Meretas Pikiran, Mencuri Data, dan Alasan Mengapa Kita Masih Mudah Tertipu di Era Digital?

MUS • Tuesday, 23 Jun 2026 - 17:20 WIB

Oleh: Muhammad Kurnia
Mahasiswa Program Doktoral Universitas Padjajaran Jatinangor
 

HAMPIR setiap minggu, disadari atau tidak, kita selalu mendengar berita tentang kebocoran atau pencurian data. Mulai dari peretasan server yang berskala besar, hingga yang paling dekat dengan keseharian kita yaitu pesan WhatsApp berkedok kurir paket, undangan pernikahan digital, atau peringatan pemblokiran rekening bank. 

Anehnya, meski pemerintah sudah beranggapan bahwa mereka sudah aktif menyuarakan literasi digital tentang UU PDP tahun 2022 atau Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, korban masih terus berjatuhan dari berbagai lapisan masyarakat. 

Tidak hanya orang-orang di pelosok yang menjadi korban, namun orang-orang kota yang mengadopsi teknologi juga tidak luput dari incaran. Pertanyaannya, mengapa orang yang berpendidikan dan melek teknologi sekalipun bisa dengan mudah menyerahkan data pribadi atau mengklik tautan berbahaya?

Jawabannya mungkin bukan hanya terdapat pada bagaimana peretas menggunakan teknologi, melainkan juga pada bagaimana otak orang-orang atau korban memproses informasi.

Untuk memahami mengapa korban mudah tertipu, kita bisa membedahnya melalui kacamata ilmu komunikasi, tepatnya melalui Elaboration Likelihood Model (ELM) yang digagas oleh Richard Petty dan John Cacioppo. Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki dua "jalan raya" di otaknya saat menerima sebuah pesan. Jalur yang pertama adalah Jalur Pusat (Central Route) dan jalur yang kedua adalah Jalur Tepi (Peripheral Route).

Apa yang menentukan manusia, khususnya korban untuk memilih jalur mana yang akan digunakan oleh otaknya? Untuk menentukan jalur mana yang akan digunakan oleh otak, terdapat dua hal yang dapat menentukkan, yaitu motivasi dan kemampuan kognitif.

Jalur Pusat, aktif ketika seseorang mempunyai motivasi tinggi dan waktu yang cukup untuk mencerna informasi. Di jalur ini, kita atau seseorang akan seperti detektif yang sedang memecahkan sebuah kasus. Kita akan mengecek fakta, mencari celah logika, dan menimbang risiko. 

Namun sebaliknya, kita akan menggunakan Jalur Tepi ketika kita sedang tidak punya banyak waktu, malas, atau kapasitas berpikir sedang menurun. Alih-alih menganalisis substansi dari pesan, otak kita cenderung mengambil "jalan pintas". Kita bereaksi berdasarkan isyarat dangkal (cues) seperti hanya mempertanyakan apakah ada logo resmi? Apakah desainnya meyakinkan? Atau, apakah ini menguntungkan secara instan?

Masalahnya, otak manusia pada dasarnya pelit energi. Jika bisa lewat jalur tepi yang cepat dan tidak menguras pikiran, otak akan cenderung secara otomatis memilih jalur tersebut. Di sinilah celah yang biasa dimanfaatkan para pencuri data. Mereka tahu persis cara memaksa otak kita pindah dari Jalur Pusat ke Jalur Tepi. Salah satu senjata paling ampuh para pencuri data saat ini bukanlah lagi ancaman, melainkan iming-iming keuntungan instan.

Mari kita ambil contoh yang sangat sering terjadi, Anda tiba-tiba mendapat pesan WhatsApp berisi, "Selamat! Anda terpilih mendapat giveaway berupa 1 unit mobil dengan harga Rp 500 Juta dari Bank Central Asia. Klik tautan ini untuk klaim, selanjutnya akan ada pihak kami yang menghubungi untuk konfirmasi. Jika dalam waktu 1x24 jam Ibu/Bapak tidak mengklik tautan, maka hadiah akan diberikan kepada nasabah lain yang beruntung.”

Bagi seorang penipu, pesan ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Jika dibedah, frasa "waktu 1x24 jam" dan "nasabah lain yang beruntung" sengaja dirancang untuk menciptakan desakan waktu (urgency). Saat merasa terburu-buru, kemampuan otak untuk mencerna informasi secara logis langsung anjlok. Kita mematikan Jalur Pusat karena tidak lagi punya waktu untuk mengecek apakah tautan tautan tersebut resmi atau hanya link phishing.

Di saat yang bersamaan, hadiah "1 unit mobil dengan harga Rp. 500 juta rupiah” dan logo Bank Central Asia (BCA) besar bertindak sebagai isyarat periferal yang sangat menggiurkan. Iming-iming uang cepat ini memicu rasa takut tertinggal (FOMO) dan euforia berlebih. Dalam kondisi terburu-buru dan tergiur, korban sepenuhnya berfikir menggunakan Jalur Tepi. Kewaspadaan menghilang begitu saja. 

Ketika tautan tersebut diklik dan korban diarahkan ke situs palsu yang meminta mereka mengisi formulir. Biasanya informasi yang diminta dimulai dari nama ibu kandung, nomor rekening, PIN, hingga kode OTP (dengan alasan verifikasi pencairan dana). Tidak sedikit korban yang memberikan semua informasi tersebut tanpa curiga. 

Pencurian data pun berhasil secara sempurna. Sang korban menyerahkan semua kunci brankas digitalnya bukan karena sistem keamanannya diretas secara teknis, melainkan karena rasionalitasnya telah dibutakan oleh iming-iming instan di jalur periferal.

Memahami kejahatan siber melalui lensa teori ini menyadarkan kita bahwa sistem pertahanan terkuat sebenarnya ada di dalam pikiran kita sendiri. Literasi digital tidak boleh berhenti pada imbauan untuk memakai password yang rumit, tetapi juga harus melatih disiplin kognitif.

Jadi, menurut pendapat saya, ke depan, setiap orang harus memiliki tameng terbaik untuk dirinya sendiri. Kita dapat memulai dengan melatih kebiasaan untuk "memaksa" otak kembali ke Jalur Pusat saat menerima pesan digital apa pun yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Berhenti sejenak, ambil napas, dan tanyakan pada diri sendiri: "Apakah ini logis?" Di era di mana data adalah aset yang paling berharga, jeda lima detik untuk berpikir kritis bisa menyelamatkan kita dari kerugian seumur hidup.