Berpikir Komputasional Sejak PAUD, Fondasi Baru Cetak Generasi Unggul Indonesia 2045

AKM • Thursday, 18 Jun 2026 - 15:00 WIB
Dialog Penguatan Kemampuan Berpikir Komputasional dengan Pembicara diantaranya Dosen Magister PAUD Universitas Panca Sakti Bekasi Irma Yuliantina (Kanan)

Jakarta – Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia kini tidak lagi hanya berfokus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Perhatian mulai diarahkan sejak usia dini, terutama setelah pemerintah menerapkan kebijakan wajib belajar 13 tahun yang memasukkan satu tahun pendidikan prasekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

Di tengah transformasi tersebut, penguatan kemampuan Berpikir Komputasional (Computational Thinking) mulai dipandang sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun generasi yang mampu menghadapi tantangan abad ke-21. Kemampuan ini dinilai tidak berkaitan dengan penguasaan teknologi semata, melainkan cara berpikir logis, sistematis, kreatif, dan terampil dalam memecahkan masalah.

Akademisi Universitas Panca Sakti Bekasi, Irma Yuliantina, mengatakan masih banyak masyarakat yang memahami Berpikir Komputasional sebagai pembelajaran komputer atau pemrograman bagi anak-anak. Padahal, konsep tersebut justru dapat diterapkan melalui aktivitas bermain yang sesuai dengan karakteristik pendidikan anak usia dini.

"Berpikir Komputasional membentuk generasi yang mampu berpikir logis, kreatif, dan memecahkan masalah secara efisien melalui permainan. Jadi bukan mengajarkan anak menjadi programmer sejak dini," ujar Irma dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (18/6).

Menurutnya, hasil penelitian yang dilakukan selama tiga tahun pada 36 PAUD mitra Djarum Foundation di Kabupaten Kudus menunjukkan bahwa pendekatan Berpikir Komputasional dapat diintegrasikan dengan kurikulum nasional, termasuk Kurikulum Merdeka.

Melalui berbagai aktivitas sederhana yang berpusat pada anak, kemampuan mengenali pola, mengelompokkan informasi, menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah, hingga mengambil keputusan dapat mulai dibangun sejak usia prasekolah.

Irma menegaskan bahwa penerapan metode tersebut tidak bergantung pada fasilitas sekolah yang mewah ataupun perangkat digital yang canggih. Yang terpenting adalah kreativitas guru dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang mendorong anak berpikir secara sistematis.

"Tujuan utamanya adalah memperkuat keterampilan berpikir tingkat tinggi sejak dini. Kemampuan ini nantinya menjadi fondasi bagi pengembangan literasi membaca, numerasi, hingga sains pada jenjang pendidikan berikutnya," katanya.

Tantangan di Lapangan

Meski potensinya besar, implementasi Berpikir Komputasional di tingkat PAUD masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah belum tersedianya panduan nasional yang secara khusus mengatur penerapan konsep tersebut dalam pembelajaran anak usia dini.

Selain itu, kemampuan guru dalam memahami dan menerapkan Berpikir Komputasional masih beragam. Keterbatasan pelatihan dan akses terhadap sumber belajar juga menjadi kendala yang menyebabkan kualitas implementasi berbeda antarwilayah.

Irma menilai penguatan kapasitas guru menjadi faktor paling menentukan keberhasilan program tersebut.

"Masih ada tantangan dari sisi sistem karena belum tersedia panduan nasional khusus. Pelatihan guru dan akses sumber pembelajaran juga masih terbatas. Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan kualitas layanan PAUD di berbagai daerah," ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, akademisi, orang tua, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar implementasi Berpikir Komputasional dapat berjalan optimal.

Sejalan dengan Arah Kebijakan Nasional

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikdasmen, Kurniawan, menjelaskan bahwa penguatan keterampilan abad ke-21 sebenarnya telah menjadi bagian dari arah kebijakan pendidikan nasional sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 37 Tahun 2018 yang memperkuat muatan informatika pada pendidikan dasar dan menengah.

Namun pada jenjang PAUD, implementasi Berpikir Komputasional masih dilakukan secara kontekstual melalui aktivitas bermain, eksplorasi, dan pemecahan masalah yang sesuai dengan perkembangan anak.

Kurniawan mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah bersama DPR tengah membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas), yang salah satu substansinya adalah penguatan wajib belajar 13 tahun, termasuk satu tahun pendidikan prasekolah.

"Sejalan dengan penguatan keterampilan abad ke-21, integrasi Berpikir Komputasional pada jenjang PAUD dikenalkan melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini, dengan dukungan penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas guru, penyediaan sumber belajar, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan," kata Kurniawan.

Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, mulai dari beragamnya pemahaman guru, keterbatasan sumber daya pendidikan, belum optimalnya sistem asesmen, hingga kesenjangan akses pendidikan antarwilayah.

Meski demikian, berbagai praktik baik yang telah berjalan di lapangan dinilai dapat menjadi model pengembangan ke depan. Salah satunya program penguatan kompetensi guru PAUD yang melibatkan akademisi dan lembaga penyelenggara pelatihan.

Kurniawan menyebut program yang digagas Irma Yuliantina dan tim telah menjangkau sedikitnya 6.491 guru PAUD di Kabupaten Kudus dan berbagai daerah lain di Indonesia.

"Praktik baik seperti ini perlu terus direplikasi agar semakin banyak anak Indonesia memperoleh manfaat dari penguatan kemampuan berpikir sejak usia dini," ujarnya.

Investasi Pendidikan Jangka Panjang

Sementara itu, Ketua Umum Forum Kebijakan Publik Indonesia (FKPI), Trubus Rahardiansah, menilai investasi pendidikan paling strategis memang harus dimulai sejak usia dini apabila Indonesia ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia unggul tidak hanya membutuhkan pemerataan akses pendidikan, tetapi juga transformasi metode pembelajaran yang mampu menyiapkan generasi adaptif terhadap perubahan zaman.

"Pemerintah sudah memiliki Visi Indonesia 2045 yang menempatkan peningkatan kualitas SDM sebagai prioritas. Karena itu, penguatan Berpikir Komputasional perlu masuk dalam agenda peningkatan mutu PAUD secara nasional," kata Trubus.

Ia menambahkan, keberadaan payung kebijakan yang jelas akan memudahkan pemerintah mengalokasikan anggaran, menyusun panduan teknis, serta memperluas implementasi Berpikir Komputasional ke berbagai satuan PAUD di seluruh Indonesia.

Dengan semakin kuatnya dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, penguatan kemampuan berpikir sejak usia dini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran PAUD, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi peningkatan literasi, numerasi, dan daya saing generasi muda Indonesia di masa depan.

"Apa yang ditanamkan di ruang-ruang PAUD hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia beberapa dekade mendatang." Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari cara anak-anak belajar berpikir sejak usia paling awal.