Semangat Transmigran, Wamtrans: Jadi Inspirasi Tim Ekspedisi Patriot 2026 Bangun Kawasan Produktif

AKM • Tuesday, 21 Jul 2026 - 16:01 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamtrans) Viva Yoga Mauladi

BOGOR – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamtrans) Viva Yoga Mauladi menegaskan bahwa program transmigrasi telah membuktikan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Menurutnya, kawasan yang semula berupa hutan maupun rawa kini berkembang menjadi wilayah produktif berkat kerja keras para transmigran.

Pernyataan tersebut disampaikan Viva Yoga saat menghadiri pelepasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di Aula FMIPA IPB University, Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (21/7/2026). Acara pelepasan TEP 2026 turut dihadiri Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet, Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship Dr. Handian Purwawangsa, serta jajaran pimpinan IPB University..

Viva Yoga berharap kehadiran para peneliti dan mahasiswa melalui program TEP dapat mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi berbasis riset dan inovasi.

"Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Kawasan Transmigrasi Telang di Banyuasin, Sumatera Selatan. Kawasan tersebut kini menjadi sentra tanaman padi dan bahkan mendapat predikat sebagai daerah penghasil beras tertinggi di Indonesia," kata Viva Yoga.

Perjuangan Para Transmigran

Menurut dia, pengalaman Kawasan Transmigrasi Telang menunjukkan bahwa perjuangan para transmigran dalam mengubah kehidupan mampu menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan daerah. Oleh karena itu, keterlibatan kalangan akademisi diharapkan dapat memperkuat proses pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi.

Viva Yoga menjelaskan, TEP 2026 merupakan kelanjutan dari program yang telah dijalankan pada tahun sebelumnya. Pada 2025, sebanyak 2.000 peneliti yang terdiri atas guru besar, dosen, peneliti, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi untuk memetakan potensi sumber daya alam dan kelembagaan ekonomi.

"Tahun ini peserta diperluas dengan bergabungnya Universitas Brawijaya dan Universitas Hasanuddin," ujarnya.

Pada pelaksanaan tahun 2026, Kementerian Transmigrasi mengirimkan 246 tim dengan total 1.230 anggota ke 53 kawasan transmigrasi. Lokasi tersebut meliputi 41 Kawasan Prioritas Nasional, dua Kawasan Prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan prioritas di Papua.

Khusus dari IPB University, sebanyak 150 peserta diterjunkan, terdiri atas 25 ketua tim dan 125 anggota. Mereka akan melaksanakan kegiatan di sejumlah kawasan transmigrasi, antara lain Salor di Kabupaten Merauke, Papua Selatan; Selaut di Kabupaten Simeulue, Aceh; Brunang-Selaut dan Muara Takung-Kamang Baru di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat; Batu Petumpang di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung; serta Barelang di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Viva Yoga berharap para mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai dinamika kehidupan masyarakat transmigrasi.

"Di sana mereka akan melihat bagaimana perjuangan warga transmigrasi mengubah nasibnya. Seiring perjalanan waktu, kehidupan mereka menjadi lebih sejahtera dan pendapatannya meningkat," tuturnya.

Ia mencontohkan hasil kunjungan kerjanya ke kawasan transmigrasi di Kabupaten Bungo, Jambi, di mana para transmigran yang mengembangkan perkebunan kelapa sawit berhasil meningkatkan taraf hidup keluarga sejak ditempatkan pada 1982.

"Mereka kini hidup lebih berkecukupan dan mampu menyekolahkan anak-anaknya," katanya.

Lebih lanjut, Viva Yoga menyebut para transmigran memiliki kontribusi besar dalam membuka wilayah baru dan mendorong pemerataan pembangunan. Jika pada masa lalu mereka dikenal sebagai pahlawan pembangunan, kini mereka disebut sebagai "Patriot Bangsa" karena perannya dalam membangun kawasan transmigrasi.

Menurut dia, keberhasilan sejumlah kawasan transmigrasi juga mendorong meningkatnya minat pemerintah daerah untuk membuka kawasan baru. Hingga saat ini, Kementerian Transmigrasi telah menerima 61 usulan dari pemerintah kabupaten yang menginginkan pembentukan kawasan transmigrasi di wilayahnya.

"Ada daerah yang masih terisolasi sehingga biaya menuju ke sana bahkan lebih mahal dibandingkan perjalanan ke Jakarta. Melalui program transmigrasi, persoalan keterisolasian itu diharapkan dapat diatasi sehingga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat," pungkas Viva Yoga.