Indonesia Tertinggal di ASEAN soal Bahasa Inggris, Kemunculan Penulis Cilik Jadi Sorotan

AKM • Wednesday, 10 Jun 2026 - 21:53 WIB
Peluncuran serial buku Diary of Alya karya Putri Alya Sidik, siswi berusia sembilan tahun

JAKARTA – Rendahnya kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia kembali menjadi perhatian setelah laporan English Proficiency Index (EPI) 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-80 dari 123 negara dengan skor 471 atau masuk kategori kecakapan rendah.

Di kawasan Asia, posisi Indonesia berada di urutan ke-12 dan masih tertinggal dari sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia dan Filipina.

Isu tersebut mengemuka dalam peluncuran serial buku Diary of Alya karya Putri Alya Sidik, siswi berusia sembilan tahun dari Delima School Jakarta yang berhasil menulis tiga buku berbahasa Inggris berjudul My School is My Second HomeI Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Guru Bahasa Inggris sekaligus editor buku Alya, Wahyu Kusnadi, menilai rendahnya kemampuan bahasa Inggris siswa Indonesia tidak lepas dari kebijakan pendidikan yang selama bertahun-tahun menempatkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan di tingkat sekolah dasar.

"Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mewajibkan bahasa Inggris di jenjang SD. Akibatnya banyak sekolah tidak menyelenggarakan pelajaran ini karena keterbatasan tenaga pengajar," kata Wahyu kepada Media, Jakarta, Senin (8/6).

Menurut pengajar yang telah 17 tahun mengajar bahasa Inggris itu, meski Kurikulum Merdeka mulai mengarah pada penguatan pembelajaran bahasa Inggris, masa transisi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama ketersediaan guru yang memiliki kompetensi memadai.

"Pemerintah perlu mempercepat penyediaan tenaga pengajar bahasa Inggris yang berkualitas untuk sekolah dasar. Selain itu, akses terhadap buku bacaan berbahasa Inggris yang sesuai kurikulum juga perlu diperluas karena harganya relatif mahal," ujarnya.

Kemunculan Alya sebagai penulis cilik dinilai menjadi contoh bahwa kemampuan berbahasa asing dapat dikembangkan sejak usia dini melalui pembiasaan membaca dan menulis.

Penulis Cilik 

Principal Delima School Jakarta, Ferris Affan, mengatakan meningkatnya jumlah penulis cilik yang menghasilkan karya dalam bahasa Inggris tidak terlepas dari berkembangnya sekolah dwibahasa, kemajuan teknologi digital, dan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya literasi.

"Kami mewajibkan siswa sekolah dasar menggunakan bahasa Inggris dalam aktivitas belajar sehari-hari, termasuk para pendidiknya. Ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sejak usia dini," katanya.

Menurut Ferris, kemampuan bahasa Inggris saat ini bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan salah satu kompetensi penting yang dibutuhkan generasi muda untuk bersaing di tingkat global.

Di tengah masih rendahnya indeks kecakapan bahasa Inggris Indonesia, hadirnya penulis cilik seperti Alya menunjukkan bahwa penguatan literasi dan kemampuan berbahasa asing dapat dimulai sejak bangku sekolah dasar apabila mendapat dukungan dari keluarga, sekolah, dan lingkungan belajar yang tepat.