Tim Ekspedisi Patriot 2026, Wamen Viva Yoga Dorong Jadi Pemimpin Adaptif untuk Percepat Kemajuan Kawasan Transmigrasi

AKM • Monday, 27 Jul 2026 - 04:10 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi

Jakarta – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mendorong anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menjadi pemimpin yang adaptif, inovatif, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan di kawasan transmigrasi. Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi kunci dalam menjawab tantangan pembangunan yang berbeda di setiap daerah.

Pesan tersebut disampaikan Viva Yoga saat memberikan pembekalan materi Kepemimpinan Adaptif kepada 1.476 peserta TEP 2026 di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/7/2026). Para peserta merupakan guru besar, doktor, dan magister dari berbagai perguruan tinggi ternama seperti Universitas Indonesia (UI), IPB University, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Para akademisi tersebut akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Papua Selatan setelah mengikuti pembekalan sebagai tindak lanjut hasil riset Tim Ekspedisi Patriot 2025.

"Seorang pemimpin harus mempunyai visi dan strategi untuk mengambil keputusan yang tepat, memberi motivasi, menjadi inspirasi dan teladan, inovatif, serta mampu menyelesaikan masalah di tengah masyarakat," ujar Viva Yoga.

Ia menegaskan bahwa setiap kawasan transmigrasi memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi sosial, budaya, ekonomi, maupun potensi sumber daya alam dan manusianya. Karena itu, anggota TEP dituntut mampu menerapkan prinsip kepemimpinan adaptif agar dapat merumuskan solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Antara teori dan fakta di lapangan terkadang bisa berbeda. Masing-masing kawasan transmigrasi memiliki tantangan yang berbeda. Tentu hal demikian membutuhkan pendekatan khusus bagaimana memecahkan masalah yang ada di lapangan," katanya.

Viva Yoga mencontohkan, seorang pemimpin adaptif tidak akan berhenti pada solusi yang bersifat rutin ketika menghadapi persoalan, seperti gagal panen. Menurutnya, pemimpin adaptif akan mencari akar persoalan secara menyeluruh, mulai dari pola tanam, kualitas benih, sistem irigasi, hingga peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

"Bagi pemimpin adaptif pasti berpikir ada beberapa faktor penyebab gagal panen. Karena itu ia akan berinovasi, berkreasi, dan mencari solusi, bukan sekadar bekerja secara rutin," ujarnya.

Mantan anggota Komisi IV DPR RI itu berharap kehadiran Tim Ekspedisi Patriot mampu membawa perubahan positif di kawasan transmigrasi melalui pendekatan ilmiah yang berpadu dengan kebutuhan masyarakat.

"Hadirnya anggota TEP di kawasan transmigrasi harus membawa perubahan," tegas Viva Yoga.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi semangat para transmigran yang dinilai telah menunjukkan praktik kepemimpinan adaptif sejak awal. Menurutnya, keberanian meninggalkan kampung halaman untuk membangun kehidupan baru menjadi bukti kemampuan mereka menghadapi perubahan dan tantangan.

"Seorang transmigran berani mengambil risiko melakukan perubahan hidup di tempat yang baru untuk mengolah tanah sebagai sumber ekonomi. Ketelatenan dan kesabaran membuat mereka tidak hanya sejahtera, tetapi juga mampu menciptakan kawasan pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa," ungkapnya.

Viva Yoga menambahkan, jika pada masa Orde Baru para transmigran dikenal sebagai "Pahlawan Pembangunan", maka pada era Presiden Prabowo Subianto mereka layak disebut sebagai "Patriot Bangsa" karena kontribusinya dalam memperkuat pembangunan wilayah dan pemerataan ekonomi nasional.