Wamen Viva Yoga: Tim Ekspedisi Patriot 2026 Fokus Wujudkan Produk Unggulan Kawasan Transmigrasi

AKM • Monday, 27 Jul 2026 - 07:30 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi


Bogor – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menegaskan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Kementerian Transmigrasi (Kementrans) difokuskan untuk menindaklanjuti hasil riset TEP 2025 melalui pengembangan produk unggulan di berbagai kawasan transmigrasi. Program tersebut diharapkan mampu mempercepat pembangunan ekonomi, sosial, dan industri secara berkelanjutan di wilayah transmigrasi.

"TEP tahun ini untuk merealisasikan perintisan produk unggulan di kawasan transmigrasi," ujar Viva Yoga usai memberikan pembekalan kepada 1.476 anggota TEP 2026 di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/7/2026).

Viva Yoga menjelaskan, seluruh program transmigrasi diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, hasil kerja Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya menjadi bahan penyusunan kebijakan Kementerian Transmigrasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai rekomendasi bagi pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, kementerian, maupun lembaga terkait dalam merancang program pembangunan daerah.

"Semua tindak lanjut hasil riset dapat bermanfaat untuk pengembangan ekonomi, sosial, dan industri di kawasan transmigrasi," katanya.

Program TEP 2026 melibatkan 1.476 akademisi yang terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana dari 10 perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia (UI), IPB University, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. Mereka akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di berbagai daerah untuk mengimplementasikan hasil riset sekaligus menyusun rekomendasi pengembangan kawasan.

Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh anggota TEP mengikuti pembekalan agar memahami karakteristik masing-masing kawasan transmigrasi, mulai dari kondisi ekonomi, sosial, budaya, hingga potensi sumber daya alam dan manusianya.

"Pembekalan penting agar mereka bisa mengetahui kondisi ekonomi, sosial, dan budaya di masing-masing kawasan. Setiap kawasan memiliki karakteristik yang spesifik sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda," ujar Viva Yoga.

Menurutnya, pemahaman yang komprehensif akan memudahkan anggota TEP membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga aparat birokrasi setempat.

"Mereka diharapkan langsung bisa melakukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan sinergi program dengan pemerintah daerah sehingga implementasi hasil riset berjalan lebih efektif," jelasnya.

Viva Yoga berharap kehadiran Tim Ekspedisi Patriot mampu melahirkan berbagai inovasi dan solusi yang dapat mendorong perubahan sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi.

"Dengan melibatkan civitas akademika, pembangunan kawasan transmigrasi akan semakin terarah, berkelanjutan, dan memiliki target yang terukur. Hasil TEP diharapkan menjadi rekomendasi penting bagi program pembangunan kawasan transmigrasi pada masa mendatang," pungkasnya.