PMPP TNI Gandeng SyaREA World Latih 500 Perwira dan Pengusaha Kelola Keuangan tanpa Utang

ANP • Wednesday, 10 Jun 2026 - 12:06 WIB
Pelatihan Praktis Cara Cerdas Kelola Uang (CCKU) diikuti lebih dari 500 peserta dari kalangan TNI, dan mitra lintas institusi keamanan/pertahanan, aparat pemerintah, dan pengusaha.

JAKARTA - Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI bekerja sama dengan SyaREA World menggelar pelatihan praktis Cara Cerdas Kelola Uang (CCKU)  di Bogor akhir pekan lalu. Pelatihan tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari kalangan TNI, pemerintah, aparat keamanan dan  pengusaha. Program itu mengusung tema besar “Bela Negara Melalui Kedaulatan Ekonomi”,  yang menandai perluasan makna bela negara dari semata pertahanan fisik menuju penguatan ketahanan ekonomi keluarga dan individu.

Kegiatan Bela Negara ini didukung penuh oleh Zeberline, kelompok usaha penyedia energi fosil dan terbarukan di tanah air. Selain itu sejumlah brand besar seperti GEA-Gerai Emas Logam Mulia, Turrima AgroTech dan belasan entitas bisnis yang berkumpul di dalam komunitas SyaREA World juga turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program penguatan karakter dan ketahanan sipil itu.

Peserta pelatihan CCKU berasal dari PMPP TNI dan mitra lintas institusi seperti BAIS TNI, Pusdikzi, Lanud Atang Sanjaya, Mabes TNI, Kementerian Pertahanan, Universitas Pertahanan dan BNPT serta BNPP. Selain itu hadir juga perwakilan dari pemerintah dan aparat keamaan yakni Forkopimda Kota dan Kabupaten Bogor, Korem 061, perwakilan Kodim, dan kepolisian. Jumlah mereka lebih dari 300  peserta, dan sisanya adalah anggota komunitas SyaREA World yang merupakan para pengusaha anti riba.

*Bela Negara Tak Lagi Sekadar Urusan Senjata*

Pelatihan CCKU di PMPP TNI ini menegaskan bahwa kedaulatan ekonomi dipandang sebagai bagian dari ketahanan nasional, dan penguatan literasi keuangan keluarga menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas bangsa. Komandan PMPP TNI Mayjen TNI Iwan Bambang Setiawan, S.I.P., menjelaskan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pertahanan fisik, tetapi juga oleh ketangguhan ekonomi keluarga.

Iwan menambahkan bahwa tujuan kegiatan tersebut adalah agar para aparatur pertahanan dan keamanan negara turut belajar bagaimana membangun kedaulatan ekonomi dan terbebas dari jerat utang.

“Di sisi ekonomi kita juga ingin merdeka. Dan kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang karena informasi dan pembelajaran yang kita dapatkan bisa mengubah langkah ke depan agar lebih berhati-hati sehingga anak cucu juga selamat di masa mendatang,” katanya.

Menurut Mayjen Iwan, literasi keuangan merupakan bagian dari implementasi bela negara di era modern. Ketahanan bangsa berawal dari ketahanan individu dan keluarga. Karena itu, keluarga yang tangguh secara ekonomi menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan nasional.  Sebaliknya, ketergantungan terhadap utang yang tidak terkendali serta rendahnya literasi keuangan dapat memunculkan kerentanan sosial dan ekonomi yang berdampak lebih luas.

PMPP TNI juga menyoroti empat kelompok ancaman nonmiliter yang perlu diwaspadai Indonesia saat ini, yakni disinformasi, serangan siber, penyalahgunaan teknologi digital, serta berbagai tantangan ekonomi dan sosial yang dapat melemahkan persatuan, stabilitas, dan daya saing bangsa. Karena itu diperlukan masyarakat yang cerdas, tangguh, dan adaptif, termasuk keluarga besar PMPP TNI, sebagai bagian dari implementasi bela negara di era modern.

*Mengatur Arus Kas, Melunasi Utang, Menyusun Masa Depan*

Program CCKU dirancang agar peserta tidak berhenti pada teori. Dalam sesi pelatihan, peserta langsung berlatih menyusun rencana keuangan pribadi dan keluarga, memetakan arus kas, mengevaluasi strategi pelunasan utang, serta menyusun perencanaan masa depan finansial yang lebih kuat tanpa bergantung pada skema berbasis utang.

“Urusan keuangan tidak ada hubungannya dengan besar kecilnya penghasilan. Problem keuangan banyak disebabkan oleh kesalahan pengelolaan uang,” tegas dr. Karmono Sutadi, Sp.A., fasilitator SyaREA World.

Menurutnya, pengelolaan keuangan membutuhkan aturan dan disiplin, bukan sekadar kemampuan memperoleh pendapatan. Tanpa tata kelola yang baik, seseorang rentan terjebak pada kebiasaan berutang yang menimbulkan kecanduan, memperberat beban hidup, merusak relasi sosial, hingga mendorong tindakan ekstrem.

Ia mengingatkan bahwa dampak buruk utang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kehidupan sosial dan psikologis seseorang. Utang yang tidak terkendali dapat memutus persaudaraan dan persahabatan, menghilangkan ketenangan rumah tangga, menutup peluang merencanakan masa depan, bahkan dalam sejumlah kasus mendorong seseorang mengambil jalan pintas yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di hadapan peserta, dr. Karmono juga mengingatkan bahwa banyak krisis negara memiliki keterkaitan dengan persoalan utang dan tata kelola ekonomi. Ia mencontohkan kasus Yunani, Zimbabwe, Sri Lanka, dan Nigeria sebagai pengingat bahwa ketergantungan utang dan keputusan ekonomi yang buruk dapat menggerus kedaulatan ekonomi.

“Indonesia jangan sampai mengalami hal yang sama. Karena itu kami berusaha melakukan edukasi, bukan hanya kepada komunitas, tetapi kalau bisa kepada bangsa ini. Jebakan utang adalah bentuk neo-imperialisme ekonomi. Tidak ada satu pun dari kita yang rela kedaulatan negeri ini tergadai karena utang,” ujarnya.

Menurutnya, edukasi keuangan merupakan salah satu bentuk kontribusi warga negara dalam memperkuat ketahanan bangsa. SyaREA World memandang bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam bela negara sesuai kapasitas dan bidang yang dikuasainya.

*Tiga Prinsip Menahan Overspending*

Dalam materi pelatihan, peserta diperkenalkan pada tiga prinsip dasar agar tidak terjebak overspending. Ketiga prinsip tersebut adalah survival yaitu dengan mendahulukan kebutuhan dasar atau yang benar-benar esensial. Kedua better life, di mana setiap pengeluaran idealnya membuat kualitas hidup lebih baik. Dan terakhir, getting more money,  pengelolaan uang harus membuka peluang peningkatan pendapatan dan produktivitas, bukan sekadar konsumsi.

Peserta juga diajak memahami bahwa penyelesaian utang  masa lalu merupakan prasyarat penting untuk menyusun masa depan yang sehat, baik secara finansial maupun moral.

SyaREA World menyatakan bahwa mayoritas anggota komunitasnya telah berhasil keluar dari utang konsumtif dan membangun pertumbuhan usaha melalui penguatan arus kas (cash flow), bukan ketergantungan pada utang. Pendekatan ini dijadikan studi kasus praktis dalam pelatihan untuk menunjukkan bahwa ekspansi usaha dapat dilakukan secara bertahap melalui disiplin pengelolaan kas, efisiensi, dan penguatan profitabilitas.

Selain aspek teknis keuangan, sesi penutup pelatihan menekankan “arti kehidupan” sebagai fondasi tata kelola keuangan. Para peserta diajak untuk memahami asal-usul manusia, tujuan hidup di dunia, dan arah setelah kehidupan dunia. 

Menurut fasilitator, kejelasan tujuan hidup membantu seseorang mengambil keputusan finansial yang lebih selaras dengan nilai, tanggung jawab keluarga, dan keberlanjutan jangka panjang. Dengan demikian, pengelolaan keuangan tidak hanya menjadi instrumen mencapai kesejahteraan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih terarah, bermakna, dan berdaya tahan.