
Makassar - Pengelolaan sampah masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Merujuk data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, total timbulan sampah nasional pada tahun 2024 telah mencapai 36,08 juta ton.
Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan peran berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis riset dan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata di masyarakat.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai penghasil inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, hilirisasi riset menjadi langkah penting untuk memastikan hasil penelitian dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan bahwa hilirisasi riset merupakan langkah penting agar hasil penelitian yang dikembangkan di perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian nasional dan menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi diharapkan dapat mengambil peran dalam menghadirkan solusi melalui riset dan teknologi,” ujar Wamen Fauzan saat meninjau fasilitas Sustainable Waste Solution Center milik perguruan tinggi di Makassar, Sabtu (20/06).
Wamen Fauzan mengapresiasi langkah Unismuh Makassar yang berhasil mengembangkan model pengelolaan sampah yang memiliki nilai tambah dan potensi kebermanfaatan bagi masyarakat. Merujuk data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, total timbulan sampah di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2024 sudah menyentuh angka 1,21 juta ton.
Melalui model pengolahan berbasis riset ini diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam mereduksi volume sampah regional secara signifikan.
“Yang paling penting adalah bagaimana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat diolah menjadi produk yang lebih fungsional dan bernilai guna. Inilah wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,” ungkap Wamendiktisaintek.
Inovasi pengolahan sampah yang dikembangkan melalui metode _Sustainable Waste Solutions Center_ (SWSC). SWSC telah dikembangkan sebagai pusat pengelolaan sampah berkelanjutan, yang mencakup pemilahan sampah dari sumbernya, penguatan bank sampah, pengurangan plastik sekali pakai, pengolahan sampah organik melalui komposter dan maggot, serta pengembangan produk kreatif dari sampah anorganik. Melalui sistem tersebut, sampah tidak lagi dipahami sebagai beban akhir, tetapi bagian dari ekonomi sirkular yang dapat memberi manfaat ekologis dan ekonomi.
Sistem pemilahan sampah sejak dari sumbernya, baik di fakultas, lembaga, asrama, maupun unit-unit kerja di lingkungan kampus. Sampah dipilah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, anorganik, residu, dan bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga volume sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir dapat diminimalkan.
Kemudian sampah organik diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, seperti kompos, eco enzyme, pakan maggot, hingga sabun dan lilin berbahan dasar minyak jelantah. Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui mekanisme bank sampah yang melibatkan sivitas akademika sebagai nasabah dan didukung kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar.
Selain berfungsi sebagai pusat pengelolaan sampah, fasilitas tersebut juga menjadi sarana edukasi lingkungan bagi mahasiswa melalui keterlibatan relawan yang tergabung dalam Eco Ranger. Berbagai produk hasil daur ulang, seperti ecobrick, kerajinan berbahan plastik dan kertas bekas, hingga lilin dari minyak jelantah, menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus menumbuhkan budaya keberlanjutan di lingkungan kampus.