Science x AI Summit 2026. Profesor Sutanto Dorong Asia Jadi Pemain Utama dalam Era Baru Kecerdasan Buatan

AKM • Monday, 1 Jun 2026 - 12:12 WIB
Dalam Science x AI Summit 2026, Profesor Pak Sutanto menilai masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh pengembang teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan industri di berbagai kawasan, termasuk Asia.

Silicon Valley, AS – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah berbagai sektor kehidupan, suara dari Asia dinilai semakin penting dalam menentukan arah perkembangan teknologi global. Hal tersebut disampaikan Profesor Pak Sutanto saat menghadiri Science x AI Summit 2026 di Silicon Valley, Amerika Serikat, pada 12 Mei 2026.

Forum internasional tersebut mempertemukan akademisi, perusahaan teknologi, investor, peneliti, hingga pelaku industri untuk membahas integrasi antara sains dan kecerdasan buatan, serta peluang pemanfaatannya di berbagai bidang.

Menurut Profesor Sutanto, perkembangan AI saat ini telah memasuki fase baru. Jika sebelumnya persaingan berfokus pada pembangunan model AI berskala besar, maka tahap berikutnya akan lebih ditentukan oleh kemampuan teknologi tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.

"Perkembangan awal AI modern memang banyak didorong oleh perusahaan teknologi, penyedia komputasi awan, dan industri chip di Amerika Serikat. Namun ke depan, keberhasilan AI akan semakin ditentukan oleh bagaimana teknologi ini mampu menjawab kebutuhan nyata di berbagai sektor industri dan masyarakat," ujar Sutanto dalam keterangannya.

Ia menilai Asia memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Dengan jumlah penduduk yang besar, keragaman bahasa, budaya, sistem pendidikan, serta kebutuhan industri yang berbeda-beda, kawasan Asia dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan penerapan AI di masa depan.

"Asia tidak hanya memiliki pasar yang besar, tetapi juga memiliki beragam skenario penggunaan AI yang sangat kompleks. Kompleksitas inilah yang justru dapat menjadi kekuatan dalam mendorong inovasi dan pengembangan teknologi yang lebih relevan," katanya.

Pola Pengembangan AI 

Dalam kesempatan itu, Sutanto menegaskan bahwa negara-negara Asia, khususnya di Asia Tenggara, tidak seharusnya sekadar mengikuti pola pengembangan AI yang lahir di Silicon Valley.

"Kita tidak perlu hanya menjadi peniru. Pengembangan AI di Asia harus dibangun berdasarkan kebutuhan lokal, budaya masyarakat, struktur industri, dan kondisi sumber daya manusia yang kita miliki," ujarnya.

Menurutnya, pendekatan yang terlalu bergantung pada model yang dikembangkan di negara lain berisiko menghasilkan teknologi yang kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

"Setiap wilayah memiliki tantangan dan prioritas yang berbeda. Karena itu, strategi pengembangan AI juga harus disesuaikan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat," tambahnya.

Selama konferensi berlangsung, berbagai topik menjadi perhatian peserta, mulai dari penerapan AI dalam matematika, ilmu hayati, pengembangan obat-obatan, simulasi fisika, sistem pengambilan keputusan cerdas, hingga implementasi teknologi tersebut di sektor industri.

Sutanto mengatakan diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa AI kini bergerak melampaui batas laboratorium penelitian dan perusahaan teknologi besar.

"Yang menarik dari forum ini adalah bagaimana AI mulai dipandang sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan nyata di berbagai bidang. Fokusnya tidak lagi semata pada teknologi itu sendiri, tetapi pada dampak yang bisa dihasilkan bagi masyarakat," katanya.

Ia juga menyoroti besarnya peluang Asia untuk berkontribusi lebih aktif dalam ekosistem AI global, bukan hanya sebagai pengguna teknologi.

"Asia seharusnya tidak hanya menjadi konsumen AI. Kita harus menjadi peserta aktif yang ikut membentuk arah perkembangan teknologi ini," ujar Sutanto.

Menurutnya, sektor pendidikan, kesehatan, keuangan, manufaktur, hingga tata kelola perkotaan di berbagai negara Asia menawarkan ruang yang luas untuk pengembangan dan penerapan AI.

"Dari pendidikan dan penelitian ilmiah hingga layanan kesehatan dan manufaktur, Asia memiliki banyak contoh penggunaan AI yang nyata. Pengalaman dari berbagai sektor tersebut dapat membantu mempercepat adopsi teknologi sekaligus mendorong penyempurnaan model dan sistem AI secara berkelanjutan," katanya.

Lebih lanjut, ia menilai industri AI global saat ini mulai bergerak dari persaingan ukuran model menuju persaingan kemampuan sistem secara menyeluruh.

"Di masa mendatang, yang akan menjadi pembeda bukan hanya siapa yang memiliki model terbesar, tetapi siapa yang mampu membangun ekosistem, talenta, data, dan aplikasi yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat," ujarnya.

Karena itu, Pak Sutanto menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ilmu dalam mendukung perkembangan AI yang inklusif.

"Kolaborasi akan menjadi kunci. Tidak ada satu negara atau satu institusi yang dapat membangun masa depan AI sendirian. Kita membutuhkan kerja sama antara akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas global," katanya.

Partisipasi Profesor Sutanto dalam Science x AI Summit 2026 mencerminkan semakin meningkatnya keterlibatan akademisi dan pengamat industri dari Asia dalam berbagai forum internasional terkait kecerdasan buatan. Kehadiran tersebut sekaligus menunjukkan besarnya peluang bagi kawasan Asia untuk berkontribusi dalam pengembangan talenta AI, riset ilmiah, serta inovasi teknologi yang semakin berperan dalam transformasi ekonomi dan sosial global.