Menyulap Ruang Residu Menjadi Oase Hijau: Urban Farming Palmerah Hadirkan Ketahanan Pangan dan Harapan Baru bagi Warga

MUS • Friday, 24 Jul 2026 - 15:25 WIB

Jakarta Barat – Di tengah padatnya kawasan permukiman perkotaan, keterbatasan lahan sering kali dianggap sebagai hambatan untuk menghadirkan ruang hijau maupun memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Namun, anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh sekelompok akademisi dan masyarakat di RW 011 Kelurahan Palmerah, Jakarta Barat, melalui sebuah inovasi yang mengubah ruang residu menjadi kawasan Urban Farming Vertical Hydroponic yang produktif, edukatif, sekaligus menjadi ruang interaksi sosial bagi warga.

Program ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Mercu Buana yang diketuai oleh Nadia Resita Christantia, S.T., M.T. bersama tim pelaksana yaitu Lelo M.Ds., dan Dian Ekaputri, S.T., M.Ars., beserta mahasiswa Arsitektur Khaylla Alicia Putri dan M. Biagi Albian. 

Program tersebut mengusung gagasan bahwa ruang-ruang sisa di kawasan perkotaan tidak seharusnya menjadi area terbengkalai, melainkan dapat dikembangkan menjadi ruang produktif yang memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Berawal dari Ruang Terlupakan

RW 011 Palmerah merupakan salah satu kawasan permukiman dengan kepadatan tinggi di Jakarta Barat. Kondisi tersebut menyebabkan hampir tidak tersedianya ruang terbuka hijau. Satu-satunya ruang yang masih memungkinkan untuk dikembangkan adalah area rooftop Mushola Al-Hikmah seluas sekitar 100 meter persegi yang sebelumnya hanya dimanfaatkan untuk aktivitas sederhana dan belum memiliki fungsi yang optimal.

Melihat kondisi itu, tim pengabdian bersama masyarakat menggagas pemanfaatan rooftop sebagai taman aktif dan kawasan urban farming berbasis hidroponik. Konsep ini tidak hanya bertujuan menghadirkan ruang hijau, tetapi juga membangun pusat pembelajaran masyarakat mengenai pertanian perkotaan sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Kolaborasi Akademisi dan Masyarakat

Keberhasilan program tidak terlepas dari pendekatan partisipatif yang diterapkan sejak awal. Kelompok PKK dan Dasawisma dilibatkan sebagai mitra utama dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah, penyusunan konsep, pelatihan, pembangunan fasilitas, hingga pengelolaan kebun hidroponik secara mandiri.

Melalui proses ini, masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai penerima manfaat semata, melainkan sebagai pelaku utama yang memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan program.

Tahapan kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya pemanfaatan ruang residu, dilanjutkan dengan pelatihan teknik budidaya hidroponik, pembangunan instalasi, pendampingan rutin, monitoring, hingga pembentukan kelompok pengelola urban farming yang akan menjalankan program secara berkelanjutan.

Teknologi Tepat Guna untuk Lahan Terbatas

Salah satu keunggulan program ini adalah penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang mudah diterapkan oleh masyarakat. Pada rooftop Mushola Al-Hikmah dibangun instalasi Deep Flow Technique (DFT) dengan kapasitas sekitar 528 titik tanam. Sistem ini memanfaatkan aliran nutrisi secara terus-menerus sehingga penggunaan air menjadi jauh lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

Selain instalasi hidroponik, kawasan tersebut juga dilengkapi dengan: rak hidroponik bertingkat, kanopi paranet sebagai pelindung tanaman, area taman aktif, fasilitas pendukung ruang publik, sistem pencatatan dan pengelolaan digital sederhana.

Seluruh teknologi dirancang agar mudah dipelajari oleh masyarakat serta memiliki biaya operasional yang relatif rendah sehingga dapat direplikasi di lingkungan lain.

Program ini tidak berhenti pada kegiatan bercocok tanam. Masyarakat juga memperoleh pelatihan mengenai: pengelolaan usaha mikro, pencatatan keuangan sederhana, strategi pemasaran digital, penggunaan Microsoft Excel, Canva, WhatsApp, Instagram,hingga marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan SayurBox untuk memasarkan hasil panen.

Pendekatan itu diharapkan mampu membuka peluang usaha baru berbasis hasil urban farming sehingga kegiatan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga meningkatkan pendapatan keluarga.

Dari Rooftop Menjadi Ruang Berkumpul

Transformasi ruang residu ternyata menghadirkan dampak yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan sayuran. Rooftop yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini berkembang menjadi ruang publik baru tempat warga berkumpul, berdiskusi, belajar, bergotong royong, hingga melaksanakan berbagai kegiatan sosial.

Keberadaan taman aktif tersebut memperkuat interaksi antarwarga sekaligus meningkatkan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
Melalui aktivitas bersama dalam merawat tanaman, masyarakat juga mulai membangun budaya peduli lingkungan yang selama ini sulit diwujudkan di kawasan perkotaan dengan keterbatasan ruang terbuka.

Program ini menunjukkan hasil yang nyata.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap kapasitas masyarakat. Pengetahuan peserta mengenai urban farming meningkat sekitar 40 persen, sementara sekitar 80 persen peserta telah mampu melakukan penataan taman, mengoperasikan instalasi hidroponik, serta memanfaatkan aplikasi digital sederhana untuk mendukung pengelolaan hasil panen dan administrasi kegiatan.

Mendukung Ketahanan Pangan dan SDGs

Program urban farming ini sejalan dengan berbagai agenda pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya: SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan).

Selain meningkatkan akses masyarakat terhadap sayuran sehat, program ini juga membuka peluang ekonomi berbasis rumah tangga, memperbaiki kualitas lingkungan permukiman, serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun kota yang lebih tangguh terhadap tantangan perubahan lingkungan

Menuju Model Pemberdayaan Perkotaan

Hingga laporan kemajuan disusun, pelaksanaan program telah mencapai sekitar 80 persen dari keseluruhan target kegiatan. Tahapan berikutnya akan difokuskan pada penguatan kelembagaan kelompok urban farming, peningkatan produksi hasil panen, pengembangan produk olahan bernilai tambah, serta perluasan jejaring pemasaran agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat

Ke depan, model pemberdayaan berbasis urban farming yang dikembangkan di RW 011 Palmerah diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik bagi kawasan perkotaan lain di Indonesia. Dengan mengoptimalkan ruang-ruang yang selama ini terabaikan, masyarakat membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk membangun lingkungan yang hijau, sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, ruang residu yang dahulu dipandang sebagai sisa pembangunan kini telah bertransformasi menjadi simbol harapan baru bagi ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat perkotaan.