Outflow Exchange XRP Melonjak 300%, Bisakah Harga Hindari Breakdown?

ANP • Monday, 1 Jun 2026 - 18:34 WIB

JAKARTA - Pergerakan harga XRP kembali menjadi perhatian pasar crypto menjelang akhir Mei 2026. Di tengah tekanan teknikal yang masih bearish, data on-chain justru menunjukkan sinyal berbeda. Arus keluar XRP dari exchange melonjak lebih dari 300% hanya dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan trader: apakah tekanan beli tersebut cukup kuat untuk menyelamatkan chart XRP dari potensi breakdown besar di bawah US$1?

Di tengah tingginya aktivitas pasar crypto global, banyak investor Indonesia juga mulai aktif memantau pergerakan USDT to IDR untuk menghitung nilai transaksi aset digital dan potensi keuntungan investasi secara lebih akurat.

Selain aset crypto, sebagian investor juga mulai memperhatikan aset safe haven dan mencari informasi terkait harga perak hari ini sebagai bagian dari strategi diversifikasi di tengah volatilitas market global yang masih tinggi.

Salah satu aplikasi yang cukup populer untuk membeli aset crypto di Indonesia adalah Pintu. Platform ini menyediakan berbagai aset digital populer seperti XRP, Bitcoin, dan Ethereum, sekaligus fitur edukasi yang membantu investor memahami market crypto, analisis teknikal, serta data on-chain secara lebih mendalam.

XRP Masih Tertekan Pola Bearish

Secara teknikal, XRP saat ini masih berada dalam tekanan pola head and shoulders bearish pada time frame 12 jam.

Pola tersebut mulai terbentuk sejak awal Maret 2026 ketika shoulder kiri muncul, kemudian dilanjutkan pembentukan head pada pertengahan Maret, dan shoulder kanan selesai terbentuk pada pertengahan Mei.

Dalam analisis teknikal, pola head and shoulders sering dianggap sebagai sinyal pembalikan bearish yang berpotensi memicu penurunan harga lebih dalam. Saat ini, garis neckline pola tersebut berada di sekitar area US$1,18.

Pada 23 Mei, XRP sempat turun menuju area US$1,30 sebelum akhirnya memantul kembali. Walaupun demikian, risiko breakdown masih tetap ada selama harga belum berhasil kembali naik di atas area shoulder kanan.

Jika neckline di area US$1,18 berhasil ditembus secara meyakinkan, pola tersebut memproyeksikan potensi penurunan sekitar 18%. Artinya, harga XRP berpotensi turun menuju area US$1,01 hingga US$0,96 apabila tekanan jual semakin besar.

Data On-Chain Beri Sinyal Berbeda

Menariknya, kondisi bearish di chart justru bertolak belakang dengan data on-chain terbaru. Berdasarkan data Glassnode melalui indikator Exchange Net Position Change, arus keluar XRP dari exchange mengalami lonjakan besar sejak pertengahan Mei.

Pada 15 Mei, metrik tersebut mencatat sekitar -7,1 juta XRP. Namun, pada 24 Mei, jumlahnya meningkat drastis menjadi sekitar -29,3 juta XRP. Artinya, arus keluar XRP dari exchange naik lebih dari 300% hanya dalam sembilan hari.

Dalam analisis on-chain, outflow besar dari exchange biasanya dianggap sebagai sinyal bullish. Ketika investor memindahkan aset keluar dari exchange, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka cenderung menyimpan aset untuk jangka lebih panjang dibanding menjualnya dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut juga mengurangi pasokan XRP yang tersedia di market sehingga tekanan jual dapat berkurang.

Tekanan Beli Mulai Menguat

Arus keluar exchange yang konsisten menunjukkan bahwa tekanan beli XRP mulai meningkat. Jika tren ini terus berlangsung, supply XRP yang tersedia untuk dijual di exchange akan semakin berkurang.

Dalam kondisi tertentu, berkurangnya supply dapat membantu harga bertahan meskipun market secara teknikal masih menunjukkan pola bearish. Karena itu, banyak trader saat ini melihat XRP berada dalam fase tarik-menarik antara tekanan jual teknikal dan akumulasi investor besar.

Jika akumulasi terus berlangsung, peluang XRP bergerak sideways atau bahkan rebound masih cukup terbuka. Namun, jika tekanan beli mulai melemah sementara support teknikal ditembus, skenario bearish dapat kembali mendominasi market.

Data Derivatif Perkuat Potensi Sideways

Selain data on-chain, indikator derivatif XRP juga mulai menunjukkan perubahan penting. Data Santiment memperlihatkan bahwa open interest XRP turun dari sekitar US$1 miliar menjadi US$914 juta sejak pertengahan Mei.

Penurunan open interest biasanya menunjukkan berkurangnya aktivitas leverage di market futures. Selain itu, funding rate posisi long juga turun cukup signifikan dari 0,008% menjadi sekitar 0,003%.

Penurunan funding rate sebesar 62% ini berarti trader mulai mengurangi penggunaan leverage long secara agresif. Kondisi tersebut sebenarnya cukup positif karena mengurangi risiko terjadinya long liquidation besar yang dapat mempercepat penurunan harga.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, market crypto sering mengalami breakdown tajam akibat terlalu banyak posisi long leverage yang akhirnya terkena likuidasi berantai. Namun, kondisi XRP saat ini justru menunjukkan leverage mulai lebih sehat.

Area Penting XRP yang Harus Diperhatikan

Walaupun tekanan beli mulai meningkat, XRP tetap berada di area yang sangat krusial secara teknikal. Saat ini, level US$1,34 dan US$1,28 menjadi support jangka pendek yang harus dipertahankan.

Jika kedua area tersebut ditembus, risiko penurunan menuju neckline di sekitar US$1,18 akan semakin besar. Area US$1,18 sendiri menjadi level paling penting karena merupakan titik konfirmasi pola head and shoulders bearish.

Jika candle 12 jam berhasil ditutup di bawah level tersebut, maka peluang penurunan menuju US$1,01 hingga US$0,96 akan semakin terbuka. Target bearish utama saat ini berada di level Fibonacci 1,618 sekitar US$1,01.

Namun, di sisi lain, apabila XRP berhasil rebound dan naik kembali di atas US$1,55, tekanan bearish akan mulai melemah. Bahkan, penutupan candle 12 jam di atas US$1,60 berpotensi membatalkan pola head and shoulders secara keseluruhan.

XRP Sedang Ada di Persimpangan Besar

Saat ini, XRP berada dalam kondisi yang cukup unik karena sinyal teknikal dan data on-chain bergerak berlawanan arah. Chart menunjukkan potensi breakdown bearish, tetapi data on-chain memperlihatkan adanya tekanan beli dan akumulasi yang cukup kuat.

Situasi seperti ini biasanya membuat market bergerak dalam fase sideways yang tegang sebelum akhirnya menentukan arah besar berikutnya.

Jika outflow exchange terus meningkat dan buyer berhasil mempertahankan support penting, XRP masih memiliki peluang untuk menghindari breakdown besar. Namun, apabila tekanan beli mulai melemah sementara market kembali dipenuhi leverage long agresif, risiko penurunan di bawah US$1 dapat kembali meningkat.

Investor Tetap Perlu Kelola Risiko

Walaupun XRP masih memiliki peluang rebound, investor tetap harus memahami bahwa market crypto sangat volatil dan dapat berubah cepat. Sentimen global, pergerakan Bitcoin, regulasi crypto, hingga kondisi ekonomi Amerika Serikat masih menjadi faktor yang mempengaruhi arah market secara keseluruhan.

Karena itu, penggunaan manajemen risiko dan strategi investasi yang disiplin tetap sangat penting. Platform seperti Pintu juga dapat membantu investor Indonesia memantau pergerakan harga XRP secara real-time sekaligus mempelajari data market melalui fitur edukasi crypto yang tersedia.

Memasuki akhir Mei 2026, XRP kini berada di salah satu fase paling menentukan tahun ini. Lonjakan outflow exchange hingga 300% memberi harapan bahwa tekanan beli masih cukup kuat.