studi strategis, Prof. Fasli juga menekankan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan jabatan akademik dosen, publikasi ilmiah bereputasi internasional, serta penelitian berkualitas tinggi.

Sementara itu, Rektor Universitas YARSI, Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M, menegaskan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa tetap menjadi perhatian penting bagi perguruan tinggi swasta. Namun, menurutnya, keberlanjutan universitas tidak boleh hanya bergantung pada jumlah mahasiswa semata.

"Kita tidak boleh hanya bergantung pada student body. Yang harus dikembangkan adalah sumber daya manusia yang kita miliki agar menjadi kapital bagi universitas. Penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga harus membuka peluang kerja sama dengan industri sehingga memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk menghasilkan nilai ekonomi," katanya.

Prof. Ratna menambahkan bahwa kolaborasi dengan berbagai sektor akan memperkuat internasionalisasi YARSI sekaligus meningkatkan dampak nyata hasil penelitian bagi masyarakat.

Kedokteran Harus Bergerak ke Arah Multidisiplin

Sebagai mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Ratna menilai pendidikan kedokteran masa depan tidak lagi dapat berdiri sendiri. Menurutnya, tantangan kesehatan masyarakat semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan multidisiplin.

Ia mencontohkan penanganan penyakit diabetes melitus yang tidak cukup hanya melibatkan dokter, tetapi juga memerlukan dukungan inovasi teknologi, komunikasi kesehatan, farmasi, psikologi, hingga aspek hukum.

"Ke depan mahasiswa kedokteran harus dibekali ilmu lintas disiplin. Pasien tidak hanya datang sebagai individu, tetapi juga membawa persoalan keluarga, lingkungan, sosial, bahkan hukum. Karena itu kolaborasi multidisiplin menjadi sangat penting," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa YARSI memiliki modal besar untuk mewujudkan konsep tersebut karena seluruh fakultas berada dalam satu kawasan sehingga kolaborasi lintas ilmu lebih mudah dilakukan.

Target Perkuat Reputasi Internasional

Di bidang internasionalisasi, Prof. Ratna mengatakan YARSI akan memperluat kerja sama global yang telah dibangun.

Salah satunya melalui kolaborasi dengan asosiasi perguruan tinggi di China yang dijadwalkan menggelar pertemuan di Indonesia pada November mendatang dengan Universitas YARSI sebagai tuan rumah.
Ke depan, YARSI akan memperluas program student exchange, dual degree, dan joint degree dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri agar mahasiswa memperoleh pengalaman internasional yang lebih luas sekaligus meningkatkan reputasi global universitas.

Fasli Jalal Soroti Kebijakan Pendidikan Kedokteran

Dalam sesi wawancara, Prof. Fasli juga menyoroti kebijakan pemerintah yang terus membuka fakultas kedokteran baru.

Menurutnya, Indonesia memerlukan kajian yang lebih komprehensif terkait kebutuhan dokter nasional agar tidak terjadi kelebihan lulusan di masa depan.

Ia menilai persoalan utama saat ini bukan semata jumlah dokter, melainkan distribusinya yang belum merata, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

"Yang kita perlukan adalah kajian yang matang. Jangan sampai kita memproduksi dokter dengan biaya besar tetapi tidak terserap secara optimal. Permasalahan utamanya justru distribusi tenaga kesehatan," ujarnya.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah mendorong dunia industri membuka lebih banyak peluang magang bagi mahasiswa. Menurutnya, satu tahun masa studi di jenjang sarjana dapat dimanfaatkan secara penuh untuk praktik di industri sehingga lulusan memiliki pengalaman kerja sebelum memasuki dunia profesional.

Dorong Dukungan Lebih Besar bagi Perguruan Tinggi Swasta

Menutup keterangannya, Prof. Fasli berharap pemerintah terus meningkatkan dukungan kepada perguruan tinggi swasta melalui skema Bantuan Operasional Perguruan Tinggi (BOPT), afirmasi, pendanaan inovasi, serta program internasionalisasi.

Menurutnya, pemberian dukungan yang proporsional akan memperkuat daya saing perguruan tinggi swasta sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Dengan kepemimpinan baru, Universitas YARSI menargetkan penguatan kualitas akademik, riset yang berdampak, kolaborasi dengan industri, internasionalisasi, serta pengembangan pendidikan multidisiplin sebagai langkah strategis menghadapi tantangan pendidikan tinggi di masa depan.