Menghidupkan Pasar Tradisional, Memperkuat Ekonomi Digital: Komitmen Bank Jakarta Mengakselerasi QRIS di Ibu Kota

MUS • Saturday, 25 Jul 2026 - 20:50 WIB

DI BALIK riuh suara tawar-menawar dan geliat aktivitas pasar tradisional Jakarta, sebuah transformasi sunyi namun berdampak masif sedang berlangsung. Sentuhan teknologi digital, perlahan mengubah wajah transaksi pedagang kaki lima hingga kios-kios pedagang pasar. Dari Pasar Mayestik di Jakarta Selatan hingga Pasar Koja di Jakarta Utara, denting uang tunai dan kembalian koin makin berganti dengan pindaian kode QRIS yang cepat, aman, dan transparan.

Transformasi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan langkah nyata menjadikan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berdaya saing. Komitmen itu dibuktikan dengan capaian impresif: Jakarta kini menyumbang sekitar 38 persen dari total transaksi QRIS secara nasional. Seluruh 153 pasar yang dikelola Pemprov DKI Jakarta melalui Perumda Pasar Jaya telah mengadopsi sistem pembayaran digital, melayani lebih dari 422.000 pelaku UMKM di seluruh wilayah ibu kota.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan lompatan digitalisasi ini lahir dari kolaborasi erat antara pemerintah daerah, otoritas keuangan, dan perbankan.

"Transaksi QRIS Jakarta sekarang sudah mencapai 38 persen dari transaksi nasional. Ini berkat kerja sama sinergis antara Bank Indonesia, OJK, serta perbankan yang terus mendorong seluruh pasar rakyat di Jakarta. Digitalisasi adalah keniscayaan, dan dengan melombakan pasar serta perbankannya, kita melihat lonjakan transaksi yang sangat signifikan," ujar Pramono.

Digitalisasi, kata Pram, tidak hanya mempercepat arus uang, tetapi juga membawa dampak sosial yang nyata bagi keamanan dan kenyamanan ekosistem pasar.

"Salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta adalah digitalisasi. Dengan digitalisasi, potensi tindak kejahatan berkurang, keamanan meningkat, dan pusat-pusat perdagangan seperti Pasar Tanah Abang bisa kembali hidup bergelora. Penggunaan QRIS di pasar percontohan meningkat hampir 47 persen, kepemilikan NPWP pedagang naik signifikan, dan transaksi e-commerce melonjak lebih dari 40 persen," tegas Pramono.

Inovasi dan Apresiasi bagi Bank Jakarta

Sebagai BUMD sektor perbankan, Bank Jakarta berada di garda terdepan dalam mendukung akselerasi ekosistem keuangan digital tersebut. Komitmen nyata Bank Jakarta terbukti dalam ajang Lomba Digitalisasi Pasar, sebuah inisiatif kolaboratif Pemprov DKI Jakarta, Perumda Pasar Jaya, Bank Indonesia, dan OJK.

Dalam ajang yang diikuti oleh berbagai bank nasional tersebut, Bank Jakarta sukses mengukir prestasi gemilang dengan meraih tiga kategori penghargaan sekaligus: Mitra Perbankan Terbaik Kategori Pasar B (Pasar Koja), Mitra Perbankan Terbaik Kategori Pasar A (Pasar Mayestik), serta Mitra Bank Literasi Keuangan Terbaik Kedua.

BACA JUGA: Wagub Rano Karno Apresiasi Bank Jakarta Dukung Anugerah Jurnalistik MHT 2026

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, mengungkapkan bahwa penghargaan ini menjadi pemicu untuk terus memperluas akses keuangan inklusif bagi para pedagang dan UMKM.

"Kami memandang digitalisasi pasar tradisional sebagai bagian vital dari transformasi ekosistem keuangan Jakarta. Upaya ini tidak hanya menghadirkan kemudahan transaksi melalui QRIS dan mesin EDC, tetapi juga membuka pintu bagi pelaku UMKM untuk masuk ke dalam sistem keuangan formal. Bank Jakarta berkomitmen menjadikan digitalisasi sebagai fondasi utama pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan," jelas Agus.

Dampak positif dari pendampingan Bank Jakarta dirasakan langsung oleh pengelola dan pedagang pasar. Kepala Pasar Mayestik, Dewi Ratna Furi, menyambut baik langkah intensif yang dilakukan Bank Jakarta sebagai mitra utama pasar yang dikelolanya.

"Kolaborasi antara Pasar Mayestik dan Bank Jakarta merupakan langkah yang sangat strategis. Digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar pasar tradisional tetap relevan, nyaman, dan berdaya saing di tengah era ekonomi digital," kata Dewi.

Menuju Ekosistem Keuangan Digital Berkelanjutan

Langkah akselerasi di pasar tradisional ini sejalan dengan visi besar Bank Indonesia dalam memperluas ekosistem ekonomi digital ibu kota melalui berbagai program, seperti QRIS Jelajah Indonesia dan literasi keuangan inklusif.

Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menilai transformasi pembayaran digital di pasar tradisional merupakan pilar penting dalam memperkuat struktur ekonomi Jakarta.

"Sinergi lintas institusi—mulai dari Bank Indonesia, Pemprov DKI, OJK, hingga sektor perbankan seperti Bank Jakarta—menjadi fondasi penting dalam mempercepat inklusi keuangan dan meningkatkan daya saing ibu kota menuju kota global yang kreatif, inklusif, dan berkelanjutan," papar Iwan.

Menatap masa depan, Bank Jakarta menegaskan komitmennya untuk tidak berhenti pada ajang perlombaan semata, melainkan terus mengawal perluasan QRIS dan digitalisasi di seluruh pasar tradisional Jakarta.