Didanai Program BIMA DRTPM Kemendikti Saintek 2026, Tim Dosen UNIMA Kembangkan Aplikasi PRENAMENT untuk Penguatan Kesehatan Mental Ibu Hamil di Wilayah Rawan Bencana

ANP • Tuesday, 28 Jul 2026 - 18:29 WIB

Tomohon – Tim dosen Universitas Negeri Manado (UNIMA) berhasil mengimplementasikan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai melalui Program Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA), Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) Tahun 2026. Program tersebut mengusung judul “Pengembangan Aplikasi PRENAMENT Berbasis Mitigasi Bencana untuk Penguatan Kesehatan Mental Ibu Hamil melalui Posyandu Puskesmas Lansot.”

Program ini diketuai oleh Dina Mariana Siregar, S.Pd., M.Psi dengan anggota Fuad Hilmi Sudasman dari Universitas Negeri Manado dan Gratsia Victoria Fernandez dari Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Pelaksanaan kegiatan PKM melibatkan mahasiswa Josua Setdefit Tambanaung (Prodi Teknik Informatika), Hessel Zakharia Paparang (Prodi Psikologi), Junita Winni Plondongan (Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat), dan Anggraini Natunggele (Prodi Psikologi) sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Lansot, Kota Tomohon, yang merupakan kawasan dengan potensi bencana seperti gempa bumi, curah hujan tinggi, wilayah perbukitan, serta berada di sekitar kawasan Gunung Lokon. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi ibu hamil dalam memperoleh layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan mental yang selama ini belum terintegrasi secara optimal dalam pelayanan Posyandu.

Sebagai solusi, tim mengembangkan Aplikasi PRENAMENT (Prenatal Mental Health Support) yang dirancang untuk membantu ibu hamil memperoleh edukasi kesehatan mental, melakukan skrining dini kondisi psikologis, mengakses latihan sederhana untuk mengelola stres, serta mempelajari langkah-langkah kesiapsiagaan psikologis menghadapi bencana. Aplikasi ini diintegrasikan dengan kegiatan Posyandu sehingga kader dan tenaga kesehatan dapat mendampingi ibu hamil secara lebih efektif.Selain memperkenalkan aplikasi, tim juga memberikan pelatihan kepada kader Posyandu mengenai deteksi dini masalah kesehatan mental pada ibu hamil, penggunaan aplikasi PRENAMENT, serta teknik pendampingan psikososial sederhana. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan, praktik penggunaan aplikasi, diskusi kelompok, dan pendampingan langsung kepada ibu hamil.

Ketua tim, Dina Mariana Siregar, S.Pd., M.Psi, mengatakan bahwa kesehatan mental ibu hamil merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.

"Melalui Program BIMA DRTPM Kemendikti Saintek ini kami ingin menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. PRENAMENT tidak hanya menjadi aplikasi digital, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan kader Posyandu dalam melakukan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan kesehatan mental ibu hamil, terutama di wilayah yang memiliki risiko bencana," ujarnya.

Anggota tim, Fuad Hilmi Sudasman, S.K.M., M.K.M, menjelaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.

"Kami melihat antusiasme yang tinggi dari kader Posyandu dan ibu hamil selama pelaksanaan kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan mental berbasis komunitas memang sangat dibutuhkan. Kami berharap aplikasi ini dapat terus dimanfaatkan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan primer," katanya.

Sementara itu, anggota tim dari Universitas Sam Ratulangi, Gratsia Victoria Fernandez, S.Kep.,Ns., M.Kes menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi.

"Kolaborasi antara perguruan tinggi, Puskesmas, kader Posyandu, dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan program ini. Melalui sinergi tersebut, inovasi yang dihasilkan tidak hanya berhenti sebagai produk penelitian, tetapi benar-benar dapat memberikan manfaat nyata bagi ibu hamil dan keluarganya," jelas Gratsia.

Kepala Puskesmas Lansot, dr. Agustin Mantow, mengapresiasi pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat yang dinilai memberikan inovasi baru dalam pelayanan kesehatan ibu hamil di wilayah kerjanya.

"Program ini sangat relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di Puskesmas Lansot. Selama ini perhatian terhadap kesehatan mental ibu hamil masih perlu diperkuat. Kehadiran Aplikasi PRENAMENT menjadi inovasi yang mendukung tenaga kesehatan dan kader Posyandu dalam melakukan deteksi dini serta pendampingan kepada ibu hamil. Kami berharap program seperti ini dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkesinambungan oleh masyarakat," ungkap dr. Agustin Mantow.

Senada dengan itu, Bidan Meytri, sebagai kader Posyandu yang mengedukasi ibi hamil dalam pelaksanaan kegiatan, menyampaikan bahwa pelatihan yang diberikan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil.

"Melalui pelatihan ini kami memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya kesehatan mental selama kehamilan. Aplikasi PRENAMENT juga sangat membantu karena mudah digunakan sebagai media edukasi dan pendampingan. Ibu hamil menjadi lebih terbuka untuk berdiskusi mengenai kondisi psikologis yang mereka alami, sehingga kami dapat memberikan pendampingan yang lebih tepat," tutur Bidan Meytri.

Pelaksanaan program menunjukkan hasil yang positif. Para kader Posyandu mampu mengoperasikan aplikasi PRENAMENT sebagai media edukasi dan skrining awal, sementara ibu hamil menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental selama kehamilan. Program ini juga memperkuat koordinasi antara perguruan tinggi, Puskesmas, dan Posyandu dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih komprehensif.

Melalui pendanaan Program BIMA DRTPM Kemendikti Saintek Tahun 2026, kegiatan ini menghasilkan luaran berupa Aplikasi PRENAMENT, modul dan panduan penggunaan berupa manual book, peningkatan kapasitas kader Posyandu, laporan pelaksanaan kegiatan, serta publikasi ilmiah hasil pengabdian kepada masyarakat. Harapannya inovasi ini diharapkan dapat menjadi model penguatan kesehatan mental ibu hamil berbasis komunitas yang dapat diterapkan di berbagai daerah rawan bencana di Indonesia.