Muswil VII KAHMI, Viva Yoga Kenang Proses Kaderisasi HMI dan Pentingnya Nilai Toleransi

AKM • Sunday, 14 Jun 2026 - 16:43 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi (Istimewa)

Denpasar – Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, mengenang perjalanan organisasinya saat menjadi pembicara utama dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VII KAHMI Bali di Denpasar, Sabtu (13/6). Di hadapan kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia menegaskan identitasnya sebagai kader yang dibentuk melalui proses perkaderan di HMI Cabang Denpasar.

Dalam paparannya, Viva Yoga mengisahkan perjalanan awalnya berorganisasi di Bali, termasuk mengenang sejumlah ketua umum HMI Cabang Denpasar dari berbagai periode sebelum dirinya turut dipercaya memimpin cabang tersebut.

“Saya kader HMI Cabang Denpasar,” ujarnya.

Menurut Viva Yoga, pengalaman berorganisasi di Bali memberikan pelajaran penting yang membentuk cara pandangnya hingga saat ini. Sebagai mahasiswa Muslim yang hidup di tengah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu,.

"Saya banyak belajar mengenai pentingnya sikap inklusif dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat," ungkapnya.

Ia mengatakan, nilai-nilai tersebut diperoleh tidak hanya melalui aktivitas organisasi, tetapi juga dari interaksi dengan berbagai elemen masyarakat, organisasi kemahasiswaan, dan tokoh agama di Bali. Salah satu sosok yang disebut berpengaruh dalam proses pembentukan karakter tersebut adalah Habib Adnan Soenaryo, yang menurutnya banyak menanamkan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat yang harmonis.

“Nilai-nilai inklusivitas dan toleransi sangat penting karena kita hidup berdampingan dengan berbagai kelompok masyarakat,” kata Viva Yoga.

Ia menjelaskan, semangat keislaman yang terbuka dan sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan telah lama menjadi bagian dari Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. Karena itu, menurutnya, kader HMI dibentuk untuk memiliki cara pandang yang moderat dan mampu beradaptasi dalam kehidupan sosial yang majemuk.

Dalam kesempatan tersebut, Viva Yoga juga menceritakan tahapan kaderisasi yang pernah dijalaninya, mulai dari Basic Training di HMI Denpasar, Intermediate Training di HMI Cabang Mataram, hingga Advance Training yang diselenggarakan Badan Koordinasi HMI Jawa Barat di Bandung.

Ia menilai proses kaderisasi tersebut memberikan bekal yang bermanfaat dalam perjalanan kariernya, baik ketika menjadi anggota DPR, anggota MPR, maupun saat menjabat sebagai Wakil Menteri Transmigrasi.

Selain berbagi pengalaman pribadi, Viva Yoga turut mengingatkan para alumni yang tergabung dalam Korps Alumni HMI (KAHMI) untuk terus memberikan perhatian terhadap proses pembinaan kader muda HMI.

Keberadaan KAHMI tidak hanya menjadi wadah silaturahmi alumni, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung pengembangan kapasitas kader dan keberlangsungan organisasi.

“KAHMI dibentuk untuk menghimpun para alumni yang berada di berbagai bidang kehidupan sekaligus membantu pengembangan intelektual dan proses perkaderan HMI,” ujarnya.

Viva Yoga juga mengaku terus mengikuti perkembangan HMI di Bali meskipun telah lama meninggalkan Pulau Dewata. Ia menyambut positif berkembangnya organisasi tersebut, termasuk keberadaan HMI di Singaraja yang kini telah berstatus cabang penuh.

Menurutnya, perkembangan itu menunjukkan semakin luasnya ruang kaderisasi HMI di Bali. Ia berharap ke depan organisasi tersebut dapat terus tumbuh dan hadir di lebih banyak kabupaten sehingga mampu menjangkau lebih banyak mahasiswa dalam proses pembinaan kepemimpinan dan intelektualisme.

Muswil VII KAHMI Bali menjadi ajang konsolidasi para alumni HMI di wilayah tersebut sekaligus forum untuk membahas peran organisasi dalam menjawab berbagai tantangan sosial, pendidikan, dan kebangsaan di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.